UPDATE NEWS

...

Sunday, 28 April 2019 10:00

Tips Melatih Anak Berpuasa | YDSF

Alah bisa karena biasa. Peribahasa lama itu semoga masih familiar di telinga kita. Maknanya, segala pekerjaan itu akan mudah dilakukan jika sudah biasa dilakukan. Pekerjaan yang sulit sekalipun jika dibiasakan melakukannya, maka kesulitan itu semakin lama akan hilang.

Pepatah itu berlaku juga dalam urusan beribadah. Semua dimulai dari belajar. Bisa dan akhirnya lancar. Orang-orang yang mahir membaca Alquran, seperti para qari, juga bermula dari belajar membaca huruf demi huruf dan kata demi kata. Semua mengalami salah baca berulang kali sampai menjadi mahir.

Salah satu ibadah yang juga tak kalah penting dan wajib dalam Islam adalah puasa Ramadhan. Ibadah yang termaktub dalam rukun Islam ini hanya boleh dilewatkan oleh mereka yang memiliki udzur syari. Berat? Mungkin ya. Karena sehari penuh kita tidak boleh makan dan minum serta melakukan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa selama sebulan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Bagi anak-anak, melaksanakan puasa sesuatu yang berat. Jika tidak dibiasakan sejak dini, anak-anak akan mengalami kesulitan lebih besar saat baligh, saat sudah wajib berpuasa. Karena itu sudah merupakan kewajiban bagi orangtua untuk mengajari dan melatih anak berpuasa.  Tentu saja harus dilakukan dengan bijaksana.  Jangan membuat anak merasa terbebani.

Lalu, langkah apa saja yang dapat dilakukan orangtua dalam melatih anak berpuasa sejak dini? Mari simak ulasan berikut.

Hadirkan kegembiraan di dalam keluarga

Segala pekerjaan akan terasa ringan manakala melakukannya dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan menghadirkan energi. Terlebih pada anak-anak, sangat kentara. Mereka kuat bermain berjam-jam karena melakukannya dengan penuh kegembiraan.

Setiap keluarga perlu menghadirkan kegembiraan menyambut Ramadhan. Perlu kegiatan tertentu untuk menyambut Ramadhan. Kakek nenek kita telah memberikan contoh. Menjelang Ramadhan mereka memasak kue tertentu, seperti kue apem di beberapa wilayah Pulau Jawa. Kue ini menjadi khusus, karena hanya dimasak menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Semua dimaksudkan agar kita menyambut hadirnya bulan puasa dengan penuh kegembiraan. Diharapkan akan masuk ke dalam pikiran anak-anak bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kegembiraan. Tidak ada yang perlu ditakuti dari ibadah puasa. Justru sebaliknya ibadah puasa momen untuk bersuka cita.

Selama Ramadhan suasana gembira ini perlu terus dijaga. Kegembiraan akan mampu mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus. Berikanlah buku-buku bacaan yang disukai anak-anak di hari libur. Bisa juga dengan memberikan permainan yang membuat anak asyik.

Di malam hari ajaklah anak-anak shalat tarawih ke masjid-masjid yang jarang mereka kunjungi untuk menemukan suasana baru.

Lakukan secara bertahap

Ibarat naik anak tangga, semua harus dimulai dari tangga pertama. Naik tangga secara tidak berurutan bisa jadi mencelakakan. Demikian pula berpuasa. Anak perlu belajar dari bawah. Dari hal-hal yang paling mudah yang bisa mereka lakukan.

Sewaktu orangtua bangun untuk sahur, anak-anak juga perlu diajak agar mereka tahu bahwa ada kegiatan makan sahur dalam ibadah puasa. Selanjutnya setelah makan sahur anak tidak perlu lagi sarapan pagi ketika hendak berangkat sekolah.

Biasanya di bulan Ramadhan pihak sekolah juga sudah membuat program untuk pembiasaan berpuasa. Waktu untuk makan makanan ringan (snack time) ditiadakan. Jadi, secara perlahan anak-anak sudah belajar berpuasa untuk beberapa jam.

Di negeri ini dikenal istilah puasa dhuhur. Anak ikut makan sahur kemudian tidak boleh makan dan minum sampai tiba waktu shalat dhuhur. Cara ini juga cukup bagus untuk mengajar anak-anak berpuasa.

Berikan penghargaan kepada anak

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya, orangtua perlu memberikan penghargaan kepada anak yang berhasil menjalankan ‘puasa’. Penghargaan berfungsi sebagai pendongkrak motivasi anak. Anak-anak yang sebelumnya merasa berat dan berencana akan menghentikan puasanya, bisa jadi akan tetap berpuasa di hari selanjutnya.

Tapi berhati-hatilah dalam memberikan penghargaan. Penghargaan berupa materi sebisa mungkin dihindari. Sesekali tidak mengapa. Itupun sesuatu yang bermanfaat bagi anak. Pilih buku bacaan atau mainan yang merangsang kecerdasan, seperti lego.

Penghargaan terbaik adalah penghargaan sosial. Pujian tulus dan pelukan hangat adalah contohnya. Bisa juga dengan memberikan waktu bagi anak untuk menonton TV lebih lama. Atau mengajak anak mengunjungi tempat yang disukainya. Penghargaan tidak perlu terlalu sering, karena bisa berakibat anak menjadi manja dan tergantung pada hadiah.

Selamat menyambut ibadah puasa Ramadhan.

 

Sumber: Majalah Al Falah Edisi Mei 2019
Oleh: Awang Surya (Penulis dan Motivator Islam Indonesia)
Editor: Ayu SM

Baca Juga:

Tiga Tingkatan Puasa | YDSF

Bayar Zakat untuk Orang yang Meninggal | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Kondisi Masjid vs. Mall di Akhir Ramadhan | YDSF

Perbedaan Pahala Shalat di Masjid dan Mushola | YDSF

Tips Memakmurkan Masjid | YDSF

Tips Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak | YDSF

Pintu Dosa di Era Digital | YDSF

Waspadai Perkara Perusak Amal | YDSF

Adab Terhadap Alquran | YDSF 

 

Share: