UPDATE NEWS

...

Sunday, 15 January 2017 12:00

Sedekah Kreatif

Ibu sedang membenahi almari pakaian. Mengeluarkan sebagian isinya, dan mengepaknya dalam kardus. Pekerjaan itu berlangsung sekitar dua jam. Putri melakukan hal yang sama. Bedanya ia hanya butuh waktu setengah jam. Pekerjaan ini merupakan “ritual” tahunan Ramadhan. Keluarga itu menyebutnya acara “cuci almari”.

“Mama kok lama sekali?!” tegur Putri. “Soalnya yang Ibu keluarkan banyak.” “Atau milihnya yang susah?” sindir Putri.

Ibu tidak segera menjawab. Dalam hati beliau membenarkan, setiap kali akan mengeluarkan pakaian untukisedekahkan, tiba-tiba nampak bagusnya. Bahkan yang sudah hampir dua tahun tak pernah dipakai pun --karena ketinggalan zaman-- hari itu terlihat modis.

“Putri tadi juga begitu kok Mam,” katanya seolah bisa membaca kecamuk pikiran Ibu. “Padahal perintahnya memberikan yang terbaik. Ini memberikan yang bekas pun beratnya minta ampun. Selalu dipilih yang terjelek. Jadi nggak ada bedanya memberi dan membuang,” gumam Ibu. Putri kemudian bersimpuh di samping Ibu, mengambil kardus dan dengan cekatan memasukkan baju, mukena, kerudung, selendang, dll ke dalamnya. Kemudian sgera mengikatnya.

“Supaya Mama ndak melirik dan kepikiran,” seloroh Putri. Mama spontan mendaratkan ciuman sayang ke kening putrinya, disambut pelukan hangat. “Apa yang akan kamu lakukan di Ramadhan?” “Putri sudah punya program dengan temanteman Remaja Masjid. Namanya ‘Gerakan Sedekah Kreatif’. Kami terinspirasi sebuah artikel di WA.” “Apa itu?”

“Membagikan nasi bungkus kepada pedagang kecil, pengemis, anak-anak jalanan, pengamen, pemulung. Targetnya sehari 10 bungkus.” “Membagikannya kapan? Mereka kan puasa?!” “Sehabis dhuhur, menjelang ashar. Sambil mengingatkan mereka bahwa sekarang bulan puasa. Karena itu kepada mereka selalu kami sampaikan pesan, ‘kalau nggak puasa, boleh segera dimakan, tapi kalau puasa, ya untuk berbuka’. Begitu, Mam.”

“Bagi yang belum berpuasa, tambahkan segelas air mineral. Tapi khusus yang berpuasa, hadiahkan buah kurma dan minuman ringan dalam botol. Semacam pahala dunia,” tutur Ibu. 

“Ide bagus, Mam,” sambut Putri. “Program lainnya, mengunjungi masjid dan seizin pengurus kami akan mencuci mukena dan sarung inventaris masjid yang biasanya lembab dan bau.” “Sekalian saja bawa kamper atau pengharum baju. Taruh di almari mukena. Lebih bagus lagi kalau membawa mukena baru untuk masjid atau musholla.”

“Wah, itu butuh dana besar, Mam. Kami baru berencana membeli beberapa pasang sandal jepit untuk mushola atau masjid di kantor atau di mal supaya bisa digunakan waktu berwudhu. Biasanya pengunjungnya kan pakai sepatu.”

“Ide cemerlang! Oh ya, bagus sekali kalau bisa memberi parsel lebaran berisi perlengkapan shalat. Bisa mukena, sarung, sajadah, kopiah, al Qur'an. Berikan ke Satpam dan tukang kebersihan komplek. Sambil mengingatkan mereka akan kewajiban shalat!” “Wah, dananya nggak cukup, Mam!”

“Ibu sanggup menyumbang. Nanti Ibu rundingkan dengan Ayahmu.”
“Artinya, idenya dari Mama, dananya dari Papa,” kelakar Putri.
“Sudah lumayan. Ibu kan mendapat bagian pahala juga. Pahala ide, mendorong orang berbuat baik.”
“Itu namanya amal paket hemat, Mam.”
“Ya sudah, Ibu menyumbang dua paket. Nilai satu parsel seratus ribu saja ya.”

Kini Ibu bangkit dibantu Putri, dengan agak susah payah karena dua jam lebih bersimpuh. Sambil berjalan keluar kamar, Ibu menceritakan rencananya membeli barang diskonan di swalayan. “Seperti sabun cuci, minyak goreng, buku, alat tulis untuk Ibu hadiahkan ke panti asuhan atau rumah singgah anak jalanan. Mereka pasti senang.” “Ide cemerlang, Mam. Nanti Putri bantu membawa barang belanjaannya.”

“Oh, Ibu kira mau membantu membayar juga?!” seloroh Ibu.
“Sudah lumayan, Mam. Putri kan mendapat bagian pahala juga. Pahala membawa dan pahala mendorong troli.”
“Lo, itu kan kalimat Ibu?!” Mereka berdua tertawa berderai.
“Pokoknya Putri selalu siap dimintai tolong tenaga. Jangan uang.”

Oleh : Zainal Arifin Emka

Share: