UPDATE NEWS

...

Thursday, 5 September 2019 12:00

Sejarah Indonesia, Perjuangan Kasman Singodimedjo untuk Negeri | YDSF

Yogyakarta, 1941. Gedung Sekolah Kweek School Muhammadiyah itu penuh sesak. Kongres ke-30 Muhammadiyah resmi digelar. Berdatangan dari jauh, seluruh Indonesia perwakilan pimpinan Muhammadiyah dari tiap kota, tiap daerah.

Beragam suku, beragam bahasa, memimpikan Indonesia merdeka dengan rahmat Allah. Di sana, ada dua tokoh muda Muhammadiyah bersua. Ialah Hamka dan Mr. Kasman Singodimedjo, seorang yang namanya sedang naik daun karena baru saja keluar dari tahanan Belanda.

Mr. Kasman, Sarjana Hukum, pernah memimpin JIB (Jong Islamieten Bond), bisa dibilang organisasi pertama pergerakan Islam di Indonesia khusus pemuda, didikan Haji Agus Salim. Mr. Kasman saat itu menjabat Pimpinan Konsul Muhammadiyah ‘Batavia’, sedangkan Hamka yang lebih muda delapan tahun, diamanahi Pimpinan konsul Wilayah Sumatera Timur, Medan.

“Mr. Kasman adalah seorang yang terhormat, mendapat gelar Meester in de Rechten, Sarjana Hukum. Jarang saat itu orang bergelar Mr. pada Muhammadiyah. Rasa kekeluargaan begitu terasa, apalagi ada rasa bangga pada diri kami karena ada anggota Muhammadiyah yang ditangkap Belanda. Saat itu pula, pemimpin-pemimpin Muhammadiyah berdatangan seperti KH. Mas Mansyur, ketua Pengurus Besar, Haji Abdullah dari Makasar, Tom Oli dari Gorontalo, Citrosuwarno dari Pekalongan, dan lainnya,” kata Buya Hamka dalam buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 tahun.

“Yang membuat saya gembira juga,” kata Hamka, “Saat Mr. kasman yang terhormat itu saya kira tak ingin berkenalan cepat denganku. Tapi nyatanya beliau menjabat tanganku, dan saya merasa dia sangat santun dan menghormati sekitarnya. Pun setelah rapat-rapat, kami semua tinggal di pondok sederhana. Tidak ada keistimewaan bagi kyai, atau ketua pengurus, atau orang yang bergelar Misteer sekalipun,” kenangnya.

Suasana di pondok itu seperti dek kapal. Tidur menumpuk semua di sana. Begitu sederhananya saat itu. Kadang, malah mereka semua tidur siang di sana. Karena malamnya harus rapat, bersiap kelak Indonesia merdeka.

Bertumpuk sudah, satu bantal berdua beralas tikar. Kadang saling tindih, kepala, kaki, dan menyebar dimana-mana. “Berat, Saudara…berat…”, lalu diangkatnya kaki yang telah terletak di atas dadanya karena badannya kecil. Yang mengangkat kaki, karena keberatan memikul itu ialah Wakil Majelis Pemuda (WMP) Muhammadiyah dari Purwokerto, Sudirman namanya. Sedangkan kaki yang tertengger di atas dada kawan karena sedap tidurnya ialah kaki Mr. Kasman Singodimedjo.

“Baru lima tahun belakangan, kita melihat qadla dan qadar Allah bahwa pemuda yang berat memikul kaki itu ialah Panglima Besar TNI yang pertama di Indonesia Jenderal Sudirman. Sedangkan yang kakinya terletak di dada orang itu adalah Jaksa Agung yang pertama di Republik Indonesia dan turut menghadiri Proklamasi Mr. Kasman Singodimedjo,” kenang Hamka.

Pidatonya Penggerak Massa Kasman Singodimedjo, sebuah nama yang mungkin tak setenar Hamka, Roem, atau Natsir. Namun para tokoh masa silam menyanjungnya, berdiri, menaruh hormat padanya.

Lihatlah ketika Soekarno dan Hatta di penghujung 1943, ketika dilatih oleh Daidancho Kasman. Dengan penuh hormat, Pahlawan Proklamasi ini melaksanakan perintah-perintah Kasman dalam sebuah pelatihan. Mr. Moh. Roem, kawannya di JIB dan Masyumi mencatat bahwa Mr.Kasman, sosok berbadan tegap yang senang menunggangi kuda saat ia menjadi Komandan Peta Wilayah Jakarta.

Kasman kerapkali berpatroli bersama diikuti ajudannya menjaga keamanan Jakarta. Sebenarnya, Kasman sendiri enggan untuk bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Masuk PETA, Kasman balik memanfaatkan PETA untuk kepentingan Indonesia.

“Sesudah sholat istikharah itu saya seperti diberi petunjuk oleh Allah, bahwa ada hikmahnya saya masuk Peta itu. Saya melihat dari segi kerangka perjuangan saya bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, jabatan dan kedudukan saya dalam Peta akan saya manfaatkan sebaikbaiknya,” katanya.

Kegemaran pidato, pengalamannya memimpin JIB dan Muhammadiyah membuat Kasman diangkat menjadi Komandan Daidancho PETA Jakarta. “Di dalam Peta gemblengan jiwa lebih penting, mereka dilatih tahan menghadapai yang sukar. Gemblengan semangat dan latihan batin itu ialah Agama Islam., yaitu agama yang dipeluk oleh sebagian besar rakyat Indonesia! Sedikitnya lima kali sehari, prajurit Islam yang bersumpah kepada Allah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semuanya aku serahkan kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Maka jelas pada kita, bahwa prajurit Peta dilatih bukan untuk mementingkan diri sendiri, tetapi dicurahkan untuk kepentingan masyarakat, apalagi dasar perjuangan mutlak diserahkan kepada Allah. Segala perbuatan dianggap sebagai ‘iyyakana’ budu’ yaitu mengabdi kepada Allah!”

Kasman disebut sebagai ‘Tritunggal’, Soekarno-Hatta-Kasman. Tiga orang inilah yang menggerakkan rakyat berkumpul di Lapangan Ikada, menyerukan kemerdekaan.

 

Oleh Rizki Lesus

Sumber: Majalah Al Falah Edisi Agustus 2017

Editor: Ayu SM

 

Baca Juga:

Kisah Perjalanan Hidup Pahlawan Nasional, AR. Baswedan | YDSF

Kelas Rusak, Siswa SD & MI Cokroaminoto Bergantian Bersekolah

Biografi Abdul Wahid Hasyim, Sang Menteri Agama RI

ERNEST DOUWES DEKKER, MUALAF INDO, PEJUANG NEGERI INDONESIA | YDSF

Kisah Ketua DPR pertama RI, Kasman Singodimejo | YDSF

6 Prinsip untuk Menyiapkan Anak Sebagai Pejuang Kehidupan | YDSF

Konsep Patriotisme dalam Islam | YDSF

 

Share: