UPDATE NEWS

...

Monday, 26 August 2019 10:00

Inilah 4 Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Secara Islami | YSDF

Kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil, buah, atau pahala. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Dalam bahasa Inggris pahlawan disebut “hero”, yaitu sosok legendaris yang memiliki kekuatan luar biasa, keberanian dan kemampuan hebat. Hero adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membantu kaum yang lemah.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala, berjasa, berguna, karena hasil pemikiran atau perbuatannya memberikan kemanfaatan bagi orang lain, atau berdampak positif secara luas. Pemikiran atau perbuatan para pahlawan dinilai mulia dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, negara atau umat manusia, dalam masa yang panjang.

Pahlawan juga dikaitkan dengan keberhasilan atau prestasi yang gemilang dalam berbagai bidang kehidupan. Intinya, pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-cita mulia. Mereka rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan sikap tulus ikhlas, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Cara Menyiapkan Anak Menjadi Pahlawan

Menyiapkan sifat kepahlawanan bisa dimunculkan dari keluarga kita. Pendidikan anak bermula dari rumah, bukan dari sekolah. Maka mendidik anak menjadi pahlawan, harus disiapkan sejak di dalam rumah. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki dalam buku Quantum Learning menyatakan, pembelajaran masa kecil di rumah adalah saat-saat yang amat menyenangkan.

DePorter menyebut contoh belajar berjalan pada anak usia satu tahun. Kendati dengan tertatih dan berkali-kali jatuh, toh anak pada akhirnya mampu berjalan, tanpa merasa ada kegagalan. Bagaimana cara menyiapkan anak menjadi pahlawan? Berikut empat langkah yang bisa dilakukan di rumah.

  1. Menyiapkan Mental Pahlawan

Siapkan mental sebagai pahlawan pada diri anak-anak sejak dini. Pahlawan adalah para pemberani, maka orangtua harus melatih mental anak agar menjadi pemberani.

Berikan contoh secara langsung kepada anak untuk menjadi pemberani. Ketika anak takut naik ayunan, contohkan dengan menaiki ayunan. Tunjukkan kepada anak bahwa naik ayunan mengasyikkan dan tidak menakutkan. Dengan contoh langsung, anak akan lebih mudah mengerti dan menyerap nilai.

Pahlawan adalah orang yang memiliki etos kerja tinggi, pantang menyerah dan tak pernah putus asa. Tanamkan mental positif seperti ini pada diri anak sejak dini, dengan membiasakan anak-anak rajin ibadah, rajin belajar, rajin sekolah, rajin mengerjakan pekerjaan rumah, senang membantu orang tua, senang mengerjakan tugas dari guru, sesekali waktu diajak melakukan kegiatan alam seperti outbond, rafting, atau naik gunung.

Mental pahlawan akan menjadi modal sangat bagus bagi anak-anak untuk menggapai masa depan. Mereka akan tekun, ulet, disiplin untuk meraih cita-cita.

  1. Membentuk Rasa Cinta kepada Para Pahlawan

Cintai para pahlawan. Itu cara menjadi pahlawan. Ajak anak untuk mengenal sosok para pahlawan untuk dicintai dan diteladani. Misalnya belajar kisah para Nabi dan Rasul, mereka adalah pahlawan-super bagi peradaban.

Mereka para utusan Allah yang harus berani menanggung risiko, harus terus menerus berkorban dan berbuat untuk umat manusia. Kisah mereka menjadi penggugah semangat dan motivasi bagi anak. Dengan mengenal kisah hidup dan perjuangan mereka, anak akan mencintai para Nabi dan Rasul Allah sebagai pahlawan-super bagi agama, kemanusiaan, dan peradaban.

Ajari anak mengenal pula para sahabat Nabi, para istri Nabi, keluarga Nabi, karena mereka adalah para pahlawan yang berada di sekitar Nabi untuk membawa agama Allah di muka bumi. Mereka semua para pahlawan, yang dengan jasa mereka –atas izin Allah— kita semua merasakan nikmat dan indahnya ajaran Islam.

Lantaran jasa dan perjuangan mereka, agama Islam bisa tersebar di seluruh alam. Dengan mengenal para pahlawan Islam ini, anak-anak akan mencintai mereka, dan akan terinspirasi untuk meneladani perjuangan mereka.

  1. Menanamkan Nilai Kepahlawanan

Pahlawan adalah sosok seseorang, sedangkan kepahlawanan adalah sekumpulan nilai, sifat dan perbuatan. sebelum menjadi sosok seorang pahlawan, tanamkan nilai-nilai kepahlawanan pada diri anak sejak dini.

Nilai kepahlawanan itu meliputi kesungguhan, kegigihan, keulaten, kejujuran, pengorbanan, kontribusi, jiwa sosial, suka menolong, suka berbagi, rasa peduli, memberikan yang terbaik, prestasi, karya, cinta tanah air, dan cinta negara. Tanamkan sejak dini agar menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.

Nilai-nilai kepahlawanan bisa diwujudkan dalam aktivitas keseharian di dalam rumah bersama seluruh anggota keluarga. Saat anak-anak berebut mainan atau makanan, misalnya, sampaikan kepada mereka siapa yang ingin menjadi pahlawan?

Caranya dengan mengalah, memberikan kebahagiaan kepada yang lain, tidak mau menang sendiri, rela berbagi, mengutamakan orang lain, dan seterusnya. Hal sederhana itu bisa menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam diri anak.

  1. Membiasakan Tindakan Kepahlawanan

Biasakan anak melakukan tindakan yang mengandung nilai kepahlawanan, seperti senang menolong orang lain, berbuat untuk orang lain, menyenangkan orang lain, tidak merugikan orang lain.

Saat ada tetangga memiliki hajat, ajak anak membantu tanpa harus diminta. Saat melihat halaman masjid kotor, ajak anak membersihkan. Ajak anak-anak ikut kerja bakti di kampung. Saat di jalan raya melihat kecelakaan, ajak anak menolong korban.

Saat Lombok, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara Tengah ada bencana, ajak anak untuk menjadi relawan membantu korban, dengan cara-cara yang mereka bisa. Misalnya menggalang dana. Siapkan anak-anak menjadi pahlawan, dimulai dari dalam rumah tangga.

 

Baca Juga:

Karakteristik Para Hamba Yang Dicintai Allah  | Ydsf

Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF

Makna Qurban dalam Islam | YDSF

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF

Share: