Program

Konsep Patriotisme dalam Islam | YDSF

21 Agustus 201950 min bacaAdmin
featured
<p>Salim A. Fillah adalah seorang penulis buku islami dari Yogyakarta. Lahir di Yogyakarta, 21 Maret 1984. Namanya mulai dikenal luas setelah menerbitkan buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (2003).&nbsp; Selain&nbsp; penulis buku, Salim A. Fillah juga merupakan aktifis Masjid Jogokariyan Yogyakarta.</p> <h4><strong>Bagaimana Konsep Patriotisme dalam Islam?</strong></h4> <p>Salah&nbsp; satu&nbsp; syiar&nbsp; orang&nbsp; mukmin&nbsp; adalah Ihdal Husnayain,&nbsp; artinya&nbsp;&nbsp; meraih&nbsp; salah&nbsp; satu&nbsp; dari&nbsp; dua kebaikan.&nbsp; Yaitu&nbsp; memenangkan&nbsp; agama&nbsp; Allah, meninggikan&nbsp; kalimat&nbsp; Allah,&nbsp; atau&nbsp; gugur&nbsp; sebagai syahid&nbsp; dalam&nbsp; mempertahankan&nbsp; keimanan&nbsp; dan agama kita.</p> <p>Allah berfirman dalam Surah at-Taubah ayat 52:&nbsp;</p> <p style="text-align: right;">قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ</p> <p>&ldquo;<em>Katakanlah&nbsp; (Muhammad),&nbsp; &ldquo;Tidak&nbsp; ada&nbsp; yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami&nbsp; menunggu-nunggu&nbsp; bagi&nbsp; kamu&nbsp; bahwa Allah akan&nbsp; menimpakan&nbsp; azab&nbsp; kepadamu&nbsp; dari&nbsp; sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu.&rdquo;</em></p> <p>Semangat&nbsp; jihad&nbsp; inilah&nbsp; yang&nbsp; dipegang&nbsp; oleh kaum&nbsp; muslimin.&nbsp; Sejarah&nbsp; banyak&nbsp; mencatat&nbsp; kisah-kisah&nbsp; kepahlawanan&nbsp; dalam&nbsp; Islam.&nbsp; Di&nbsp; antaranya adalah Panglima Perang Khalid bin Walid ra.</p> <p>Suatu&nbsp; ketika&nbsp; dalam&nbsp; sebuah&nbsp; peperangan, orang kafir berkata kepada Khalid: <em>&ldquo;Wahai Khalid, pulanglah! Pasukanmu lebih sedikit, kami memiliki pasukan lebih banyak, dan kami memiliki pasukan yang berani mati. Pulanglah kamu! Daripada kamu sia-siakan nyawa pasukanmu&rdquo;. </em></p> <p>Gertakan&nbsp; ini&nbsp; dijawab&nbsp; Khalid:&nbsp; <em>&ldquo;Lebih&nbsp; baik kalian yang pulang. Kami memiliki pasukan rindu kematian,&nbsp; seperti&nbsp; kalian&nbsp; merindukan&nbsp; khamer&nbsp; di waktu musim dingin.&rdquo;</em></p> <p>Begitulah&nbsp; sifat&nbsp; pasukan&nbsp; Rasulullah.&nbsp; Mereka tidak&nbsp; hanya&nbsp; berani&nbsp; mati&nbsp; tetapi&nbsp; rindu&nbsp; kematian. Karena&nbsp; dalam&nbsp; Islam&nbsp; orang&nbsp; yang&nbsp; mati&nbsp; syahid mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah.</p> <p>Salah&nbsp; satu&nbsp; cabang&nbsp; patriotisme&nbsp; dalam&nbsp; Islam adalah&nbsp; mencegah&nbsp; kemungkaran.&nbsp; Dalam&nbsp; sebuah hadits&nbsp; Rasulullah&nbsp; bersabda:&nbsp; Dari&nbsp; Abu&nbsp; Sa&rsquo;id Al&nbsp; Khudri&nbsp; ra:</p> <p><em>&ldquo;&lsquo;Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, &ldquo;Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah&nbsp; dengan&nbsp; lisannya,&nbsp; jika&nbsp; tidak&nbsp; mampu&nbsp; maka (tolaklah)&nbsp; dengan&nbsp; hatinya,&nbsp; dan&nbsp; hal&nbsp; tersebut&nbsp; adalah selemah-lemahnya iman.&rdquo;</em> (HR. Muslim).</p> <p>Dari&nbsp; hadits&nbsp; itu&nbsp; kita&nbsp; diperintahkan&nbsp; untuk mengubah&nbsp; atau&nbsp; mencegah&nbsp; kemungkaran semaksimal yang kita bisa.</p> <p><strong>Pertama</strong>&nbsp; dengan&nbsp; tangan,&nbsp; para ulama&nbsp; menafsirkan&nbsp; &lsquo;tangan&rsquo; dengan &lsquo;kekuasaan&rsquo;, artinya jika kita punya kekuasaan untuk mengubah kemungkaran, maka ubahlah!&nbsp;</p> <p><strong>Kedua,</strong>&nbsp; dengan&nbsp; lisan, dengan&nbsp; nasihat&nbsp; dan&nbsp; perkataan yang&nbsp; baik.</p> <p><strong>Ketiga&nbsp; d</strong>engan hati,&nbsp; minimal&nbsp; kita&nbsp; tidak&nbsp; setuju dengan kemungkaran. Dan yang terakhir&nbsp; ini&nbsp; pertanda&nbsp; selemah-lemahnya iman.</p> <h4><strong>Pahlawan Pembela Keluarga, Harta, dan Tanah Air</strong></h4> <p>Konsep&nbsp; patriotisme&nbsp; dalam Islam&nbsp; adalah&nbsp; kepahlawanan dalam&nbsp; mendharmabaktikan segala&nbsp; hidup&nbsp; kita&nbsp; untuk&nbsp; Allah. Tidak&nbsp; hanya&nbsp; orang&nbsp; yang&nbsp; mati syahid&nbsp; dalam&nbsp; perang&nbsp; yang disebut pahlawan. Tetapi semua yang dilakukan di jalan Allah dan untuk&nbsp; mencari&nbsp; ridho Allah&nbsp; juga disebut pahlawan.</p> <p>Diriwayatkan,&nbsp; pada&nbsp; suatu saat&nbsp; Rasulullah&nbsp; baru&nbsp; tiba&nbsp; dari perang&nbsp; Tabuk,&nbsp; peperangan dengan &nbsp;bangsa&nbsp; Romawi&nbsp; yang kerap&nbsp; menebar&nbsp; ancaman&nbsp; pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal&nbsp; kecuali&nbsp; orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.</p> <p>Saat&nbsp; mendekati&nbsp; kota Madinah,&nbsp; di&nbsp; salah&nbsp; satu&nbsp; sudut jalan,&nbsp; Rasulullah&nbsp; berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika&nbsp; itu&nbsp; Rasulullah&nbsp; melihat tangan&nbsp; buruh&nbsp; tukang&nbsp; batu tersebut&nbsp; melepuh,&nbsp; kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.</p> <p>Sang manusia Agung itupun bertanya,&nbsp; <em>&ldquo;Kenapa&nbsp; tanganmu kasar sekali?&rdquo;</em></p> <p>Si&nbsp; tukang&nbsp; batu&nbsp; menjawab<em>, &ldquo;Ya&nbsp; Rasulullah,&nbsp; pekerjaan&nbsp; saya ini&nbsp; membelah&nbsp; batu&nbsp; setiap&nbsp; hari, dan&nbsp; belahan&nbsp; batu&nbsp; itu&nbsp; saya&nbsp; jual ke&nbsp; pasar.&nbsp; Lalu&nbsp; hasilnya&nbsp; saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga&nbsp; saya.&nbsp; Karena&nbsp; itulah tangan saya kasar.&rdquo;</em></p> <p>Rasulullah&nbsp; adalah&nbsp; manusia paling mulia. Tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat&nbsp; tangan&nbsp; si&nbsp; tukang&nbsp; batu yang&nbsp; kasar&nbsp; karena&nbsp; mencari nafkah&nbsp; yang&nbsp; halal,&nbsp; Rasul&nbsp; pun menggenggam&nbsp; tangan&nbsp; itu,&nbsp; dan menciumnya&nbsp; seraya&nbsp; bersabda, <em>&ldquo;Inilah&nbsp; tangan&nbsp; yang&nbsp; tidak&nbsp; akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.&rdquo;</em></p> <p>Cerita&nbsp; itu&nbsp; menunjukkan bahwa&nbsp; jihad&nbsp; tidak&nbsp; terbatas berperang&nbsp; membela&nbsp; agama, tetapi&nbsp; mencari&nbsp; nafkah&nbsp; juga disebut jihad. Mempertahankan harta benda juga termasuk jihad.</p> <p>Sebagaimana hadits Rasulullah:&ldquo;<em>Barang&nbsp; siapa&nbsp; yang berperang&nbsp; mempertahankan hartanya&nbsp; kemudian&nbsp; terbunuh, maka&nbsp; ia&nbsp; adalah&nbsp; syahid, barang siapa yang berperang mempertahankan&nbsp; darahnya maka&nbsp; ia&nbsp; adalah&nbsp; syahid,&nbsp; dan barang siapa yg berperang mempertahankan&nbsp; keluarganya maka ia adalah syahid.</em> (HR AnNasai)</p> <p>Rasulullah&nbsp; menyebut syahid&nbsp; orang&nbsp; yang&nbsp; membela keluarganya,&nbsp; hartanya,&nbsp; tanah airnya juga bangsanya dengan niat karena Allah.</p> <p>Sebagai&nbsp; orang&nbsp; Indonesia, hendaknya&nbsp; kita&nbsp; menyadari sepenuhnya bahwa perjuangan para&nbsp; pahlawan&nbsp; didasari&nbsp; atas kalimat&nbsp; Takbir.&nbsp; Bung&nbsp; Tomo membakar&nbsp; semangat&nbsp; Arek-Arek Suroboyo dengan gelegar suara Takbir. Sebelum terjadi Peristiwa&nbsp; 10&nbsp; November&nbsp; 1945 atau <em>&ldquo;Battle of Surabaya&rdquo;</em>, Bung Tomo berorasi membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo.</p> <p>Bung&nbsp; Tomo&nbsp; mengakhiri pidatonya dengan pekik takbir&nbsp; tiga&nbsp; kali: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!</p> <p>Dengan&nbsp; izin&nbsp; Allah, pertempuran&nbsp; 10&nbsp; November 1945&nbsp; tersebut&nbsp; dimenangkan oleh rakyat Indonesia. Dalam pembukaan UUD&nbsp; 1945&nbsp; para&nbsp; pendahalu kita&nbsp; juga&nbsp; menyadari&nbsp; bahwa kemerdekaan&nbsp; ini&nbsp; adalah karunia&nbsp; dari&nbsp; Allah.&nbsp; Dalam pembukaan&nbsp; UUD&nbsp; 1945&nbsp; alenia ke-3&nbsp; <em>disebutkan&nbsp; &ldquo;Atas&nbsp; berkat rakhmat&nbsp; Allah&nbsp; Yang&nbsp; Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, ...&rdquo;</em></p> <p>Inilah&nbsp; konsep kepahlawanan&nbsp; kita.&nbsp; Membela sesuatu yang layak dibela. Untuk Allah dan di jalan Allah.</p> <p><strong><em>Wawancara Eksklusif dengan Ustadz Salim A Fillah</em></strong><br /><strong>(Habibi)<br /><br /></strong></p> <p><strong>Baca Juga:</strong></p> <h4><a href="../../../berita/karakteristik-para-hamba-yang-dicintai-allah-ydsf-QYan.html">Karakteristik Para Hamba Yang Dicintai Allah &nbsp;| Ydsf</a></h4> <h4 class="media-heading text-uppercase font-weight-500"><a title="Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF" href="../../../berita/tingkatkan-semangat-dan-nilai-berqurban-ydsf-V6AH.html">Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF</a></h4> <p><a title="Makna Qurban dalam Islam | YDSF" href="../../../berita/makna-qurban-dalam-islam-ydsf-0isA.html">Makna Qurban dalam Islam | YDSF</a></p> <p><a title="Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF" href="../../../berita/bahagia-dengan-gemar-berbagi-ydsf-ifg5.html">Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF</a></p> <p><a title="Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF" href="../../../berita/hikmah-pendidikan-di-balik-keyatiman-rasulullah-ydsf-mTrC.html">Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah&nbsp;| YDSF</a></p> <p><a title="Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF" href="../../../berita/keutamaan-menyantuni-anak-yatim-ydsf-UenX.html">Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF</a></p> <p><a title="Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF" href="../../../berita/menjadi-hamba-yang-pandai-bersyukur-ydsf-RgvA.html">Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF</a></p> <p><a title="Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF" href="../../../berita/menyambung-silahturahmi-yang-terputus-ydsf-zDtA.html">Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF</a></p> <p><a title="Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF" href="../../../berita/eeee-ypGF.html">Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF</a></p>

Dukung Program Ini

Mari bersama-sama membantu program ini untuk mencapai tujuannya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat