UPDATE NEWS

...

Monday, 13 May 2019 12:00

Cara Menghitung Zakat Profesi | YDSF

Zakat penghasilan atau zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan pada setiap hasil/gaji yang berasal dari usaha sendiri maupun bersama orang/lembaga lain. Sebagaimana perintah Allah Swt berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (QS. Al-Baqarah  267)

Untuk dapat mengeluarkan zakat profesi, ada ketentuan nishab yang harus dilihat. Jika sudah memenuhi nishabnya, barulah kita bisa menghitung persentasenya. Sehingga, apapun profesi yang dimiliki oleh seseorang (yang halal tentunya), jika telah memenuhi nishabnya, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

Nah, agar lebih bisa memahami mengenai zakat penghasilan atau profesi, mari kita simak ringkasan berikut.

Pertanyaan

Saya adalah seorang istri usia 25 tahun yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Mohon dijelaskan mengenai zakat penghasilan (profesi), apa syaratnya dan berapa persentasenya?

Terima kasih

Jawab

Zakat profesi adalah zakat yang harus dibayar seseorang dari harta miliknya yang diperoleh sebagai penghasilan dan pendapatan dalam bidang profesi yang digelutinya seperti pegawai, karyawa, dosen, dokter, insinyur, konsultan dll.

Sedangkan syarat wajib zakat profesi  adalah sama dengan syarat yang berlaku pada zakat harta secara umum, seperti misalya harta tersebut harus mencapi nishab. Namun tentang ketentuan nishab zakat penghasilan atau pendapatan profesi ini, diperselisihkan diantara para ulama seperti halnya setiap masalah yang baru.

Menurut pendapat sebagian ulama, penghitungan zakat penghasilan bisa dilakukan degan meng-qiyaskannya (menganalogikannya) pada hasil tanaman. Dan sebagian yang lain meng-qiyaskannya pada emas.

Jika kita qiyaskan pada hasil tanaman, maka nishabnya adalah senilai harga 653 kg beras (misalnya 3.265.000 rupiah dengan asumsi harga beras Rp. 5000/kg) dan zakat bisa dibayar  (dengan kadar 2,5 %) rutin setiap bulan sebagaimana hasil tanaman yang harus dizakati setiap kali panen.

Adapun jika kita qiyaskan pada emas, maka nishabnya (berupa akumulasi penghasilan setahun) adalah senilai harga nishab emas, yaitu 85 gr dan pembayaran zakatnya (juga 2,5 %) setiap akhir tahun atau bisa juga dibayarkan setiap bulan sesuai sistem cicilan.

Namun yang perlu diketahui bahwa, standar nishab tersebut berdasrkan nominal penghasilan atau pendapatan netto, yakni setelah dikurangi kebutuhan pokok/primer (seperti makan, tempat tinggal, transportasi, penddikan dan pengobatan) dan juga pembayaran utang jatuh tempo.

Meskipun tidak sedikit juga muzakki (Pembayar zakat)yang memilih untuk membayar zakat profesi dari penghasilan bruto.

Cara ini mengikuti pendapat sebagian ulama lain yang berpandangan seperti itu dan juga karena tingginya semangat mereka untuk berzakat, disamping alasan lebih praktis karena tidak harus susah-susah melakukan perhitungannya yang rumit.

Semoga bermanfaat.

Wallahu’alam.

 

Sumber: Majalah Al Falah 2013
Editor: Ayu SM

 

Baca Juga:

Zakat Perdagangan | YDSF

Zakat Pertanian | YDSF

Zakt Maal | YDSF

Zakat dalam Islam | YDSF

Konsultasi Zakat dari Tabungan Gaji di Bank | YDSF

Cara Menghitung Zakat Profesi | YDSF

Perbedaan Zakat Profesi dan Zakat Pertanian | YDSF

Bayar Zakat untuk Orang yang Meninggal | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Share: