UPDATE NEWS

...

Tuesday, 3 September 2019 12:00

Ernest Douwes Dekker, Mualaf Indo, Pejuang Negeri Indonesia | YDSF

Terlahir seorang pribumi ataupun bukan memanglah bukan sebuah pilihan. Namun, memilih memiliki jiwa nasionalisme tidak merupakan sebuah pilihan yang pasti. Ernest Douwes Dekker namanya. Sontak menjadi sorotan negeri kala itu. Setelah dirinya memilih aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jati dirinya sebagai seorang Indo, ternyata tak membuatnya berlagak seperti Indo pada umumnya. Yang menindas dan semena-mena terhadap pribumi bumi pertiwi.

Latar Belakang Keluarga

Ayahnya, Aguste Hendri Edored Douwes Dekker, adalah seorang Belanda ‘totok’. Sedang ibunya, Ernest Louisa Neumann, juga seorang Indo, Jerman-Jawa. Lantas, sebenarnya apalagi yang tak bisa dibanggakan dari runtutan keturunan Eropa ini? Nest, sapaannya, memilih untuk memilih jiwa pribumi. Pria kelahiran Pasuruan, 8 Oktober 1879 ini, juga masih satu garis keturunan dengan Multatuli. Atau yang namanya juga tak asing di telinga kita, Edward Douwes Dekker. Belanda ‘totok’ yang melukiskan kejamnya bangsanya sendiri terhadap pribumi lewat sebuah mahakarya, Max Havelaar.

Jadi, nampaknya tak heran bila Nest juga memiliki jiwa yang sama dengan si Multatuli ini. Bahkan dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Nest juga sering membaca Max Havelaar. Sehingga secara tak ia sadari, rasa nasionalisme terhadap Indonesia telah muncul. Nest juga merupakan sederet dari siswa Eropa yang berhasil terdaftar di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, kemudian ia lanjutkan di HBS Batavia.

Menjadi Indo tidaklah seelok yang kita bayangkan hidupnya. Jika ia memang Indo yang gemar berteman dengan sesama Belanda ‘totok’, ia akan diterima dan dianggap sebagai Eropa kelas atas. Namun, bila ia Indo yang lebih memilih berteman dengan pribumi, maka kasta Eropanya pun akan rendah. Sehingga, hobinya berkumpul dengan anak-anak pribumi membuat ia dikucilkan dari Eropa berkelas.

Memulai Karir di Perkebunan

Pemilik nama lengkap Ernest Francois Eugene Douwes Dekker ini, lalu meneruskan karirnya dengan bekerja di salah satu perkebunan kopi Somber Doeren, Malang, 1898. Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor pendorong utamanya. Dari sinilah, ia semakin melihat jelas ketidakadilan yang dilakukan oleh Belanda. Pun berawal dengan bekerja di perkebunan ini, Nest belajar lebih dalam tentang manajemen perkebunan serta pengelolaan hubungan sumber daya manusia.

Eksploitasi. Itulah kata-kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan kondisi pribumi saat itu. Target produksi perkebunan, membuat Belanda sesuka hati mempekerjakan para buruh, yakni para pribumi. Upah yang tak sesuai juga menjadi derita tersendiri. Saat dimana Nest masuk, ia mulai merubah sistem tersebut. Lebih manusiawi. Namun, ternyata, hal ini tidak disukai oleh pihak Belanda.

Konflik dengan atasannya, membuat Nest tidak betah. Hingga kemudian mengundurkan diri dari perkebunan tersebut. Ia lalu bekerja sebagai ahli kimial di Pabrik Gula Pajarakan, Proboinggo, 1898. Tak sampai setahun memang, Nest memutuskan untuk angkat kaki dari perkebunan nan penuh nestapa di Malang itu.

Tapi, di tempat baru pun sama saja. Rasa sosialnya yang tinggi, membuat ia memperlakukan buruh pribumi dengan sangat manusiawi itu, juga tak disukai oleh pihak manajemen Pabrik Gula Pajarakan. Puncaknya adalah saat ia tahu bahwa dengan semena-mena Belanda memindahkan sistem irigasi sawah milik pribumi untuk mengairi perkebunan pabrik gula. Bagaimana Nest tak naik pitam? Akibat kebijakan Belanda ini, banyak sawah pribumi yang kering dan tidak terpanen.

Giat dalam Kegiatan Pergerakan

Berbicara tentang perjalanan perjuangan Nest, tak bisa kita habiskan dalam sebuah artikel singkat. Banyak perjuangan yang ia lakukan, bahkan ia juga pernah menjadi bagian dari Perang Boer, untuk Afrika Selatan. Mengarungi samudera dan berpindah-pindah tanah pijakan di benua Biru, Eropa. Hingga sampailah di tahun 1909. Tahun dimana ia berjumpa dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Lalu, pada akhir 1910 kembali ke Hindia Belanda, menerbitkan majalah Het Tjidschrift dan koran de Express, sebuah langkah awal membentuk Indische Partij.

Yang kemudian dalam perkembangannya, Ernest mengajag beberapa pemuda Indonesia untuk bergerak bersama. Dr. Cipto Mangunkusumo, salah seorang pemuda yang berminat. Berawal dari analisa mereka tentang Budi Utomo, yang menurut mereka semakin lembek terhadap pemerintah Belanda, akhirnya mereka mereka sepakat bekerja sama. Perlu diketahui pula, bahwa Nest merupakan salah satu inspirator Budi Utomo pula. Akhirnya, Cipto Mangunkusumo bergabung menjadi wakil ketua Indische Partij sekaligus redaktur harian de Express.

Kelihaiannya bergerak dalam bidang pers, membuat Ernest bertemu dengan pemuda-pemuda hebat bumiputera. Suwardi Suryaningrat, salah seorang pemuda yang juga ditarik Nest ke de Express. Bermula dari Suwardi yang sering mengirimkan karangan-karangannya di surat kabar Mataram, ternyata mampu membuat Nest terharu hingga mengajaknya bergabung. Tak lama, Suwardi lalu menjadi pemimpin harian de Express edisi Melayu dan redaktur di Het Tijdschrift. Tiga Serangkai, itulah nama yang merekat pada mereka bertiga.

Melalui sebuah karya berjudul “Nastionalisme”, mereka mengangkat dengan jelas topik-topik bangsa yang merdeka, membakar semangat bagi para pembacanya. Melalui tulisan-tulisan mereka ini kemudia mampu menarik pemuda-pemuda bumiputera di berbagai wilayah. Setidaknya telah ada 30 cabang dengan 7.300 anggota saat itu.

Karya-karya mereka yang sering mengandung unsur nasionalisme-revolusioner ini dinilai terlalu provokatif oleh pihak Belanda. Hingga di tahun 1913, Ernest dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda karena terbukti mendukung tokoh-tokoh bumiputera. Bersama kedua rekannya, Suwardi dan Cipto, mereka dibuang ke Negeri Tulip.

Meski dalam masa pembuangan, ternyata tak membuat semangat mereka padam. Usai kembali dari pengasingan, Ernest mendirikan majalah De Beweging dan Nieuwe Express. Ia membangun kembali sebuah sarana pergerakan, yakni National Indische Partij. Partai politik pertama Indonesia pada era itu.  Meski kemudian mengalami hambatan dan kegagalan kembali. Nest tak pantang menyerah.

Ia mendirikan Ksatrian Instituut di Bandung. Yang berawal dari ia mengajar di sekolah asuhan H.E. Meyer, seorang penggiat pendidikan di Bandung. Dengan berbagai konflik yang sempat ia hadapi, Ksatrian Instituut berhasil menjadi sekolah yang fokus dalam pengajaran kebangsaan yang merdeka dan mandiri. Sekolah ini pun terus berkembang dengan berbagai kejuruan, seperti Sekolah Guru, Sekolah Dagang Modern, dan Sekolah Jurnalistik.

Ditangkap dan diasingkan kembali. Itulah yang terus dialami Ernest bahkan ketika masa penjajahan beralih ke tangan Jepang.

Kehidupan Sebagai Muslim

Setelah masa kemerdekaan Nest kembali ke Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan Kepala Bagian Historiografi pada Bagian Dokumentasi Kementerian Penerangan.

Kedekatannya bersama tokoh-tokoh Indonesia, seperti dengan Soekarno dan Sutan Sjahrir, nampaknya juga berdampak pada kehidupan pribadinya. Ia memulai akrab dan mengenal Islam. Barulah pada 1947, Ernest mengucapkan dua kalimat syahadat di Yogyakarta. Dan ia pun terbiasa mulai memakai pakaian sebagaimana seorang muslim pada umumnya, lenkap dengan kopiah hitam.

Yang kemudian membuatnya mengganti nama menjadi Danudirdja Setiabudi, nama pemberian Presiden Soekarno. Nama barunya itu memiliki arti yang tak biasa, yakni banteng yang berjiwa kuat dan setia. Cocok dengan karakternya. Berani, memperjuangkan dengan segenap hati dan apapun yang ia miliki untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan dikabarkan, Ernest sempat masuk menjadi anggota Masyumi. Berkat kedekatannya dengan Moh. Natsir.

Danudirdja pun menikah untuk yang ketiga kalinya dalam keadaan sudah menjadi seorang muslaf. Hanya tiga tahun ia rasakan nikmat menjadi muslim. Belanda kembali berulah, Agresi Militer Belanda II. Membuatnya tertangkap kembali. Setelah bebas dari penangkapan Belanda pada AMB II, Ernest pulang ke rumahnya di Lembang, Bandung. Seminggu kemudian ia pun meninggal. Belum genap 70 tahun usianya.

Namun, sebelumnya, Ernest telah berpesan agar dimakamkan secara Islam. Karena dirinya takut bilamana ada keluarganya yang akan menguburkannya dengan cara agama lain. Ia dimakamkan selayaknya seorang muslim. Pun seorang pahlawan, lengkap diselubungi bendera Merah Putih. Selanjutnya pada 1961, Ernest Douwes Dekker ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Lalu, Jl. Lembang pun berubah menjadi Jl. Dr. Setiabudi.

 

Naskah & Editor: Ayu SM

 

Baca Juga:

Kisah Perjalanan Hidup Pahlawan Nasional, AR. Baswedan | YDSF

Catatan Sejarah AR. Baswedan Memperjuangkan NKRI | YDSF

Kelas Rusak, Siswa SD & MI Cokroaminoto Bergantian Bersekolah

Biografi Abdul Wahid Hasyim, Sang Menteri Agama RI

SMP Al Falah Deltasari Talk Show Bersama Syekh Rasyid | YDSF

Kisah Ketua DPR pertama RI, Kasman Singodimejo | YDSF

6 Prinsip untuk Menyiapkan Anak Sebagai Pejuang Kehidupan | YDSF

Konsep Patriotisme dalam Islam | YDSF

 

Share: