UPDATE NEWS

...

Wednesday, 26 June 2019 10:00

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Seorang bocah merengek, ingin memiliki seekor kupu-kupu yang indah. Oleh sang kakek diajaknya si cucu ke sebuah taman bunga. Di sana banyak kupu-kupu.

Tiba di taman bunga, segera saja bocah itu berjalan mengendap menuju seekor kupu-kupu yang hinggap di atas kelopak bunga. Tangan bocah itu menjulur pelan. Hup.... Kupu-kupu yang diincar telah kembali terbang.

Bocah itu tak putus asa. Didekatinya kupu-kupu lain. Pelan sekali berjalan. Sewaktu jarak sudah dekat, tangannya menjulur sangat pelan. Napasnya ditahan. Ia tak mau gagal lagi. Tapi, kupu-kupu kedua pun terbang.

Bocah itu kecewa. Usahanya selalu gagal. Maka diambilnya jaring penangkap kupu-kupu. Keruan saja kupu-kupu di taman bunga itu beterbangan pergi dari taman yang indah itu karena ketakutan. Dengan kesal bocah laki-laki itu kembali kepada kakeknya yang duduk menunggu.

Alangkah terkejutnya ia melihat sang kakek menyambutnya dengan tersenyum. Di tangan sang kakek tergenggam seekor kupu-kupu yang sangat indah.

“Kakek, bagaimana kakek bisa mendapat kupu-kupu itu?” tanya sang cucu.

“Kalau kau mampu memberikan keharuman maka kupu-kupu akan datang tanpa pernah kau mengejarnya,” jawab sang kakek sambil tetap tersenyum.

Pembaca budiman, setiap orang pasti menginginkan kehidupan bahagia. Tetapi kejadiannya mirip dengan kisah di atas. Kebahagiaan yang kita buru selalu saja terbang menjauh. Semakin keras kita mengejarnya, semakin jauh kebahagiaan itu menghindar. Kebahagiaan itu seperti pelangi yang selalu ada di atas kepala orang lain. Di tempat yang tampaknya menjadi wilayah kebahagiaan ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan saat kita sampai di sana.

Hari ini sebagian orang mengira bahwa sumber kebahagiaan itu adalah kepemilikan. Mereka melakukan apa saja hanya untuk menambah daftar hal yang menjadi milik mereka. Berbagai upaya pun dilakukan, tanpa peduli dengan rambu-rambu halal haram. Tetapi apakah semua itu akan berhasil mengantarkan kepada dermaga kebahagiaan? Belum tentu!

Berbagi untuk Meraih Kebahagiaan

Mari tengok ajaran Islam yang kita yakini kebenarannya. Tidak satu pun ayat dan hadits yang menganjurkan kepada kita untuk menumpuk kepemilikan. Sebaliknya, banyak ayat dan hadits yang menganjurkan memberikan milik kita kepada orang lain. Kalau saja kepemilikan akan mengantarkan kepada kebahagiaan sudah pasti agama kita akan menekankan perlunya kepemilikan.

Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Lail ayat 5-10:

فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ‏ ﴿۵﴾ وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ‏ ﴿۶﴾ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ‏ ﴿۷﴾ وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ‏ ﴿۸﴾ وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ‏ ﴿۹﴾ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ‏ ﴿۱۰)۰

 

Artinya : “Maka barangsiapa memberikan (harta di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).Dan ada pun orang yang kikir dan merasa cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)”.

Amat jelas pesan ayat di atas. Siapa yang memberi akan dimudahkan untuk meraih kebahagiaan. Sedangkan orang-orang yang pelit justru akan sengsara kehidupannya. Tetapi banyak orang yang berpikir sebaliknya. Mereka cenderung mengumpulkan segala hal agar bisa dimiliki dan dikuasai. Mereka enggan berbagi kepada sesama.

Padahal kepemilikan hanya akan mendatangkan kesenangan, bukan kebahagiaan. Seorang laki-laki yang memiliki istri cantik akan merasa senang, tapi akankah ia berbahagia? Belum tentu. Sudah banyak kasus yang menjadi bukti bahwa pasangan suami istri yang berwajah tampan dan cantik terpaksa harus berpisah. Mereka tidak bahagia.

Seseorang yang memiliki rumah mewah akan merasa senang, tapi akankah rumah mewah mendatangkan kebahagiaan? Betapa banyak pemilik rumah mewah yang justru meninggalkan rumahnya dan memilih tidur di hotel pada saat liburan.

Tentu saja kesenangan dan kebahagian adalah dua hal yang baik. Tetapi selayaknya kebahagiaan lebih diutamakan daripada kesenangan. Kesenangan tidak selalu berujung pada kebahagiaan. Orang yang bahagia akan mudah mendapatkan kesenangan. Yang lebih penting di dalam kebahagiaan ada kepuasan dan ketenangan.

Dan jalan terpendek menuju dermaga kebahagiaan adalah dengan cara berbagi kepada sesama. Seseorang yang memberi bukan hanya akan mendapatkan kebahagiaan, tetapi ia akan mendapatkan balasan kesenangan. Pemberi tidak akan pernah kehilangan, tapi justru akan menerima balasan lebih banyak. Para pelaku bisnis akan cenderung mencari partneryang memberikan lebih dari apa yang didapat.

Akibatnya, justru omzet bisnis para pemberi akan melonjak karena banyak pelaku bisnis lain yang mau bekerjasama dengannya. Rumah makan yang memberi lebih banyak dibanding apa yang dibayar konsumen pasti akan mendapatkan pelanggan lebih banyak ketimbang rumah makan yang pelit.

Demikian pula di bidang-bidang lainnya. Orang-orang besar yang namanya harum dikenang sepanjang masa adalah pribadi-pribadi pemberi yang hebat. Mereka rela memberikan waktu, tenaga, dan harta untuk orang lain.

Mari buka riwayat kehidupan Panglima Jendral Soedirman. Dengan kondisi fisik yang lemah karena penyakit Tuberculosis (TBC) beliau tetap turun ke medan perang, berjuang demi nusa dan bangsa. Ketika perbekalan hampir habis, beberapa prajurit menyarankan agar meminta bantuan kepada penduduk. Beliau kemudian memerintahkan ajudan untuk menemui istrinya di rumah. Sang Panglima meminta istrinya menyerahkan seluruh perhiasan yang dimiliki untuk dijual guna membiayai peperangan.

Percayalah, orang yang hidup untuk diri sendiri tidak akan pernah menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Namanya tidak akan pernah dikenang oleh sejarah.*

 

Oleh : Awang Surya
*Penulis dan Motivator Spiritual

Editor: Ayu SM

 

Baca Juga:

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF

Hakikat dan Keutamaan Silaturahim

Semangat Ramadhan Selepas Idul Fitri

Mendahulukan Qada’ Puasa, Lalu Puasa Syawal | YDSF

Keutamaan Puasa Syawal | YDSF

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF

Amalan Ringan Berpahala Besar | YDSF

Share: