UPDATE NEWS

...

Thursday, 28 March 2019 10:00

Tips Menghafal Al quran Otodidak | YDSF

Alquran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw yang diturunkan Allah Swt untuk umat muslim. Di dalamnya terdapat sumber ilmu pengetahuan sebagai pedoman hidup manusia, baik di dunia maupun akhirat.

Bagi umat muslim, mempelajari Alquran tidaklah sulit. Allah telah memberikan jaminan kemudahan bagi siapa saja yang ingin membaca, menghafal, memahami serta mengamalkan Alquran.

Kemudahan mempelajari Alquran juga dirasakan oleh dr. Syayma. Dia mulai menghafalkan Alquran ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana saat itu dia terpaksa menghafalkan Alquran karena di pesantrennya terdapat kurikulum tahfidz.

Dokter Syayma sempat merasakan sedikit stress saat belajar di pesantren, lantaran belum fasih membaca Alquran. Dari total 300 santri, dr. Syayma masuk dalam kelompok 10 orang dengan bacaan terburuk.

Pada suatu kesempatan, pesantren tempat dr. Syayma belajar membuka kelas takhasus yakni kelas unggulan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang ingin menghafalkan Alquran. Beberapa teman sempat melarang dr. Syayma mengikuti tes karena belum sempurna bacaan Alquran.

Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi niat dr. Syayma untuk mencoba ikut tes, meskipun hasilnya tidak lolos. Dia menyadari bahwa kemampuan bacaan Alqurannya belum sesempurna teman-teman di level lain. Meski gagal, perempuan yang pernah mendapat beasiswa pendidikan Fakultas Kedokteran UNS Surakarta ini masih tetap semangat dan punya kemauan keras untuk menghafal Alquran.

Sejak saat itu dr. Syayma bertekad untuk menuliskan mimpi bisa menghafal tujuh juz sebelum tamat SMP. Dituliskannya mimpi itu pada selembar kertas lalu dia tempelkan pada dinding yang ada di dalam kamarnya. Sebagian teman tertawa saat membaca catatan kecil di dinding Syayma, karena menurut mereka itu susah dicapai.

Meski demikian, perempuan asal Bogor itu justru semakin terpacu memperbaiki bacaan tilawah sekaligus menghafalkannya. Beruntung, Syayma bisa menemukan cara mudah menghafalkan Alquran. Metode yang dipakainya adalah dengan bercerita (story telling).

 wakaf aura untuk penjaga alquran

Hal pertama yang dilakukannya adalah berusaha memahami keseluruhan makna dari setiap ayat Alquran. Kemudian dia mengimajinasikan makna tersebut menjadi suatu keadaan yang seolah-olah diketahui bahkan dialaminya sendiri.

Bagi Syayma, keinginannya yang kuat bisa menghafalkan Alquran adalah supaya bisa dijadikan motivasi bagi teman serta adik kelasnya. Dia ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang sulit jika ada tekad kuat. Impossible is nothing, prinsipnya. Dia selalu menegaskan bahwa menghafal Alquran bukan hanya hak anak-anak, tapi hak semua orang.

Anak kecil, seorang profesional, bahkan orang lanjut usia pun bisa menghafalkan Alquran asalkan ada kemauan besar. Berhasil hafal tujuh juz semasa SMP, dr. Syayma melanjutkan hafalannya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Secara konsisten dia mampu menghafalkan lima juz mulai kelas satu dan dua. Sayangnya ketika memasuki kelas akhir, dr. Syayma mengalami kejenuhan alias stagnasi. Saking bosannya, dia sempat menulis surat berisi tentang keinginannya untuk berhenti menghafalkan Alquran kepada salah satu ustadz.

Membaca curhatan santrinya itu, sang ustadz memberikan sebuah nasihat yang masih terekam di otak Syayma. ”Kamu boleh berhenti hafalan Alquran kalau otakmu meleleh hingga keluar dari mulut dan hidungmu karena kepanasan menghafal Alquran”.

Dukungan dari orang tua, para guru serta temanlah yang membuat Syayma mampu bertahan melewati cobaan saat itu. Keberhasilan dokter muda dan cantik ini dalam menghafalkan Alquran dikarenakan kuatnya niat disertai dengan aksi nyata.

Aksi nyata itu salah satunya diwujudkan dengan mengatur waktu. Selain mengalami masa kejenuhan, Syayma dihadapkan pada persoalan lain. Muncul pergulatan batin apakah dia tetap menghafalkan Alquran atau fokus pada persiapan ujian nasional dan persiapan tes masuk perguruan tinggi.

Sebagai salah satu siswa berprestasi di sekolah, Syayma berharap bisa lulus ujian dan diterima di perguruan tinggi negeri. Belum lagi dirinya juga aktif terlibat beberapa kegiatan di pesantren sehingga fokusnya pun menjadi bercabang. Namun disisi lain, dia merasa berat hati bila tidak bisa menuntaskan hafalannya.

Selama proses dialog pada diri sendiri itu, Syayma sampai pada keputusan tetap menghafalkan Alquran hingga tamat. Dia juga menemukan solusi atas permasalahan pembagian waktu. Dicatatnya segala aktivitas dalam sehari, mulai bagun tidur di pagi hari hingga malam. Dari sana Syayma sadar bahwa banyak jam-jam kosong yang bisa dimanfaatkan untuk hafalan.  

Syayma kemudian memanfaatkan jam kosong dan waktu istirahat untuk menghafal atau sekedar membaca ulang (murojaah) Alquran. Entah itu ketika guru belum hadir di kelas, makan siang atau menunggu antrian mandi. Disamping itu, Syayma juga mulai mengubah pola tidur malamnya. Dia tidur malam selama tiga jam, dimulai setelah belajar pelajaran sekolah atau latihan persiapan ujian.

Kemudian jam satu malam dia manfaatkan untuk menghafalkan Alquran hingga tiba waktu shubuh. Hari demi hari, Syayma tetap konsisten membagi waktu belajar serta hafalannya. Dalam benaknya tersimpan keyakinan bahwa segala sesuatu bisa terwujud atas izin Allah dan disertai tekad kuat. Dia meyakini seberapa banyak pertolongan Allah yang didapat hari itu berbanding lurus dengan seberapa banyak bacaan Alquranmu.

Pertolongan Allah itulah yang dirasakan oleh Syayma atas ketekunannya mempelajari Alquran. Berbagai prestasi akademik pernah diraihnya. Syayma juga menerima beasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Keinginan terbesarnya menghafal Alquran 30 juz pun akhirnya bisa tercapai bahkan sebelum pelaksanaan ujian kelulusan.

Kini, Syayma masih tetap semangat berjuang untuk mempelajari Alquran. Profesinya sebagai dokter tidak mengurangi semangat untuk tetap istiqomah membaca dan murojaah Alquran. Ini juga sebagai salah satu cara menjaga hafalan Alquran agar tidak cepat lupa. Seorang ustadz pernah bertutur bahwa jika seseorang sering lupa berarti dia belum akrab dengan Alquran.

Sehingga menurut ustadz tersebut agar bisa akrab, perlu istiqomah dalam mengulang atau murojaah. Kunci hafal dan ingat Alquran menurut Syayma adalah murojaah, murojaah, dan murojaah.

Dia juga menambahkan pesan dari gurunya bahwa membaca Alquran harus diulang-ulang sebanyak hafalan dia. Bagi Syayma, segala azam atau cita-citanya sejauh ini bisa tercapai karena ridha Allah serta adanya niat disertai tindakan. Kunci mengatasi segala kesulitan, rasa malas, dan putus asa adalah dirinya sendiri.

Pembaca dermawan, yuk ikut berdonasi bersama kami dalam program “Wakaf Qur’an untuk Penjaga Alquran”. Untuk informasi lebih lanjut silakan Klik disini. Jazakallahu khair.

Editor: Ayu SM
Sumber: Majalah Al Falah

Baca : 

Mencetak Ahli Tafsir Alquran dari Anak Cerdas nan Beradab

Banyak Menghafal Alquran, Tubuh Jadi Semakin Sehat

Asy Syifa’, Alquran Penyembuh Penyakit

Kisah Keluarga Teladan dalam Al Quran

Kisah Umar dalam Melayani Umat

Tak hanya Membagi Ilmu, Imam Syafi'i juga Membagi Harta

Belajar Membaca Alquran di Masa Rasulullah SAW | YSDF

Adab Terhadap Alquran | YDSF

Share: