Kisah Umat Terdahulu yang Diuji Allah | YDSF

Kisah Umat Terdahulu yang Diuji Allah | YDSF

13 Agustus 2020

Sesungguhnya kehidupan dunia ini ujian dari Allah Swt. “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al Mulk 1-2).

Makin berat ujian, tentu makin besar hadiah yang disiapkan. Seperti halnya sebuah turnamen sepak bola. Turnamen kelas kampung akan jauh berbeda dengan tingkat nasional. Karena persaingannya ketat dan lawannya berat, maka hadiahnya pun makin besar.

Ujian umat terdahulu tak kalah beratnya. Kisah-kisah mereka diabadikan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad saw. Berikut ini sekelumit di antaranya:

 

  1. Tujuh Tahun Paceklik di Masa Nabi Yusuf

Tiap abad, selalu ada krisis ekonomi. Misalnya Depresi Besar 1930, krisis moneter 1998, dan krisis Subprime Mortgage 2008. Sejatinya umat terdahulu pun mengalami krisis berat. Di masa Nabi Yusuf terjadi masa sulit. Tidak setahun dua tahun, namun tujuh tahun. Dengan petunjuk Allah, Nabi Yusuf mengelola ekonomi negara sehingga risiko bisa ditekan.

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan’” (QS. Yusuf 47-48).

Kini petunjuk Allah masih di tangan kita. Ada ayat-ayat Al Quran dan sunnah Nabi serta ditambah ayat-ayat kauniyah berupa fakta-fakta di sekitar kita. Mari kita berpikir jernih sembari terus meminta pertolongan Allah.

 

  1. Kebijakan Firaun dan Bani Israel Mengurung Diri Di Rumah

Kekuasaannya yang besar membuat Firaun sewenang-wenang. Ia menginginkan kekuasaannya langgeng. Firaun mendapat informasi dari penasihatnya nanti kekuasaannya akan runtuh di tangan lelaki dari Bani Israel. Sejak itu, Firaun mengawasi wanita Bani Israel yang hamil dan membunuh jika yang lahir bayi laki-laki.

Bani Israel dihantui ketakutan ini bertahun-tahun. Sejak itu jarang yang keluar rumah. “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman" (QS. Yunus 87).

 

Baca juga: TANDA-TANDA ALLAH MEMBERI HIDAYAH | YDSF

  1. Kisah Ashabus Sabt & Kewajiban Saling Mengingatkan

Jika Adam dihadapkan ujan berupa pohon, Bani Israil dengan ikan laut. Mereka seharusnya hanya beribadah pada hari Sabat dan tidak menangkap ikan. Allah menguji mereka. Pada hari Sabat, ikan-ikan bermunculan. Sedangkan di hari lain ikan-ikan ini tidak tampak. Penduduk melihat itu sehingga mereka tergoda. Di sisi lain, ada yang memberi teguran. Meskipun ada saja yang bersikap nyinyir.

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa’” (QS. Al A’raf 164).

 

  1. Pengepungan/Perang Al Azhab & Kesabaran Memohon Pertolongan Allah

Dakwah Islam makin berkembang di Madinah. Kaum Yahudi sakit hati. Lalu mereka berkomplot dengan musyrikin Mekkah menyerang Madinah. Kekuatan mereka makin besar setelah kabilah dari Gathafan dan Najd ikut bersekutu. Totalnya 10 ribu anggota pasukan. Jumlah ini bahkan lebih banyak daripada total penduduk Madinah termasuk anak-anak, wanita dan lansia. Jika mereka menyerang serentak, secara akal kaum muslim hancur tak tersisa.

Lalu Nabi saw. menerima usul Salman Al Farisi agar membuat parit yang lebar di sekeliling Madinah. Sehingga sekutu tak bisa masuk. Mereka hanya mendirikan kemah di luar Madinah. Selama hampir sebulan mereka mengepung, ada yang mengatakan 27 hari.

Suasana mencekam. “Kemarin Muhammad berjanji kepada kami kelak mampu menguasai harta simpanan Qisra (Kerajaan Persia) dan Qaishar. Nyatanya, hari ini tak ada seorang pun yang merasa aman, bahkan untuk buang hajat sekalipun.” Begitulah kenyinyiran orang-orang munafik saat itu.

Rasul saw. dan para sahabat tetap waspada dan terus memohon pertolongan Allah. Lalu ada Nuaim bin Mas’ud, pria dari Gathafan diam-diam masuk Islam. Lantas, Nabi saw. memberinya tugas. “Bantulah kami dengan segala kemampuanmu, karena sesungguhnya perang adalah tipu muslihat.” (Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfuri, Penerbit Al Kautsar, 1997, hlm. 349). 

Nuaim bin Mas’ud pun menemui para komandan musuh secara terpisah. Ia mengendurkan semangat mereka agar mereka pulang saja. Toh, Madinah sulit ditembus. Apalagi watak Yahudi yang suka berkhianat. Mereka pun memercayai Nuaim dan sekutu itu pun saling curiga. Lalu Allah menurunkan angin malam yang mengacak-acak kemah dan mematikan api unggun mereka. Setelah sebulan mengepung, pasukan gabungan itu pun bubar dengan tangan kosong. Dan Madinah pun kembali aman.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Juni 2020

 

Baca juga:

JARI-JARIMU DIHISAB | YDSF

Contoh Istiqomah dalam Beribadah | YDSF

13 Adab dalam Berdoa | YDSF

Dampak Maksiat dalam Kehidupan | YDSF

Tags:

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: