UPDATE NEWS

...

Wednesday, 20 May 2020 09:00

Kisah Abdurrahman bin Auf, Bersedekah Tidak Takut Miskin | YDSF

Islam bukan hanya agama orang-orang miskin seperti anggapan sebagian orang. Islam adalah agama kaum muslimin. Islam agama orang-orang miskin dan juga orang-orang kaya.

Salah besar ketika sebagian kaum muslimin mengira bahwa Islam yang benar adalah meninggalkan dunia, nengucilkan diri dari dunia luar, dan fokus hanya beribadah saja.

Para sahabat Rasulullah Muhammad saw tidak hidup seperti itu. Tidak seperti itu pula kehidupan para salaf yang telah menaklukan dunia. Mereka tetap menjalani kehidupan secara normal. Islam ditopang dukungan orang kaya, juga orang miskin. Untuk menyebut beberapa di antaranya, Islam mencatat nama-nama konglomerat muslim. Lihatlah Abu bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.

Andai bukan karena kekayaan Abu Bakar, tentu Bilal tetap tersiksa ditindih bongkahan batu besar karena pernyataan syahadatnya. Andai bukan bantuan kekayaan Utsman, tentu para sahabat akan kehausan menantikan seteguk air minum dari orang Yahudi yang menguasai sumur Raumah.

Tokoh ini adalah seorang muslim paling kaya dalam sejarah, satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin surga, satu di antara lima tokoh besar yang masuk Islam di tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Satu di antara enam anggota syura, salah satu veteran perang Badar, salah seorang sahabat yang ikut dalam Baiatur Ridhwan, berhijrah dua kali, shalat menghadap dua kiblat, simbol kedermawanan, teladan orang–orang kaya, orang kaya yang bersedekah tanpa takut miskin. Dialah tokoh besar, Abdurrahman bin Auf.

Abdurrahman bin Auf bukan saja orang kaya dan mukmin saja, tapi ia dan juga Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah satu–satunya orang yang Rasululloh Muhammad pernah shalat di belakangnya, di mana seluruh nabi dan rasul shalat di belakang beliau dalam perjalanan Isra’ yang terkenal itu.

Abdurrahman bin Auf ingin memberi, bukan menerima. Ketika tokoh ini berhijrah ke Madinah, Rasulullah mempersaudarakannya dengan seorang sahabat Sa’ad bin Rabi’. Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah dengan tangan kosong sama seperti muhajirin yang lain. Ia meninggalkan rumah, pasar, dan harta bendanya di Mekah. Demi wajah Allah semata.

Saudaranya, Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari menawarkan separuh harta miliknya kepadanya. Tetapi Abdurrahman bin Auf tidak bisa menerimanya demi harga diri layaknya orang-orang mulia. Ia berkata, “Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tapi, tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.”

Abdurrahman kemudian pergi ke pasar dan melakukan transaksi jual-beli. Hanya dalam waktu singkat, ia sudah memiliki jutaan dinar. Ibnu hajar Al- Asqalani berkata, “Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, meninggalkan empat orang istri; masing–masing mewarisi 100 ribu dinar. Seperti diketahui, para istri mendapatkan warisan dengan jumlah seperdelapan. Berarti keempat istri mendapatkan 400 ribu dinar. Dengan demikian, jumlah total harta untuk para ahli waris  memcapai 400 ribu x 8 = 3.200.000 dinar.”

Jumlah ini belum termasuk nilai yang ia infakkan untuk kaum muslimin dan barang–barang dagangan yang ia wakafkan di jalan Allah. Kata kuncinya adalah: “Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar!” ***

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Januari 2020

 

Featured image by Freepik

 

Baca juga:

Bayar Zakat untuk Orang yang Meninggal | YDSF

MENGELUARKAN SEDEKAH DARI BUNGA BANK | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Cara Menghitung Zakat Profesi | YDSF

Konsultasi Zakat dari Tabungan Gaji di Bank | YDSF

Zakat dalam Islam | YDSF

HUKUM BAYAR ZAKAT ONLINE DALAM ISLAM

Konsultasi Zakat di YDSF

5 KEUTAMAAN LAILATUL QADAR, LEBIH BAIK DARI SERIBU BULAN | YDSF

Share: