Menghadapi Anak Fanatik Bola | YDSF

Menghadapi Anak Fanatik Bola | YDSF

25 November 2022

FIFA World Cup 2022 tidak lepas dengan penggemar yang fanatik terhadap bola. Dari berbagai kalangan umur dan latar belakang pekerjaan dapat menjadi seorang fanatik bola. Berawal dari sekadar suka, kemudian menjadi ‘menggila’.

Seseorang yang telah memiliki cap sebagai fanatik bola, biasanya dianggap sebagai orang yang sudah berlebihan menyukai sepak bola. Dalam Islam, sesuatu yang berlebihan itu jelas tidak diperbolehkan. Karena akan menimbulkan banyak dampak, seperti menjadi malas dan lalai beribadah.

Bila sifat fanatik bola ini melekat pada anak-anak, sering kali mereka tidak bisa mengambil langkah yang bijak. Seperti, melewatkan waktu belajarnya hanya demi mengejar jam tayang pertandingan dari klub bola yang disukainya. Bahkan, berbohong pada orang tua demi memuaskan hasrat bolanya pun bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Belum lagi, anak-anak yang fanatik bola ini lebih cenderung mendengarkan apa yang dikatakan orang-orang yang sepaham dengan mereka dibandingkan orang tuanya. Misalnya, orang-orang dewasa lainnya yang juga merupakan fanatik bola. Tentu, hal-hal semacam ini menjadi tantangan bagi orang tua dalam fase membesarkan anaknya.

Pola Pengasuhan Anak Sesuai Usia

Memang mendidik anak bukanlah perkara yang mudah pada masa sekarang. Perencanaan sudah dimulai sejak memilih pasangan, saat hamil kedua orangtua banyak beribadah. Sehingga anak yang lahir diharapkan mudah menyerap ketentuan agama yang dibuat Allah Swt. dalam rangka kita mampu hidup yang kondusif.

Saat anak balita, ada tahap tahap pengasuhan anak yang sering dipakai itu teori Erik Erikson. Silakan baca sekilas di Google. Meskipun perlu didampingi psikolog atau psikiater dalam melakukannya sehari-hari.

Baca juga: Taruhan Piala Dunia, Masuk dalamKategori Judi Bola? | YDSF

Ada kebutuhan anak usia 0-18 bulan, 18 bulan-3 tahun, 3 tahun-6 tahun, 6 tahun-12 tahun, 12 tahun-18 tahun. Seharusnya setiap pasangan belajar bagaimana pengasuhan yang baik ini dengan pendampingan. Kemudian di sekolah dan lingkungan, perlu pantauan dan kerja sama yang terus-menerus dengan orangtua.

Saat ini beban untuk mencarikan sekolah dan lingkungan terbaik untuk perkembangan anak masa usia di bawah 18 tahun ini, lebih dibebankan kepada orang tua. Hal ini sering tidak disadari oleh orang tua, sehingga orang tua berkonsultasi ketika masalah anak sudah sulit dikendalikan. Mestinya ada pendampingan sejak menjelang pernikahan.

Seperti dalam menghadapi anak yang fanatik bola, yang mana biasanya lebih percaya kepada orang lain dari pada kepada orang tuanya. Sehingga dianggap membangkang, padahal di balik itu memang ada peran orang tua, di samping peran lingkungan.

Peran lingkungan menjadi lebih kuat apabila peran orang tua pada tahap sebelumnya kurang optimal, tidak tumbuh trust (rasa percaya) yang mumpuni dengan orang tua. Sehingga anak lebih ‘mengikuti’ lingkungan dari pada orang tua.

Sebagai orang tua, rasa khawatir terkait anak yang lebih condong dekat dengan teman sesama fanatik bolanya pasti ada dan menjadi hal yang wajar. Dan tidak mungkin lagi dengan serta merta kita larang, kecuali dengan bertahap dan dia mau. Itupun sangat tergantung kondisi psikologisnya saat ini sebagai hasil pengasuhan selama ini.

Jalan yang bisa ditempuh adalah, agar sang ayah ikut mendampingi dia terus. Dengan cara, misalnya ayah ikut masuk ke dalam grup dari klub bola atau semacamnya yang disukai anak. Sehingga orang tua tahu apa yang terjadi di dalam klub para fanatik bola itu.  

Dengan begitu, orang tua bisa melihat sepak terjang anak di dalam kelompok tersebut. Kelak sebagai anggota sesama fanatik bola, orang tua dari dalam ikut terlibat untuk memperbaiki apa yang tidak beres di sana. Sehingga tempat yang disukai anak Anda adalah tempat yang aman meski resiko hidup dimanapun selalu ada.

Bila masalah yang ditimbulkan sudah termasuk akut, maka orang tua juga perlu secara intensif berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Agar mendapatkan pendampingan yang lebih baik dan solusi yang tidak sepihak hingga menimbulkan masalah baru.

 

Disadur dari Majalah Al Falah Edisi Desember 2017

 

Perbanyak Sedekah Agar Hidup Semakin Berkah


Artikel Terkait

Masalah Halal dalam RUU Cipta Kerja | YDSF
KONSULTASI ZAKAT DARI TABUNGAN GAJI DI BANK | YDSF
Hukum Percaya Pawang Hujan dalam Islam | YDSF
ZAKAT PENGHASILAN SUAMI-ISTRI BEKERJA | YDSF
Hukum Gadai Barang dalam Islam | YDSF
HUKUM LELANG DAN JUAL BELI WAKAF DALAM ISLAM | YDSF


Selamatkan Nelayan Dhuafa dari Riba



Tags: anak fanatik bola, fanatik bola, tips parenting, ydsf

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: