Program

Perkembangan Islam di Iran | YDSF

12 Januari 2026•35 min baca•Super Admin
Perkembangan-Islam-di-Iran-YDSF
<p dir="ltr">Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan identitas Islam yang kuat, namun dalam konteks golongan Syi'ah. Dari masa Persia kuno hingga lahirnya Republik Islam modern, perkembangan Islam di Iran menunjukkan bagaimana agama dapat membentuk peradaban, politik, hingga identitas suatu bangsa.</p> <h2 dir="ltr">Iran Sebelum Islam</h2> <p dir="ltr">Sebelum datangnya Islam, wilayah Iran dikenal sebagai Persia yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Zoroaster. Penduduknya berasal dari bangsa Arya yang bermigrasi ke wilayah tersebut sekitar 1500 SM. Dalam perjalanan sejarahnya, Persia menjadi salah satu peradaban besar dengan sistem pemerintahan dan budaya yang kuat. Pada masa ini, agama dan negara berjalan beriringan, dengan raja sebagai pemegang kekuasaan politik sekaligus pelindung agama.</p> <h2 dir="ltr">Perkembangan Islam di Iran</h2> <ol> <li dir="ltr" aria-level="1"> <h3 dir="ltr" role="presentation">Ditaklukkan oleh Islam</h3> </li> </ol> <p dir="ltr">Islam pertama kali masuk ke Persia (Iran) pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Pada tahun 637 M, pasukan Muslim memenangkan Perang Qadisiyyah. Setelah itu, beberapa pemberontakan Persia berhasil ditumpas, dan wilayah Persia secara bertahap berada di bawah kekuasaan Islam. Konversi penduduk berlangsung secara bertahap. Pada awalnya, banyak masyarakat Persia masih mempertahankan agama leluhur mereka dan tetap diperbolehkan menjalankannya dengan membayar jizyah (pajak bagi non-Muslim). Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan pemerintahan dan kondisi sosial membuat semakin banyak orang Persia akhirnya memeluk Islam. Pada abad ke-9 M, Islam telah menjadi agama mayoritas di Persia, menandai berakhirnya era Zoroastrianisme sebagai agama dominan di Iran.</p> <ol start="2"> <li dir="ltr" aria-level="1"> <h3 dir="ltr" role="presentation">Masa Kekhalifahan Abbasiyah di Iran</h3> </li> </ol> <p dir="ltr">Pada tahun 820 M, wilayah Persia berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Banyak ilmuwan besar dari Persia yang menjadi pilar peradaban Islam seperti: Ibnu Sina (kedokteran dan filsafat), Al-Khawarizmi (matematika dan aljabar), Al-Farabi (filsafat politik), Al-Ghazali (teologi dan tasawuf). Kota-kota di Persia berkembang menjadi pusat pendidikan, penerjemahan karya Yunani, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kontribusi Persia pada masa ini sangat besar dalam membangun fondasi sains dan filsafat dunia Islam. Seiring waktu, muncul berbagai dinasti lokal yang menguasai wilayah Persia secara bergantian, seperti Dinasti Tahiriy, Samanid, Gaznawi, dan Saljuk.</p> <h2 dir="ltr">Mulai Masuknya Syi'ah di Iran</h2> <ol> <li dir="ltr" aria-level="1"> <h3 dir="ltr" role="presentation">Berkembangnya Dinasti Safawi dan Syi&rsquo;ah</h3> </li> </ol> <p dir="ltr">Periode penting dalam sejarah Islam di Iran terjadi pada berdirinya Dinasti Safawi pada tahun 1501 M oleh Ismail I. Dinasti ini menjadikan mazhab Syi'ah sebagai mazhab resmi negara, yang kemudian menjadi identitas utama Iran hingga saat ini. Safawiyah mengokohkan ajaran Syi&rsquo;ah Dua Belas Imam sebagai identitas negara. Shah Ismail I dan penerusnya mendorong perubahan mazhab ke Syi'ah melalui kebijakan negara dan penguatan lembaga keagamaan. Hal ini menyebabkan mayoritas masyarakat Iran bermazhab Syi'ah hingga kini dengan sekitar 90%-95% penduduk Iran menganut Syi&rsquo;ah.</p> <p dir="ltr">Masa Safawiyah juga ditandai dengan kemajuan ilmu dan seni keislaman Persia. Kota-kota besar seperti Isfahan menjadi pusat budaya Islam Syi'ah. Setelah kejatuhan Safawiyah pada abad ke-18, pemerintahan selanjutnya (Afsharid, Zand, Qajar) tetap mempertahankan agama Syi'ah sebagai agama resmi negara. Dengan demikian, tradisi keagamaan Syi&rsquo;ah yang dibentuk sejak era Safawiyah tetap hidup dan menjadi ciri khas Iran.</p> <ol start="2"> <li dir="ltr" aria-level="1"> <h3 dir="ltr" role="presentation">Masa Kemunduran Dinasti Qajar dan Pahlevi</h3> </li> </ol> <p dir="ltr">Setelah masa kejayaan Safawi, Iran memasuki periode kemunduran, terutama pada masa Dinasti Qajar (1785&ndash;1925) dan Dinasti Pahlevi (1925&ndash;1979).Pada masa Qajar, pemerintahan Iran tergolong lemah sehingga banyak memberikan konsesi kepada negara-negara Barat seperti Inggris dan Rusia. Konsesi ini adalah izin khusus yang diberikan kepada pihak asing untuk mengelola sumber daya dan sektor penting di Iran, seperti pertambangan, perbankan, transportasi, hingga perdagangan. Akibatnya, kedaulatan negara melemah dan ekonomi memburuk.</p> <p dir="ltr">Pada masa Pahlevi, dilakukan berbagai upaya modernisasi dan westernisasi, terutama oleh Reza Shah. Meskipun membawa kemajuan dalam bidang pendidikan dan militer, kebijakan ini juga menimbulkan ketimpangan sosial dan memicu ketidakpuasan masyarakat, terutama dari kalangan ulama. Ketergantungan pada asing serta kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat menjadi faktor utama melemahnya legitimasi kedua dinasti ini</p> <h1 dir="ltr">Revolusi Iran 1979 dan Republik Teokratis</h1> <p dir="ltr">Puncak dari ketidakpuasan masyarakat terjadi pada Revolusi Iran tahun 1979. Revolusi yang dipimpin Ayatullah Ruhullah Khomein berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Muhammad Reza Pahlevi dan mengakhiri sistem monarki yang telah berlangsung lama.</p> <p dir="ltr">Pasca-revolusi, Iran menerapkan doktrin Velayat-e Faqih, yaitu sistem pemerintahan di mana ulama tertinggi (pemimpin Agung) diberi wewenang tertinggi sebagai wakil Imam Mahdi yang ghaib. Konsep ini menempatkan ulama Syi'ah pada posisi sentral dalam politik dan pemerintahan, suatu hal yang jarang terjadi secara formal sebelum tahun 1979. Dengan demikian, struktur negara Iran berubah menjadi republik teokratis. Lembaga-lembaga negara mulai dari presiden, parlemen, hingga lembaga peradilan digerakkan oleh ajaran Syi&rsquo;ah. Bahkan dalam konstitusi dan undang-undang, nilai-nilai syariah dan tradisi keagamaan menjadi acuan utama</p> <p dir="ltr">Revolusi juga memicu perubahan sosial yang luas. Program modernisasi dan sekularisasi yang dijalankan oleh rezim sebelumnya (Revolusi Putih Pahlevi)&nbsp; menimbulkan kesenjangan sosial dan kebingungan identitas di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat merasa perubahan yang terlalu cepat dan cenderung meniru Barat membuat nilai-nilai agama dan budaya lokal mulai terabaikan. Dengan tumbangnya Pahlevi, pemerintah baru berupaya mengembalikan landasan agama dalam kehidupan publik.&nbsp;</p> <p dir="ltr">Sejarah panjang perkembangan Islam di Iran membuktikan bahwa penyebaran Islam tidak hanya soal ekspansi wilayah, tetapi juga transformasi peradaban. Namun, yang menjadi perhatian penting bahwa Islam di Iran hingga saat ini telah berbeda. Mayoritasnya adalah Syi&rsquo;ah. Yang mana sebagian besar ulama berpendapat bahwa Syi&rsquo;ah bukan bagian dari Islam.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p>

Dukung Program Ini

Mari bersama-sama membantu program ini untuk mencapai tujuannya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat