UPDATE NEWS

...

Friday, 22 September 2017 11:40

HUSNUL FUAD-KIPRAH SANG DAI YDSF DI PLAOSAN MAGETAN

Menjadi seorang dai adalah sebuah pilihan hidup, yang tidak semua orang dapat dan sanggup mengembannya. Karena tantangan dan hambatan yang menghadang di depan tidak  semudah yang dibayangkan. Apalagi tugas tersebut di pedalaman atau luar pulau. Salah satu sosok dai kita (YDSF) yang satu ini adalah contohnya. Sekarang Ia bertugas berdakwah di lereng gunung Lawu Plaosan Magetan. Sebelumnya pernah bertugas dari tahun 1979-1993 di daratan Flores timur, di pulau Solor 1979-1981. Kemudian pindah di pulau Adonara tahun 1982-1983. Selama  bertugas di daratan Flores Timur NTT, Husnul Fuad mengalami banyak suka dan duka. 

“Selama saya bertugas di daratan Flores Timur NTT, saya mengalami suka dan duka. Sukanya luar biasa bisa mengenal umat Islam yang minoritas di daratan Flores Timur NTT, dan dukanya saat itu memang kita belum ada listrik, kendaraan roda 2, dan semua menggunakan truk pengangkut kopra dan juga jalan kaki. Dan dalam berdakwah dari naik turun gunung, dari bukit turun ke ngarai sungguh indah rasanya untuk menggapai dakwah ini, untuk mengajak pada jalan yang benar.” Jelas sosok kelahiran Ponorogo 11 Juni 1957.

Perjalanan sang dai dimulai saat Ia mengajar MI/madrasah ibtidaiyah (SD), hingga menhgajar Mts/madrasah tsanawiyah (SMP). “Saya bertugas di pulau Solor Alhamdulillah mulai awal sampai akhir dengan baik mengajar di MI Tarbiyah pulau Solor dan MTs Tarbiyah, setelah itu saya pindah di Adonara pun mengajar di Mi Tarbiyah di desa Lamaodah. Disana Ia mengajar selama 2 tahun, dan disitu  bisa mengkhatamkan Al-quran sebanyak 69 anak yang khatam, dan mengislamkan/mensyahadatkan kurang lebih 16 orang. Dan kemudian saya pindah ke pulau Lembata, saya mulai mendirikan RA Nurul Iman, dan alhamdulillah disambut umat Islam sekitar dengan baik. Dan 1983 saya mendirikan MTs dan sampai sekarang 2 sekolah tersebut masih berjalan dengan baik.” Ungkapnya.

 Dai yang berdakwah di NTT selama 14 tahun ini, bisa mensyahadatkan sebanyak 21 orang. “Dengan jalan melalui perkawinan, karena tertarik dengan Islam, karena anaknya sudah ikut mengaji, kemudian ibunya juga tertarik, dan merekapun masuk Islam. Begitulah selalu ada suka dan dukanya, pada waktu berdakwah dengan jalan kaki pulang pagi, terkadang berangkat habis Ashar pulang malam bahkan sampai pagi,” ujar bapak 4 anak ini.

 Suka Duka Dakwah di NTT

Selain itu pengalaman-pengalaman yang menarik adalah di sana ia berdakwah senantiasa didukung oleh para alim ulama atau tokoh-tokoh masyakarat atau kepala suku di sekitar tempat tugas. Serta Ia sewaktu berdakwah disana kebetulah Allah mentakdirkan di NTT dan menentukan jodoh di sana pula. “Saya menikah dengan gadis anaknya kepala suku, dan sekarang saya punya anak 4 anak, 1 perempuan dan 3 laki. Anak pertama mendapat orang Batak, anak kedua mendapat orang Jawa, anak ketiga mendapat orang Madura. Dan keempat meninggal dunia waktu umur 9 bulan 10 hari.

Istri saya asli Flores Timur, dan asli Islam anak tokoh masyarat dan kepala suku disitu. Dan Alhamdulllah istri sayapun saya bawa ke Jawa untuk mendampingi saya senantiasa tekun dan tabah mendampingi dakwah saya dan dia siap mendampingi saya sampai akhir hayatnya nanti.” Jelasnya.

 Banyak yang suka dengan dai yang satu ini, tapi banyak juga yang tidak suka, dan sang dai ini sampai ‘diserang’ dengan ilmu hitam. “Awal mula saya mengajak orang Islam kepada islam, karena mayoritas di tempat saya dulu adalah judi dan mabuk. Ada yang suka dengan dakwah saya, juga ada yang tak suka. Bagi yang tak suka dengan saya bukan langsung bermusuhan dengan fisik, namun memakai ilmu-ilmu hitam. Dan sering menghadapi ilmu hitam, misal api melayang-layang kata orang Jawa “banaspati”, ada juga gumpalan-gumpalan rambut di sekitar tempat tidur saya, pernah juga kejar-kejaran dengan orang yang menganggu. Itulah yang sering saya temui saat berdakwah di NTT.” Ungkapnya.

Berdakwah Bersama YDSF

Setelah tahun 1993 Ia ditugaskan di Plaosan dan bisa berkenalan dengan YDSF di tahun 2012. “Maka saya sekarang menjadi dainya YDSF di lereng gunung Lawu tepatnya di Plaosan Magetan dan Alhamdulillah dari mulai awal bertugas sampai sekarang sudah banyak perubahan-perubahan dan sekarang kami mendirikan Rumah Tahfidz al-Fuad dan sudah mengikuti Indonesia Menghafal V di Gelora Bung Karno Jakarta, dan Indonesia Menghafal VI di Pare Kediri, semua santri-santri kami ikutkan yang sudah hafal alquran, baik itu yang hafal 3 juz maupun 5 juz, bahkan sampai ada yang 30 juz. Sampai tamat dari Aliyah kami kuliahkan secara gratis di tempat-tempat yang menerima kuliah gratis. Syukur alhamdullillah YDSF telah membantu kami untuk memberikan honor, kami gunakan menafkahi keluarga dan kegiatan-kegiatan dakwah. Semoga para donatur diberkahi Allahah dan dibalas dengan ganjarannyang setimpal,” harapnya. Saat mengakhiri sesi wawancara dengan YDSF.

 

 

 

 

Share: