UPDATE NEWS

...

Tuesday, 8 October 2019 12:59

Merevisi Motivasi Bekerja sebagai Amal Sholeh | YDSF

Dalam sebuah wawancara di Amerika ada ratusan calon pekerja diwawancarai oleh personalia perusahaan besar. Nah, di antara pelamar itu ada seorang pemuda muslim ikut diwawancarai.

Pemuda muslim itu kemudian menjadi salah satu dari lima orang yang lolos menempati jabatan strategis. Dia diterima karena membuat pewawancara kerjanya terkesima.

"Apa yang membuatmu ingin bekerja di perusahaan ini?" tanya pewawancara.

Pemuda muslim itu menjawab: "Aku melamar kerja karena dalam agamaku, Allah memerintahkan kami bekerja. Dan Rasulullah, teladan kami mencela umatnya yang tidak bekerja dan bermalas-malasan."

"Andai Allah tidak memerintahkan kami bekerja dan Rasulullah tidak menganjurkan bekerja, kami tidak akan melelahkan diri bekerja. Karena kami diciptakan hanya untuk menyembah-Nya. Dan rezeki bagi kami dan semua ciptaan-Nya sudah dijamin oleh-Nya," lanjut pemuda itu.

"Itu berarti jika kamu tidak diterima di sini kamu tetap akan mendapat rezeki?" tanya pewawancara lagi.

"Iya, dari tempat lain. Karena Allah menjamin rezeki untuk semua ciptaan-Nya? Bagi saya dan muslim lainnya bekerja adalah amal sholeh untuk menjalankan perintah Allah dan anjuran Rasul kami," jawab pemuda itu.

Di tengah wawancara itu kemudian alarm handphone-nya berbunyi. Tanda masuk waktu sholat dhuhur. "Tuan saya mohon izin sebelum wawancara kerja ini dilanjutkan. Saya harus mengerjakan sholat," kata pemuda muslim itu.

Pewawancara kerja itu kembali merasa kaget. Karena seorang anak muda berani meminta izin untuk menghela wawancara kerja yang bagi semua orang selain dia adalah hal penting dan tidak boleh dilewatkan. "Baik, silahkan Anda sholat lalu kembali ke sini. Saya akan menunggu Anda di sini," ujar pewawancara.

Usai sholat pemuda muslin itu kembali ke meja wawancara. "Jadi kalau Anda diterima di perusahaan ini, apa yang akan Anda lakukan?" tanya pewawancara itu.

"Saya akan bekerja sebagai ibadah seperti saya jelaskan tadi," ujar pemuda itu.

"Bagi pelamar yang lain, mereka harus menunggu lama untuk mengetahui kabar tentang diterima atau tidaknya dalam perusahaan ini. Tapi Anda akan mendapatkan kabar itu detik ini juga. Bahwa Anda diterima dan akan ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan Anda," ujar pewawancara itu.

Pemuda muslin itu kemudian bekerja sebagai salah satu manajer penting dalam perusahaan. Dan cerita tentang pemuda itu akhirnya sampai pada ustadz pengasuh komunitas muslim di Australia.

Pada kisah di atas dapat kita saksikan bagaimana seorang pemuda dengan kokoh menyatakan tentang bagaimana Allah menjamin rezeki setiap ciptaan-Nya. Dia tak punya alasan lain dalam bekerja dan mencari rezeki kecuali karena perintah Allah dan anjuran Rasulullah.

Mengubah motivasi bekerja menjadi amal sholeh. Sementara sebagian kita memiliki motivasi kerja karena takut tidak kebagian rezeki dari Allah.

Mudah-mudahan kita semua dapat memperoleh pelajaran dari kisah pemuda muslim di Amerika tersebut. Meyakini seyakin-yakinnya bahwa rezeki sesungguhnya telah Allah jamin. Dan bekerja adalah Sunnatullah yang harus dijalankan sebagai amal sholeh dan bagian dari beribadah pada Allah. Waalahua'lam bishawab. (nra)

 

Baca juga

Makna Qurban dalam Islam | YDSF

 

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

 

Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF

 

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF

 

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

 

Share: