UPDATE NEWS

...

Tuesday, 11 February 2020 09:00

Kabar Gembira dari Rasulullah saw. | YDSF

Beberapa orang mendatangi Amr bin Al Ash menjelang kematiannya. Ia menangis cukup lama dan memalingkan wajahnya ke dinding. Lalu anaknya bertanya, “Wahai Ayah, bukanlah Rasulullah saw. telah memberi kabar gembira kepadamu tentang sesuatu? Bukankah Rasulullah saw. telah menceritakan kabar gembira kepadamu?”

Kemudian Amr bin Al Ash menghadapkan wajahnya kepadanya seraya berkata. Ia berkata, “Sesungguhnya, bekal kita yang paling utama yang kita siapkan adalah kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sungguh, aku ini sudah mengalami tiga tahap pengalaman hidup, yaitu tidak ada seorang pun yang lebih membenci Rasulullah daripada aku; tidak ada yang paling ku inginkan melainkan aku dapat membunuhnya; dan andaikan aku aku mati dalam keadaan seperti itu pasti aku menjadi ahli neraka.”

Amr bin Al Ash termasuk orang Qurasiy yang kaum cerdik-pandai dan terpandang di Mekkah. Ketika awal penyebaran Islam di Mekkah, dia salah satu sosok yang paling getol memusuhi Nabi. Dia banyak menyulitkan penyebaran Islam di masa itu. Dia-lah salah satu diplomat musyrik Quraisy yang mempengaruhi Raja Najasyi agar menolak hijrahnya kaum muslim di Afrika.

Sambil membawa hadiah, ia berusaha membujuk raja Habasyah itu agar mengusir kaum muslim yang berlindung di negeri Habasyah. Namun usaha itu gagal. Raja Najasyi menerima dengan baik kaum muslimin. Bahkan Najasyi mengajak Amr bin Al Ash untuk berpikir tentang ajaran yang dibawa Nabi. Sejak itulah ia mulai ragu dan memikirkan kebenaran Islam.

Tak lama dari Habasyah (7 H), Amr mengambil langkah untuk hijrah ke Madinah. Saat itu, pihak Mekkah dan Madinah berada pada masa gencatan senjata di bawah penjanjian Hudaibiyah. Dalam perjalanan ke Madinah, Amr bin Al Ash bertemu dengan Khalid bin Walid dan Usman bin Thalhah. Melihat ketiga tokoh Quraisy itu hijrah, Nabi bersabda, “Mekkah telah menyerahkan jantung hatinya kepada kita.”

Di hadapan Nabi, Amr bin Al Ash berkata, “Ulurkanlah tangan kanan engkau, aku hendak berbaiat kepada engkau.” Lalu Nabi saw. mengulurkan tangan beliau. Tapi buru-buru Amr bin Al Ash menarik tangannya kembali. “Ada apa denganmu wahai Amr?” tanya Nabi.

Amr menyahut, “Aku hendak masuk Islam tapi aku minta syarat.”

“Syarat apakah itu?”

“Dosaku dapat diampuni.”

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Ialam itu meruntuhkkan dosa-dosa sebelumnya? Hijrah itu meruntuhkan dosadosa sebelumnya? Dan haji meruntuhkan dosa-dosa sebelumnya.”

Amr kembali menceritakan kejadian itu di hari tuanya. “Sejak itu, tak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah dan tak ada seorang pun yang lebih mulia di mataku daripada beliau. Dan aku tak mampu memandang beliau lama-lama karena keagungan beliau” (dalam Ringkasan Shahih Muslim, Zaki Al Din Abd Al Azhim Al Mundziri, Mizan, hlm 39-40).

“Andaikan,” lanjut Amr, “Aku diminta untuk menerangkan sifat beliau, aku tak akan mampu menerangkannya karena akau tak pernah memandang beliau berlama-lama. Andaikan aku mati dalam keadaan seperti itu, aku berharap dapat menjadi penghuni surga. Setelah itu banyak peristiwa yang kami lewati dan aku tidak tahu bagaimana keadaanku di dalamnya.”

Amr berpesan kepada anaknya, “Kalau aku mati, jangan ada seorang pun yang mengiringiku dengan ratapan dan jangan pula dengan api. Apabila kamu mengubur aku, ratakanlah tanahnya dan diamlah kamu sebatas lamanya kamu menyembelih unta dan membagikan dagingnya hingga aku merasa lega. Kini aku sedang berpikir apa yang akan aku jawab jika malaikat utusan Allah menanyai aku nantinya.”

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Maret 2017

 

Baca juga:

UMMAT ISLAM, UMAT YANG TERBAIK

Contoh Istiqomah dalam Beribadah | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Dampak Maksiat dalam Kehidupan | YDSF

Amalan Ringan Berpahala Besar

Doa Minta Rezeki Halal dan Berlimpah Sesuai Sunnah | YDSF

Sedekah Online di YDSF

Share: