UPDATE NEWS

...

Monday, 10 June 2019 10:00

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim

Keteladanan,  menjadi  kata  kunci  yang saya sepakati bersama istri dalam membangun  keluarga  surgawi, termasuk dalam menata disiplin dan kebiasaan baik kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik itu antara lain silaturrahim, kami  lebih banyak mengajak bukan menyuruh  apalagi menggertak.

Meskipun kami cukup sibuk, seperti mengurusi perusahaan A, asosiasi B, pengajian dan dakwah C, narasumber D,  dan lain sebagainya, kami masih bisa  memiliki waktu yang cukup untuk anak-anak.

Bahkan dari sela waktu yang ada, kami masih bisa  mengajak  anak-anak silaturrahim keluarga atau teman dekat, dilanjutkan belanja buku yang membuat mereka punya kemampuan literasi di atas rata-rata seusianya. Hasilnya, anak-anak selalu pernah menjadi juara pinjam buku terbanyak dikelasnya.

Apalagi untuk urusan silaturrahim ketika lebaran, kami selalu memprioritaskan hal ini ketika  bepergian, lebih-lebih ketika mudik lebaran. Kami pun begitu getol mengajak anak-anak kami  silaturrahim,  sebisa  mungkin  semua anak harus ikut tanpa terkecuali. Tak lupa kami menyampaikan manfaat-manfaat silaturrahim kepada mereka, yang di antaranya membuat bahagia, menambah rezeki, piawai bersyukur, dan memanjangkan usia.

Menanam Semangat Silaturrahim

Saat liburan ke luar kota, kami menyempatkan untuk mengunjungi saudara atau kolega yang tinggal di kota tersebut. Sedangkan, saat mudik lebaran lebih lagi, bisa dipastikan satu sampai dua hari habis  hanya untuk silaturrahim ke tetangga  kanan-kiri.  Dan tradisi itu terus berulang setiap mudik lebaran.

Tak  kurang harus berkunjung 10 keluarga istri dan 10 keluarga saya sendiri, ditambah dengan kolega, guru dan tokoh pesantren di kampung halaman, Takeran. Tidak  hanya  berkenalan,  tapi  kami  tanamkan pada anak-anak bagaimana adab terhadap orang tua atau pun yang dituakan, juga sikap tawadhu’ pada  ustadz/guru/kyai  yang  telah  mengukir kehidupan  kita,  hingga  sukses  seperti  sekarang ini. Tidak ada bekas guru/ustadz.

Semangat  silaturrahim  ini  diwariskan  ayah kami, Muslih Tamam (alm), sejak kecil. Huda kecil sering  diajak  silaturahim  oleh  Abah  Muslich walaupun  dengan  kendaraan  seadanya,  kadang naik  dokar,  pedati  (kereta  ditarik  sapi),  mobil pikap bersama muatan kambing atau naik motor butut berdua menempuh jarak sejauh lebih 150 km, Takeran-Rembang.

Bahkan  terkadang,  keluarga  yang  sudah lost contact pun  berusaha  kami  sambung kembali  silaturrahimnya.  Walaupun  mungkin sudah  puluhan  tahun  tidak  bertemu,  tapi  saat menyebut nama kakek-nenek kami, maka ikatan kekeluargaan kembali terjalin.

Meneladani semangat silaturrahim dari ayah kami inilah yang membuat kami meluangkan waktu untuk kumpul sekeluarga  lengkap  dengan  semua  anggotanya, meskipun saat ini kami tinggal di kota yang berbeda-beda.

Bertutur Agar Membekas

Selama perjalanan mudik, kami manfaatkan dengan  bercerita  nostalgia  saat  kecil  tinggal  di desa, lengkap dengan pahit-getir perjuangan dan asam-manis  kehidupan  yang  telah  kami  lakoni selama  ini. 

Sejak  saat  sekolah  di  kota  berjarak 10  km  dengan  bersepeda angin, kuliah di Yogya dengan  uang  kiriman  seadanya,  menapaki  awal berkeluarga dan meniti karir dari titik nol. Dan kami pesankan spirit kebaikan dan totalitas dalam  mengemban  amanah  apapun,  jangan mediocrity (biasa-biasa saja).

Pada kesempatan yang sama, sekaligus memberi  wejangan-wejangan tentang kerasnya kehidupan  dan  bekal  spiritual  yang  harus  anak-anak persiapkan. Karena saya yakin, denganbertutur maka apa yang keluar dari lisan kami bukanlah  merupakan teori atau rekaan belaka, tapi kisah  nyata. Dan bagi anak-anak kisah itu lebih berbekas dan mudah dicerna.

Lebih dari itu, kami melatih anak-anak untuk belajar  manajemen  waktu  dan  mengatur  skala prioritas,  ditengah agenda silaturrahim yang sangat banyak dan waktu yang sangat terbatas. Maklum, saat bekerja di percetakan koran, tidak ada  libur  panjang  meski  lebaran,  praktis  hanya tersedia waktu 3 hari 2 malam untuk menempuh rute standar Surabaya–Rembang-Madiun balik Surabaya. 

Dengan demikian anak-anak akan belajar dan memahami apa arti efisiensi, berbagi, berempati, dan berkoordinasi  yang  sangat  berguna bagi kehidupan mereka nantinya.

Memulai Kebersamaan dari Rumah

Karena  sudah  dibiasakan  kerja-bakti bersama  di  rumah,  maka  ketika  kami  bepergian lebaran pun otomatis berlaku sama, sigap bekerja sama.  Contohnya, saat  akan  pergi  mudik. Kami menunjuk  imam musafir, yang biasanya Wafi sebagai anak laki tertua sekaligus sopir, ada yang mengurusi  tetek  bengek  permobilan, ada yang mengurusi  barang  hantaran, koper keluarga, si bungsu Fauzan bagian jaga stock makanan selama perjalanan, dsb. Libur Lebaran pun bukan suatu hal  yang  rumit.  Karena  kami  memang  tidak tergantung dengan keberadaan pembantu atau kami biasa sebut asisten rumah tangga (ART).

Demikian  juga  ketika  beberapa  hari  di desa,  agar  tidak  ngrepoti  orangtua,  pagi-pagi kami mulai mengajak kerja bakti bersama dengan menanyakan jenis yang akan diambil. Misalnya, siapa cuci  mobil? Atau, siapa yang ke pasar?  Tak  lupa kami  melibatkan si  bungsu  Fauzan.  Meski ketika itu dia masih SD, dia kebagian menyala-mati-kan lampu  dan  membuka-tutup  korden.

Sambil membagi tugas, kami biasanya sudah memegang selang air dan bak air untuk cuci mobil, tanda kami sudah siap memberi contoh kerja bakti.

Mereka diajak dengan baik-baik, diberikan pilihan ‘mau mengerjakan apa’ dan diberi teladan.  Siapa yang tidak luluh hatinya jika semua hal dilakukan dengan cara ‘demokratis’ seperti ini?  Contoh, saat kami bilang,  “Abah sudah cuci mobil lho.” Apa iya, anak-anak yang tinggal numpang dan duduk dengan manis masih saja tega berpangku tangan?

 

Oleh: Misbahul Huda
(Founder Rumah Kepemimpinan Indonesia)

Editor: Ayu SM

 

Share: