UPDATE NEWS

...

Monday, 29 July 2019 10:00

Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF

Bicara keluarga pada hakikatnya kita bicara tentang kader penerus dan kader pemimpin. Itu yang diyakini oleh M. Jazir ASP, Ketua Dewan Pembina Masjid Percontohan Nasional Jogokariyan, Jogja.

Jazir menyimpulkan hal ini dari surat Al Furqon ayat 74. Ayat yang mengabadikan doa ibadurrahman ‘hamba-hamba Ar Rahman’ dalam  firman-Nya,  “Dan  orang-orang  yang berkata, Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa.”

Di ayat ini, lanjut Jazir, orang yang beriman kepada Ar Rahman harus berkiprah sebagai keluarga dan sebagai pemimpin. “Maka keluarga muslim harus menyiapkan calon-calon pemimpin di tengah umat. Setiap keluarga harus berfungsi sebagai wadah pengaderan pemimpin,” jelasnya.

Tak hanya itu, setiap keluarga muslim harus mandiri dalam segala hal. “Kemandirian meliputi ekonomi, pendidikan, dan politik. Nabi Daud itu utusan Allah, beliau juga seorang raja. Namun beliau sehari-hari makan dari hasil tangannya sendiri. Beliau juga mendidik Sulaiman menjadi generasi yang lebih baik. Sulaiman mendapat karunia sebagai Nabi, raja, kekayaan dan kekuasaan yang tak ada tandingan manusia setelahnya. Bukankah mereka ini teladan hidup bagi orang beriman,” tegas Jazir.

Maka, masih kata Jazir, kunci dari pengaderan generasi adalah keteladananan. Hal ini harus jadi masuk jiwa setiap pendidik dan orangtua. “Misalnya masalah kebersihan, kita masih hanya sebatas slogan. Kita lihat toilet-toilet di sekolah dan di tempat umum. Masih taraf tulisan jagalah kebersihan. Tapi belum bersih dan belum bebas dari aroma yang tidak sedap,” ungkap bapak empat anak ini.

Soal disiplin waktu juga demikian. “Di Jepang, kepala sekolah selalu tiba lebih dahulu untuk menyambut siswa. Mestinya kita tak perlu dipaksa disiplin. Karena Islam sudah mengajarkan Wal Ashr ‘Demi waktu’. Sehingga kedisiplinan kita ini karena perintah Allah,” tegas pria yang berhasil membina sejumlah remaja masjid Jogokariyan hingga menjadi tokoh nasional ini.

Ungkapan biar bapak saja yang menderita, Redaksi Al Falah sempat bertanya tentang fenomena orangtua yang rela memanjakan anak-anaknya agar mereka tidak ikut menderita seperti orangtuanya dulu. “Ya memang ada ucapan orangtua seperti ini, ‘Cukup Bapak saja yang merasakan susah, anak-anak tak perlu merasakannya.’ Tentu ini anggapan yang salah,” tukas Jazir.

Menurut Jazir, orangtua harus merasa bahagia kapan pun itu. Dulu, kini maupun esok. “Ayah dan ibu harus bahagia kapan pun dan dimana pun juga. Dan anak-anak harus lebih bahagia. Karena pendidikan itu membangun kebahagiaan dunia akhirat,” ujarnya menampik anggapan itu.

Selama mendampingi dan mendidik anak, ayah dan ibu harus dalam  suasana bahagia. “Bapaknya bahagia menemani anak belajar. Bapak bahagia menemani karena dulu belum ada ilmu. Sekarang banyak sumber belajar, bisa dari internet,” jelas pria yang berhasil mengantarkan salah putranya studi di Jepang ini.

Orangtua jangan malu untuk terus belajar. “Bahkan kita bisa belajar dari anak-anak kita. Dulu saya tidak tahu cara buka internet. Akhirnya saya belajar dari anak. Sambil mendampingi, kita belajar dari mereka. Jadi jangan merasa kita menderita untuk anak. Kita harus bahagia untuk anak kita agar mereka lebih bahagia,” beber bapak yang berhasil mengantarkan salah satu putranya dalam forum internasional ini.

Jazir mengusulkan agar kegiatan pembelajaran bagi wali murid harus lebih intensif dan terstruktur. “Sekolah harus mengusahakan kegiatan ini secara serius. Waktu anak saya tinggal di Jepang, dia harus ikut kursus di sekolah tempat cucu saya sekolah. Sebelum anaknya bersekolah, orangtuanya harus sekolah dulu. Sehingga orangtua kan memperkuat guru. Ya istilahnya kegiatan parenting,” ceritanya.

Dengan demikian, tiap keluarga menyadari tugas dan dibebankan Allah Swt. Setiap orangtua diperintahkan untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin terbaik bangsa. “Seharusnya sudah menjadi kesadaran kalau kita berhasil mendidik anak kita menjadi pemimpin yang menyelesaikan persoalan masyarakat. Maka selesai persoalan bangsa ini. Kalau tidak menyiapkan, justru anak kita akan menjadi persoalan masyarakat,” pungkasnya.

Naskah: Oki

Sumber : Jazir ASP
(Ketua Dewan Pembina Masjid Percontohan Nasional Jogokariyan Jogja)

 

Share: