UPDATE NEWS

...

Monday, 2 January 2017 08:00

Wanita Pengundang Berkah

Pada Bulan Syaban 6 H, Rasulullah Muhammad saw. mendapat informasi pemimpin Bani Musthaliq, Al Harist bin Abu Dhirar melakukan persiapan untuk menyerang kaum muslimin di Madinah. Untuk memperkuat informasi itu, Nabi saw. mengutus Buraidah bin Al Hushaib Al Aslami menyelidikinya. Perkampungan Bani Musthaliq. Lokasinya sebelah selatan pusat kota Madinah. Bani Musthaliq termasuk bagian dari Bani Khuzaah yang memiliki hubungan persaudaraan dengan suku Aus dan suku Khajraz. Kedua suku inilah kaum mayoritas di Madinah yang kemudian disebut kaum Anshar.

Sebenarnya perkampungan Bani Musthaliq sudah menerima dakwah Islam. Bahkan sebagian di antara mereka ikut berjihad bersama Rasul saw. di Perang Uhud. Namun kemudian mereka masih merasa tinggi dari kaum muslimin. Karena kampung mereka pernah jadi tempat ziarah para jamaah haji. Di tengah kampung mereka dulunya terdapat patung Manat yang banyak disembah bangsa Arab jahiliyah. Sikap sombong seperti ini melahirkan bibit permusuhan terhadap kaum muslimin. Apalagi beberapa kabilah Arab bersedia membantu menyerang Madinah. Lalu mereka merancang sebuah pengkhianatan.

Setelah yakin dengan investigasinya, Buraidah melaporkannya kepada Nabi saw. Kemudian Nabi saw. bergerak cepat dengan memimpin 700 mujahid dan 30 penunggang kuda. Nabi saw. memerintahkan untuk segera mngepung Bani Mustahliq. Mendapat kepungan secara mendadak, membuat Al Harist bin Abu Dhirar dan anak buahnya kocarkacir. Bahkan beberapa kabilah sekutu melarikan diri dari barisan Al Harist. Atas izin Allah, rencana jahat Bani Musthaliq dapat dipadamkan.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasûlullâh menyerang bani Mushthaliq secara mendadak saat mereka sedang lalai sementara ternak-ternak sedang diberi minum, sehingga pasukan mereka terbunuh dan keluarga mereka ditahan. Termasuk di antara yang tertawan ketika itu adalah Juwairiyah (putri Al Harits bin Abu Dirar). Peristiwa ini terjadi di dekat telaga al-Muraisi. Oleh karena itu, peperangan ini disebut juga Perang Muraisi.”

Saat itu Juwairiyah binti Al Harits bin Abu Dirar ditawan dan menjadi milik sahabat Nabi bernama Tsabit bin Qais ra. Pada masa itu, tawanan sama dengan budak sehingga bisa dimiliki seseorang. Juwairiyah merupakan putri dari bangsawan Bani Musthaliq. Ayahnya pemimpin kabilah. Menurut riwayat, ia adalah wanita yang cantik dan lembut akhlaknya. Siapapun yang memandangnya tentu ingin memilikinya.

—Menjadi Sebab Datangnya Hidayah
Setelah ditawan, ia berusaha menebusnya dengan sejumlah harga mata uang saat itu. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw untuk meminta bantuan proses. Melihat paras Juwairiyah, Aisyah berkata, “Demi Allah, tatkala aku melihatnya di ambang pintu, maka langsung ada perasaan tidak suka kepadanya. Saya tahu Rasulullah saw. melihat ketidaksukaan ini.” Muncul rasa cemburu pada diri Ummul Mukminin (ibunda kaum beriman) Aisyah ra.

Di hadapan Nabi saw, Juwairiyah berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah Juwairiyah binti Al Harits bin Abu Dirar. Aku putri pemimpin kaumku. Saya mendapat bencana yang tentunya telah engkau ketahui.” Rasul saw. memahami maksud Juwairiyah.

Lalu Nabi bertanya, “Apakah engkau mau menerima tawaran selain tebusan?” “Apa itu?” “Aku akan menikahimu.“Baiklah wahai Rasulullah, aku setuju.”

Sejak Nabi saw. menikahinya maka ia tak lagi menjadi tawanan Tsabit bin Qais ra. Juwairiyah ra pun masuk Islam dan berjuluk Ummul Mukminin seperti istri nabi lainnya. Bahkan pernikahan ini membawa berkah. Para sahabat Nabi saw. satu per satu melepaskan tawanan dari kabilah Bani Musthaliq. Mereka semua dilepaskan dari perbudakan. Para sahabat nabi berkata saat itu, “Mereka itu adalah besan Nabi. Bebaskanlah mereka.” Setelah dibebaskan mereka dengan sukarela masuk Islam.

Melihat hal ini, Aisyah ra berkata, “Dengan pernikahan ini, maka ada 100 keluarga Bani Musthaliq yang masuk Islam. Saya tidak melihat seorang wanita yang lebih besar berkahnya bagi kaumnya selain Juwairiyah.” (oki, dari berbagai sumber).

Share: