UPDATE NEWS

...

Friday, 7 June 2019 10:00

Hakikat dan Keutamaan Silaturahim

Perjalanan kehidupan sering kali naik turun. Tidak selamanya hubungan kita dengan orang-orang dekat baik-baik saja. Ada banyak peristiwa di luar kendali kita.

Pun akan ada banyak kejadian yang bisa memutuskan ikatan keluarga dan kekerabatan. Karena kesalahpahaman seseorang bisa bertengkar dengan keluarga. Hingga akhirnya membuat putusnya ikatan batin yang selama ini terjalin baik.

Di zaman sekarang, amat jarang seseorang yang semenjak kecil hingga meninggal tinggal di satu daerah saja. Sebagian besar kita tidak lahir di kota yang sekarang ini menjadi tempat tinggal kita. Itu artinya, sebagian besar dari kita terpisah dengan keluarga dan kerabat. Karena kesibukan, semakin lama ikatan kasih sayang antar keluarga dan kerabat itu semakin hilang. Tidak jarang akhirnya ikatan itu benar-benar terputus.

Islam sangat menekankan pentingnya menyambung silaturahim dan sangat mencela perilaku memutus silaturahim. Banyak ayat dan hadits, baik langsung atau tidak langsung, menyebutkan pentingnya memelihara silaturahim. Di antaranya adalah sabda Rasulullah saw. berikut ini.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Hakikat silaturahim

Kata silaturahim, atau yang sering dilafalkan silaturahmi, berasal dari Bahasa Arab. Kata ini terdiri dari dua kata yaitu shilah yang berarti menyambung dan ar-rahim yang berarti kasih sayang. Maka secara sederhana silaturahim bisa diartikan sebagai tindakan untuk menyambung kasih sayang.

Dengan mencermati makna asalnya, menjadi jelas maksud dari silaturahim adalah menghubungkan kembali ikatan kasih sayang. Sudah pasti sesuatu yang disambung itu adalah dua hal yang terputus atau terpisah. Jika sesuatu itu tidak terpisah maka tidak perlu disambungkan.

Maka sebenarnya silaturahim adalah tindakan kita untuk menyambung hubungan dengan orang-orang yang pernah terputus, baik karena ada masalah atau terputus karena jarak dan kesibukan. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr.

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا 

Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)

Namun sayangnya, di masyarakat kita yang terjadi tidak demikian. Pada momen-momen hari raya Idul Fitri banyak di antara kita yang mendatangi kerabat atau keluarga yang selama ini sudah baik hubungannya.

Sementara dengan orang-orang yang sedang bermasalah karena sedang terjadi perselisihan misalnya, justru tidak didatangi. Pada kasus seperti ini sebenarnya tidak masuk kategori silaturahim yang sebenarnya, meskipun tindakan memelihara hubungan baik itu juga merupakan sebuah perbuatan baik.

Keutamaan Silaturahim

Sebagaimana kita yakini bersama bahwa segala perbuatan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasulullah pasti membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Demikian pula silaturahim. Dalam beberapa riwayat Rasulullah saw. menyampaikan fadhilah silaturahim.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَلَهُ فِيْ أَشَرِهِ فَلْيَصِلْ

Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pasti semua orang ingin umur panjang, terlebih lagi rezeki yang lapang. Tidak ada orang yang mau kekurangan rezeki. Untuk itulah setiap orang melakukan berbagai kegiatan. Mereka bekerja di berbagai profesi atau membuka aneka jenis usaha adalah dalam rangka mencari rezeki.

Serunya perjuangan mengais rezeki sering kali diungkapkan dengan kalimat yang sangat populer: memeras keringat membanting tulang demi mencari rezeki. Begitulah, pergulatan manusia di dalam mencari rezeki.

Bila kita memperhatikan kehidupan masyarakat pasti akan mendapatkan fenomena yang menarik. Fakta menunjukkan tidak selalu orang-orang yang bekerja keras mendapatkan rezeki lebih banyak dari pada mereka yang bekerja lebih santai. Juga tidak selalu orang-orang yang berpendidikan tinggi lebih mudah mengais rezeki ketimbang mereka yang tidak berpendidikan. Itulah misteri kehidupan.

Sebagai orang beriman, sudah semestinya kita mengembalikan semuanya kepada ajaran agama. Agama kita menyampaikan kabar melalui lisan Rasulullah saw. bahwa salah satu kiat untuk mempermudah mengais rezeki adalah menyambung silaturahim. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas sangat tegas menyampaikan hal itu.

Tidak terlalu sulit untuk melacak benang merah antara silaturahim dengan kemudahan rezeki. Setiap orang pasti lebih suka memberikan peluang kepada orang yang masih ada ikatan kekerabatan dengannya.

Jika Anda seorang atasan, siapakah orang yang paling Anda sukai untuk bekerja kepada Anda? Sudah pasti adalah orang-orang yang Anda ketahui asal-usulnya dengan baik. Dan itu salah satunya adalah orang-orang yang masih ada ikatan keluarga.

Demikian pula jika Anda seorang pengusaha, sudah barang tentu rekan usaha yang lebih dekat ikatan keluarganya dengan Anda adalah pilihan utama.

Tidak ada ruginya seseorang yang menyambung silaturahim. Malah berbagai kebaikan akan didapatkannya. Maka mari manfaatkan momen Idul Fitri untuk menyambung silaturahim. Dan tunggulah janji Allah kepada orang-orang yang menyambung silaturahim. Allah pasti tidak pernah ingkar janji.

 

Oleh: Awang Surya
(Penulis dan Motivator Islam Indonesia)

Editor: Ayu SM

 

Share: