Membangun Karakter Pahlawan dalam Diri | YDSF

Membangun Karakter Pahlawan dalam Diri | YDSF

6 Agustus 2022

Salah satu kepribadian yang perlu kita tanamkan dalam diri adalah membangun karakter pahlawan. Untuk dapat melakukannya, tidak bisa secara instan. Ada progres dan keistiqamahan yang harus dijaga. Bahkan, lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. 

Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala“, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Belakangan ini, pahlawan sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam prestasi gemilang dalam bidang tertentu, misalnya: kemiliteran, lingkungan, olahraga, kemanusiaan dan lain sebagainya. Tidak mengherankan jika kategori pahlawan pun sekarang ada banyak, bergantung pada prestasi gemilang yang disumbangkannya.

Nilai Kepahlawanan Masa Kini

Cinta tanah air, rela berkorban, dan berani membela kebenaran tanpa pamrih adalah merupakan nilai-nilai kepahlawanan yang diharapkan masyarakat. Keinginan membangun karakter dan nilai kepahlawanan harus dimulai dari lingkup terkecil dalam keluarga. Nilai-nilai itulah yang diperlukan untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah isu suku, agama, ras, dan antar-golongan. Seseorang yang cinta pada tanah air senantiasa berusaha agar negerinya tetap aman, damai dan sejahtera.

Di masa kini, makna pahlawan dapat diartikan sebagai seseorang yang menonjol karena mempunyai jiwa yang berani, rela berkorban dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Banyak profesi bisa dikategorikan pahlawan, seperti guru, aktivis lingkungan hidup, dan relawan kemanusiaan. Tercermin dari hasil jajak pendapat Kompas.com, bahwa hampir seluruh responden (93,2 persen) menilai perilaku berpartisipasi dalam aksi-aksi kemanusiaan sangat layak dikategorikan sebagai tindakan kepahlawanan. Sikap meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat juga dianggap sebagai sikap yang pantas disebut sebagai Tindakan kepahlawanan, seperti dinyatakan oleh 92,6 persen responden. Sikap dan tindakan anti korupsi atau anti rasuah, juga dinilai sebagai tindakan pahlawan oleh 69,8 persen responden

Membangun Karakter Kepahlawanan

Secara umum, hasil jajak pendapat menunjukkan pemahaman nilai-nilai kepahlawanan masyarakat berkutat pada dua hal mendasar, yaitu aspek rasa patriotisme dan rasa nasionalisme. Responden yang memahami nilai-nilai kepahlawanan pada sisi patriotisme mencapai 25,1 persen. Sementara nasionalisme 14,2 persen dan yang menilai keduanya 58,8 persen.

Pahlawan tempo doeloe, berjuang untuk merdeka melawan penjajah, pahlawan kini berjuang untuk merdeka dari penjajajahan ekonomi. Penjajahan ekonomi ini – alih-alih sudah bebas merdeka – mayoritas responden berpandangan bahwa dominasi ekonomi oleh pihak asing terhadap Indonesia merupakan salah satu bentuk penjajahan baru. Lemahnya daya saing dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dipersepsi sebagai salah satu bentuk penjajahan masa kini. Selain ekonomi, pada urutan berikutnya konsumerisme juga dipandang sebagai penjajahan masa kini.

Baca juga:
Contoh Istiqomah dalam Beribadah | YDSF
Doa Pagi Hari Ajaran Nabi Muhammad saw. | YDSF


Untuk membangun karakter (nilai-nilai) kepahlawanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga. Pertama, menanamkan semangat berkorban, disiplin, kebersamaan, dan motivasi untuk berprestasi bagi keluarga merupakan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam keluarga. Menanamkan nilai kepahlawanan dari lingkup terkecil dapat dimulai dari memberi pemahaman arti penting dari pengabdian, pengorbanan, kerja keras, dan mengerti kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi. Krisis ekonomi ini memberi kesempatan untuk menjadi pahlawan kemanusiaan dengan banyak memberi dan berbagi, bukan menuntut.

Kedua, sikap The Spirit of Ihsan, semangat selalu memberi terbaik, tidak cukup hanya dengan baik apalagi mediocrity, adalah karakter yang perlu dibangun dalam diri, siapapun kita, apapun profesinya. Motif kebaikan yang dilakukan bukan meminta atau menuntut balas dari sesama manusia, tetapi hanya berharap balasan pahala dari Allah Swt. (Allah as a hidden stakeholder). Bersandar dan berharap hanya kepada Allah itulah karakter dasar pahalawan sejati (baca: pahlawan).

Ketiga, sikap kepahlawanan yang juga perlu dibangun di masa krisis ekonomi adalah lahirnya semangat nasionalisme dalam belanja: “Beli Indonesia, demi Indonesia”, sebagai upaya mempercepat pemulihan ekonomi pasca pandemi ini. Seperti diketahui, pemulihan dan pertumbuhan ekonomi hanya bisa digerakkan dengan dua hal, belanja negara dan belanja masyarakat. Ketika pemerintah tidak banyak uang (malah banyak hutang), umat tidak boleh ikut-ikutan menahan menimbun aset atau hartanya dengan alasan klasik “wait and see”. Sebagai hamba yang beriman, ada pedoman bahwa rejeki dari Allah itu harus diputar, diinvestasikan agar menebar manfaat pada ekosistem bisinis di sekitarnya (QS. 43:32).

Keempat, generasi milenial harus didorong untuk menjadi saudagar muslim yang profesional, karena Rasululah saw. dan para sahabat, juga pahlawan pergerakan Islam kemerdekaan adalah para saudagar, yang tradisi ini harusnya diikuti. Negara-negara maju secara ekonomi ternyata berbanding lurus dengan etos kesaudagaran. Di Amerika populasi pengusaha 11,5%, Singapura 7,2%, Korea, Thailand, Malaysia 4% sedangkan Indonesia hanya 0,24%. Karakter yang hilang dan harus dibangun kembali dari kepahlawanan muda ini adalah etos kesaudagaran. Sebagaimana sabda Nabi: “Delapan dari sembilan pintu rejeki itu ada di perdagangan”.

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik dan menonjol kontribusinya pada sesama manusia, bisa juga diartikan yang paling baik sikap kepahlawanannya. Wallahu a’lam.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Desember 2021

 

Sedekah Mudah di YDSF:


 

Artikel Terkait:

Allah Lebih Melihat Keikhlasan | YDSF
ZAKAT DARI UANG PESANGON PENSIUN | YDSF
Berbakti Kepada Orang Tua yang Meninggal | YDSF
PERHITUNGAN ZAKAT RUMAH KONTRAKAN | YDSF
Larangan LGBT dalam Islam dan Kisah Kaum Luth | YDSF
PERBEDAAN ZAKAT, SEDEKAH, DAN WAKAF | YDSF

Tags: membangun karakter pahlawan

Share:


Baca Juga

Berinfaq/Bersedekah lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: