Tips Hadapi Cemas dalam Pandemi Covid-19 | YDSF

Tips Hadapi Cemas dalam Pandemi Covid-19 | YDSF

16 Sep 2020

Meski telah memasuki new normal, pandemi Covid-19 masih membuat sebagian besar masyarakat trauma dan mengalami kecemasan tinggi. Virus Covid-19 ini memang tidak nampak mata, tetapi sangat menular ke sekitar. Tapi, bukan berarti kita menjadi bebas karena telah new normal. Bahkan, DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB akibat adanya second wave Covid-19 di sana.

Kita perlu terus belajar harus bagaimana menyikapinya secara proporsional. Beberapa langkah Ibu sudah bagus, kurangi keluar rumah. Kalau keluar rumah untuk hal-hal yang penting saja, jaga jarak dengan orang lain, gunakan masker yang tiga lapis. Misal pakai masker kain, pakailah yang kainnya 2 lapis, lalu di antara kedua lapis masukkan tisu sehingga menjadi tiga lapis. Atau pakai masker bedah yang sudah standar.

Kalau membeli bahan makanan mentah dari luar, seperti sayur, masukkan plastik, diikat lalu plastiknya masukkan baskom yang berisi air sabun 10 menit kemudian dibilas, lap dengan kain lalu simpan di kulkas. Sayur bila dimasak akan aman dari virus. Buah-buahan tertentu yang berkulit seperti jeruk, pepaya, semangka, sebelum disimpan, direndam sabun 10 menit. Bila beli makanan matang dari luar sebaiknya pilih yang panas atau sesampai di rumah dipanaskan sebentar. Kalau dari luar rumah pakaian diganti, disarankan mandi dulu. Tetapi bila pakai pakaian muslim bisa juga pakaian saja yang dilepas terus cuci tangan dan berwudhu. Tahap-tahap wudhu sangat membantu menghilangkan virus.

Perlu rajin minum vitamin C dosis tinggi selain asupan makanan yang cukup. Bila kangen keluarga, lakukan dengan video call atau zoom atau media lain. Karena saat ini orang-orang yang sebenarnya positif Covid-19 tapi tidak bergejala dan tidak pula diperiksa swab.

Menyentuh barang barang dari luar, ikuti dengan cuci tangan dengan sabun Atau memakai hand sanitizier. Menyimpan uang saat ini jangan di dompet, tetapi simpan dalam plastik seperti plastik gula, sehingga tangan yang menyentuhnya bisa diamankan dengan cuci tangan atau pakai hand sanitizier.

Bila batuk pilek biasa, belum tentu kita menderita Covid-19, apalagi kalau sudah menjaga sedemikian rupa. Hangatkan badan dan minum obat yang biasa Ibu minum ketika belum ada Covid-19. Bila membaik berarti bukan Covid-19. Bila ada tambahan gejala lain seperti demam tinggi, nyeri otot, penciuman menurun , maka datangi dokter untuk dievaluasi. Apakah perlu swab atau tidak.

Baca juga: MEMAHAMI SOCIAL DISTANCING | YDSF

Cemas dalam dosis ringan adalah biasa saat pandemi, tapi jangan panik. Manfaatkan kecemasan ringan itu untuk waspada dengan cara telaten mengikuti protokol Covid-19. Lakukan keseimbangan antara kegiatan meski dalam rumah dengan ibadah, istirahat, refreshing dan tidur. Lakukan kegiatan, hobi dan kegiatan yang Ibu sukai, sehingga tidak bosan. Bila melihat berbagai berita membuat tambah cemas, batasi. Berhubungan dengan keluarga dan teman lewat berbagai media online, juga membantu mengurangi kecemasan. Bila semua usaha ini tidak berhasil baik dengan gejala tidak bisa tidur dan kelelahan yang amat berat, perlu berkonsultasi ke psikolog dan atau ke psikiater.

Bila bapil dan demam atau flu, tapi tidak ada kontak dengan pasien atau bepergian ke tempat yang diketahui ada yang positif Covid-19, tidak perlu tes rapid, cukup diobati sebagai flu biasa. Sebaiknya berkumur di tenggorokan, yang bisa membunuh baik bakteri maupun virus, sekitar 1 menit, atau minimal 3x nafas.

Antibodi yang terbentuk setelah terpapar Covid-19, beredar di darah di seluruh bagian tubuh, jadi darah diambil dari mana saja Insya Allah sama hasilnya. Rapid test yang ada saat ini adalah pemeriksaan antibodi terhadap Covid-19. Antibodi adalah sistem kekebalan tubuh yang dibentuk pada hari ke 9-14, untuk IgM dan 14-20 hari untuk IgG, setelah terpapar Covid-19. Tidak ada persiapan secara khusus. Cukup datang ke RS atau tempat yang menyediakan tes tersebut.

Swab PCR adalah pemeriksaan untuk mendeteksi virusnya langsung, bukan antibodi. Swab PCR positif berarti ada virus Covid-19 pada orang tersebut, sehingga dapat menularkan ke orang sekitar. Orang yang positif swab, ada yang membuatnya sakit berat, sedang, ringan atau tidak ada gejala. Yang tidak ada gejala tetapi positif swab disebut OTG atau orang tanpa gejala.

Semua harus tolong-menolong, dalam arti yang positif PCR, isolasi mandiri bagi yang OTG atau sakit Covid-19 ringan dan rawat di Ruang Isolasi Khusus (RIK) bagi yang sakit Covid-19 sedang dan berat. Untuk yang isolasi mandiri, makanan dan kebutuhan lain harus dicukupi oleh orang sehat dari luar rumah isolasi. Di dalam rumah ikuti semua protokol Covid-19.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi September 2020

 

Baca juga:

MEMAHAMI ERA NEW NORMAL | YDSF

Waktu Terbaik untuk Berjemur | YDSF

FASE NEW NORMAL, HATI-HATI DENGAN OTG | YDSF

COVID – 19 pada Manusia Yang Telah Meninggal, Apakah Menular? | YDSF

 

Sedekah dari Rumah

Share:


Baca Juga