UPDATE NEWS

...

Friday, 19 April 2019 11:00

Menegur Anak dan Menantu Tidak Shalat | YDSF

Tahukah Anda bahwa mengerjakan shalat dapat membuat kita merasakan sebuah kenikmatan hidayah yang diberikan Allah Swt.

Hidayah merupakan salah satu sumber keselamatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Barang siapa yang dimudahkan oleh Allah Swt untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorang pun yang mampu mencelakakannya.

Allah Swt berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf:178).

Namun, hidayah ini pun tidak serta merta datang dengan sendirinya. Kita juga perlu kesadaran. Menjemput hidayah tersebut. Dalam konteks ini, sadar bahwasannya shalat itu hal yang sangat penting bagi seorang umat muslim.

Contonya dalam kasus di bawah ini, saat anak dan menantu tidak melaksanakan kewajiban shalat. Sebagai orangtua atau mertua, apa yang harus dilakukan? Mari simak pembahasan berikut ini.

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Apa yang harus saya lakukan anak saya yang satu tidak mau shalat sedangkan sang istri juga putra seorang haji? Anak saya dan istrinya juga tidak mau shalat.

Tapi, alhamdulillah kedua anak saya lainnya tekun beribadah. Saya tidak bosan selalu menasihati anak saya dan istrinya itu. Tapi tetap tidak mau berubah. Apakah saya berdosa karena tidak berhasil? Atau apa yang harus saya lakukan Ustadz?

Terima kasih.

NN

Jawaban

Itu namanya tumbu ketemu tutup, kok ya klop. Kewajiban kita sebagai guru, orang tua bahkan seorang Nabi pun sekadar memberi arahan atau bimbingan, yang lazim disebut hidayah irsyadiyah.

Namun agar hidayah ini sampai, dipahami, ditaati, dan amalkan oleh orang lain dibutuhkan hidayah tauqifiyah  yang menjadi hak prerogratif Allah Subhanahu wa taala.

Itulah sebabnya tidak semua keluarga Nabi Nuh As mendapatkan hidayah  tauqifiyah, sedemikian pula dari keluarga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Allah berfirman:

{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS al-Qashash: 56).

Kewajiban orang tua adalah memberi bimbingan, arahan irsyadiyah  sesuai dengan syariat, kemudian Allah yang akan memberikan hidayah  taufiqiyah-Nya  sesuai  dengan sunatullah. Maka tidak ada pelimpahan dosa dari apa yang dilakukan anak terhadap orang tuanya.

Namun sebaliknya, jika anak berbuat keshalihan, insya Allah orang tua akan dapat cipratan pahala (bukan pelimpahan pahala) sebagaimana yang diraih oleh anak, tanpa mengurangi hak anak sedikit pun.

Di sinilah investasi yang luar biasa, yang menurut hadits kelak anak akan dapat menjadi tabir orangtuanya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga.

Namun naudzubillah, jika orang tuanya yang mengarahkannya kepada keburukan, maka bukan anak saja yang mendapatkan sanksi hukumnya, orangtuanya pun juga kecipratan sanksi hukumannya. Dengan pola pikir seperti ini, maka tidak ada tumpang tindih antara Al Quran dan sunnah. Wallahu a’lam.

 

Penanya: Salah satu donatur YDSF
Sumber jawaban: Dr. H. Zainuddin MZ, Lc. MA.
Editor: Ayu SM

 

Baca juga:

Perbedaan Pahala Shalat di Masjid dan Mushola | YDSF

Tips Memakmurkan Masjid | YDSF

Tips Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak | YDSF

Pintu Dosa di Era Digital | YDSF

Waspadai Perkara Perusak Amal | YDSF

Tips Menghafal Al Quran Otodidak | YDSF

Asy Syifa’, Alquran Penyembuh Penyakit

Kisah Keluarga Teladan dalam Al Quran

Belajar Membaca Alquran di Masa Rasulullah SAW | YSDF

Adab Terhadap Alquran | YDSF 

Share: