Perbedaan Qurban Hadyu dan Qurban Udhiyah | YDSF

Perbedaan Qurban Hadyu dan Qurban Udhiyah | YDSF

31 Mei 2022

Terdapat beberapa jenis penunaian qurban, seperti qurban hadyu dan qurban udhiyah. Dari dua jenis ini memiliki perbedaan dalam penunaiannya.

Qurban dari kata “qaruba” berarti pendekatan diri kepada Allah Swt. dengan sedekat-dekatnya dengan media penyembelihan ternak qurban. Ternak qurbannya pun sudah ditentukan. Unta dan sejenisnya, sapi dan sejenisnya atau kambing dan sejenisnya. Maka tidak boleh digantikan dengan ternak-ternak lainnya, seperti kelinci, ayam, atau bebek.

Sejarah awalnya adalah meneladani kisah penyembelihan Ibrahim terhadap putranya yang akhirnya digantikan dengan seekor kambing. Sejak itulah semua yang menunaikan ibadah haji disyariatkan untuk menyembelih qurban walaupun jenis syariatnya disesuaikan dengan jenis manasik hajinya. Ada yang diwajibkan dan apa pula yang disunahkan.

Kebahagiaan berhari raya tentunya bukan hanya untuk mereka yang sedang menikmati ibadah haji. Kita pun yang sedang tidak menunaikan manasik haji dapat merayakannya dengan ditandai shalat hari raya dan penyembelihan qurban.

Sesuai dengan definisinya, maka dalam menyembelih qurban ada aturan dan etikanya. Walaupun antara qurban hadyu (syukuran sukses menjalani ibadah haji) atau qurban udhiyah (perayaan kebersamaan di hari raya Adha) terdapat beberapa perbedaan.

Misalnya, tempat penyembelihannya. Qurban hadyu harus disembelih di manhar (tempat penyembelihan), dan seluruh area Mina layak dijadikan tempat penyembelihan qurban Hadyu. Sementara itu, penyembelihan qurban Udhiyah dapat disembelih di mana saja. Maka tidak diperkenankan orang yang telah sukses ibadah haji lalu menyuruh keluarganya di Indonesia untuk menyembelih qurban Hadyunya di Indonesia.

Distribusinya pun berbeda. Qurban hadyu diperuntukkan khusus orang-orang miskin. Dalam bahasa syariat diperuntukkan al-qani’ wal mu’tar (orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak meminta-minta). Maka untuk qurban udhiyah siapa saja boleh menikmatinya, orang-orang kaya maupun orang[1]orang miskin. Memang tidak salah jika diprioritaskan untuk yang membutuhkannya.

Sisi mukalafnya (orang yang diperintahkan) pun berbeda. Jika qurban Hadyu pada setiap individu, namun untuk qurban udhiyah adalah untuk kolektif (keluarga).

Demikian pula sisi hukumnya, untuk qurban hadyu bergantung pada jenis manasik hajinya, dan untuk qurban udhiyah, pendapat yang rajih adalah sunah. Dengan demikian keduanya tidak mungkin dianalogikan. Masih-masing jenis qurban memiliki etika berbeda. Jadi sungguh mulia bagi mereka yang memahami setiap hadits secara proporsional.

Sedemikian pula hikmahnya. Serasa kita dibimbing merajut kebersamaan. Berbagi kebahagiaan kepada keluarga, kerabat, serta fakir miskin. Tidak ada yang membedakan status kita kecuali pada aspek ketakwaan.

Sungguh kepedulian sosial kita sangat menentukan harga diri kita. Sejauh mana kita telah peduli kepada sanak saudara, tetangga, kerabat, kaum papa, dan umat muslim seluruhnya.

Status kemuliaan manusia bukan diukur kekayaan, kedudukan, atau keilmuannya, melainkan diukur sebesar apa pengorbanan kita dalam berinteraksi sosial. Semakin besar pengorbanan kita, dalam hal ini harta yang kita keluarkan, semakin mulia pula kita di sisi Allah.

Pesan Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi temannya.

 

(Majalah Al Falah Edisi Juli 2021)



Qurban di YDSF:



Artikel Terkait:

HADITS PALSU: SETIAP BULU HEWAN QURBAN ADA KEBAIKAN | YDSF

Batas Istiqomah Menjadi Sebuah Karakter | YDSF

WAKTU TERBAIK TERKABULNYA DOA | YDSF

Pintu Dosa di Era Digital | YDSF

PENGORBANAN NABI ISMAIL AS. DALAM IBADAH QURBAN | YDSF


#EkspedisiQurban


Tags: jenis qurban, perbedaan qurban hadyu dan qurban udhiyah, qurban hadyu, qurban udhiyah

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: