UPDATE NEWS

...

Monday, 22 July 2019 10:00

Keutamaan BerQurban Kambing | YDSF

Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah sunnah muakad bagi umat muslim. Yang mana dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah di tahun hijriyah. Qurban berasal dari bahasa Arab yakni quroba, artinya dekat. Sehingga yang dimaksudkan adalah melalui berqurban dapat mendekatkan kita kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah berikut ini:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (Qs. Al Hajj (22): 34).

Sedangkan hewan qurban yang disyariatkan terdapat tiga jenis. Yaitu, unta, sapi (atau kerbau), dan domba (atau kambing gibas). Karena ketiganya memiliki jenis dan harga yang berbeda, maka berbeda pula keutamaan pahalanya.

Sebenarnya, hal tersebut (dalil yang berkaitan) merupakan janji Allah untuk mereka yang datang pada shalat jumat. Semakin awal, maka semakin besar pula pahala yang ia raih. Rasulullah bersabda:

مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً

Artinya:

“Siapa yang berangkat Jum’at di awal waktu, maka dia seperti berqurban dengan unta. Siapa yang berangkat Jum’at di waktu kedua, maka dia seperti berqurban dengan sapi. Siapa yang berangkat Jum’at di waktu ketiga, maka dia seperti berqurban dengan kambing gibas yang bertanduk. Siapa yang berangkat Jum’at di waktu keempat, maka dia seperti berqurban dengan ayam. Siapa yang berangkat Jum’at di waktu kelima, maka dia seperti berqurban dengan telur.” (HR. Bukhari & Muslim).

Seringkali kita dapati kebingungan antara berqurban dengan sapi patungan atau kambing (domba). Karena biasanya, selisih harganya tak berbeda jauh. Namun, sudah tahukah kita bahwa berqurban dengan kambing utuh lebih diutamakan dibanding berqurban dengan sapi patungan.

Contoh Studi Kasus

Kasus:

Budi memiliki rezeki yang bisa digunakan untuk ikut membayar qurban. Hanya saja, Budi bingung antara akan membayar untuk sapi patungan ataukah kambing. Bagaimana yaa?

Jawaban:

Menurut sebagian ulama mengatakan bahwa qurban dengan satu kambing/domba lebih baik daripada urunan/patungan sapi atau unta.

الأفضل من الأضاحي : الإبل ، ثم البقر إن ضحى بها كاملة ، ثم الضأن ، ثم المعز ، ثم سُبْع البدنة ، ثم سبع البقرة

Artinya:

“Qurban yang paling afdhal adalah onta, lalu sapi, jika qurbannya utuh (tidak urunan), kemudian domba, kemudian kambing jawa, kemudian sepertujuh onta, kemudian sepertujuh sapi.” (Ibnu Utsaimin dalam Ahkam al-Udhhiyah)

Dalam urutannya, memang utamanya unta, sapi, baru kambing/domba. Namun, hal tersebut berlaku bila biaya pengadaannya dilakukan sendiri (utuh bukan patungan). Karena dalam biaya pengadaannya untuk sapi patungan dapat dibebankan kepada 7 orang, atau dinilai 1/7. Sedangkan untuk unta patungan, biaya pengadannya dapat dibebankan kepada 10 orang, atau dinilai sebanyak 1/10.

Pilih Qurban Sesuai Kemampuan

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al Hajj (22): 37).

Tujuan utama dalam berqurban adalah sebagai perwujudan taqwa kepada Allah Swt. Bukan untuk mencari daging ataupun menghitung darah sembelihan. Sehingga dalam berqurban perlu kembali menguatkan dan meluruskan niat. Serta tak lupa pula harus sesuai kemampuan. Jangan sampai karena gengsi ingin berqurban, justru malah menjadi terbebankan. (Ayu SM)

 

 

Baca Juga:

Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF

 

Makna Qurban dalam Islam | YDSF

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF

5 Hajat Asasi Manusia Menurut Islam | YDSF 

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF

Hakikat dan Keutamaan Silaturahim

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF

Amalan Ringan Berpahala Besar | YDSF

Share: