UPDATE NEWS

...

Wednesday, 28 December 2016 16:00

Bakso Mengantar Putra Kuliah

Selama puluhan tahun, rombong bakso sudah menjadi bagian penting dalam keluarga Sadi dan Purwati. Dengan rombong itulah Sadi menjemput rezekinya. Sikap teguh dalam berwirausaha membuatnya mampu mempertahankan dagangan baksonya. Bukan cuma untuk menghidupi anak dan istri, namun juga bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Rutinitas pagi Sadi bersama istrinya, Purwati adalah memasak bahan-bahan pembuatan bakso. Kekompakan pasangan yang menikah tahun 1988 itu terjaga hingga bertahun-tahun. Rasa saling mendukung demi masa depan anak-anaknya lah yang menjadi tumpuan semangat mereka. Tanpa kenal lelah mencari berkah rezeki yang halal di mata Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sadi ditengah kesibukannya saat berdagang bakso

Di sebuah rumah kos Jalan Semolowaru Utara 1/131F adalah tempat keluarga ini tinggal. Di Surabaya pendatang asal Ngawi ini belum memiliki rumah pribadi. Rumah kos itu dihuni empat orang: Sadi, Purwati, dan kedua anaknya Rosiana dan Imron. Rosiana kini duduk di bangku kuliah, mengambil S1 jurusan Ekonomi. Sedangkan adiknya, Imron, masih duduk di bangku SMA. Di saat pagi usai shalat subuh, saat Sadi dibantu istrinya memproduksi bakso, kedua anaknya pergi menuntut ilmu.

Mulai jam sebelas siang, Sadi berkeliling mendorong rombong baksonya yang berwarna kuning. Rute yang dilewatinya adalah Semolowaru dan Nginden. Pria kelahiran tahun 1969 itu juga punya tempat mangkal di depan ruko tak jauh dari kampus Unitomo, Untag, dan Perbanas.Setiap hari dagangannya selalu habis, dan Sadi kembali ke rumah biasanya sekitar jam sembilan malam.

“Alhamdulillah dengan usaha ini cukup untuk biaya hidup. Ini semua berkat doa yang menjadi kunci utama. Mudah-mudahan ke depan lebih maju. Semoga anak- bisa lulus kuliah semua,” ujar Sadi.

Menjadi anggota Komunitas Usaha Mandiri (KUM) di YDSF memudahkan Sadi dan Purwati mendapatkan pinjaman modal untuk kelancaran usaha. Usaha bakso yang dahulunya masih ikut orang, kini semakin mantap untuk berdikari. Menurut mereka, membangun usaha secara mandiri tentu lebih terasa keuntungannya, karena sudah tidak tergantung pada bos dan bisa mengatur usaha sesuai keinginan.

Selama menjadi anggota KUM, banyak pula manfaat yang dirasakan pasangan ini. “Di KUM ini selain mendapat bantuan, juga mendapat pengalaman. Seperti ikut pelatihan juga pengajian rutin. KUM ini sangat membantu bagi pengusaha kecil seperti kami,” ujar Purwati saat ditemui di kediamannya.
ayu kartika|anggun putra

Share: