Psikologis dalam Bercanda | YDSF

Psikologis dalam Bercanda | YDSF

13 September 2022

Bercanda, menjadi salah satu aktivitas yang dapat merileksasikan diri. Namun, dari bercanda pula banyak hal secara psikologis juga akan terpengaruh. Terutama, bila kita sedang bercanda dengan usia anak-anak.

Dalam pergaulan kepada mereka tidak sedikit ada keengganan orang tua atau kaum dewasa memperhatikan dua hal ini. Entah itu disengaja atau tidak disengaja. Sadar atau tidak peniadaan dua hal tersebut membuat anak hilang keceriaan dan proses menikmati masa depan.

Ada baiknya menengok ke belakang. Kisah berikut terdapat di kitab Durratun Nasihin karya Syeikh Usman bin Hasan Ahmad Syakir al Kubawi. Tentang teladan dari manusia paling mulia, Rasulullah saw. Bagaimana beliau memperlakukan anak-anak. Bagaimana membuat anak-anak terasa dalam perlindungan seutuhnya dari ketiadaan. Bagaimana membuat anak-anak merasa hidup lebih panjang.

Suatu hari ada anak gadis lagi yatim yang terlihat murung di hari raya idul fitri. Anak tersebut paling beda sendiri karena yang lain sedang bergembira. Beliau melihat hal demikian muncul rasa iba. Didekati dan diusap kepalanya. Anak tersebut tetap menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Rasulullah saw. dengan lembut bertanya perihal ayahnya dan anak tersebut menceritakan ayahnya yang ikut berperang dengan Rasulullah dan gugur. Kemudian anak tersebut melanjutkan cerita jika tiap hari raya ayahnya membelikan baju manis berwarna hijau. Dan hari raya tahun lalu adalah pertemuan terakhir.

Mendengar cerita itu, Rasul saw. tersenyum dan memberikan secuil harapan dengan menjadikan dirinya sebagai ayah, Ali sebagai paman, Aisyah sebagai ibunda dan Fatimah sebagai kakak. Anak tersebut tanpa bilang apa-apa ikut ajakan Rasul dan keluarga Rasul memperlakukan istimewa kepada anak tersebut.

Rambutnya disisir, diberikan baju baru dan wewangian. Kebahagian menyelimuti anak tersebut bersamaan dengan kesedihan yang sedikit terlupakan. Tentu saja harapan yang diulurkan kepadanya membuat dirinya bisa melupakan sejenak tentang ayahnya yang telah meninggal. Rasulullah saw. paham betul posisi anak-anak dan cara memperlakukan mereka. Senyum sebagai awal perjumpaan yang manis dan kata-kata yang keluar dari lisannya memberikan berjuta harapan. Tentu saja ada penyesuaian dalam umur dan pemahaman.

Cara Bercanda Mempengaruhi Psikologi Anak

Psikolog Vera Itabiliana mengatakan, jika senyuman bisa mengaktifkan otak bagian emosi, salah satunya dengan meningkatkan positif pikir. Dari berpikir yang positif menumbuhkan semangat akan hidup. Jika diberikan kepada anak-anak bisa membuat anak cerah dalam menatap ke depannya. Bentangan kebahagiaan terhampar begitu luas.

Baca juga: 
Apa Itu Wakaf? Pengertian, Dalil, dan Hukum Wakaf | YDSF
6 Prinsip untuk Menyiapkan Anak Sebagai Pejuang Kehidupan | YDSF


Sapaan pertama dengan salam diikuti senyuman juga membuat doa yang terkandung dalam salam akan lebih terasa manfaat. Bagi telinga yang mendengar. Tidak hanya untuk anak-anak, juga orang dewasa juga merasa demikian.

Dalam kisah yang lain, Rasulullah saw. Pernah bertemu dengan seorang anak yang sedang murung karena burung piaraannya mati. Dan Rasulullah saw. yang banyak kesibukan dalam urusan keumatan masih menyempatkan menyapa anak tersebut. Tidak hanya itu. Beliau juga menyempatkan untuk bertanya tentang keadaan diri anak tersebut dan meminta menceritakan soal kematian burung tersebut. Dan Rasulullah dengan perkataan lembut dan penuh hiburan kepada anak tersebut.

Beliau bertanya, “Mengapa saya lihat Abu Umair sedih?” Keluarganya mengatakan, “Wahai  Rasulullah, burung kecil (piaraannya) mati.” Rasulullah menghampiri dan bertanya, “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh Nughair?” Nughair adalah sebutan burung naghru, sejenis burung pipit. Perhatian Nabi ini menghibur anak-anak dengan nada canda.

Kepedulian yang tampak dengan tulus tersebut membuat anak-anak menjadi mudah menerima orang dewasa. Baik itu dalam nasihat maupun dalam perbincangan kecil sekalipun. Apalagi dalam rangka untuk menghibur anak tersebut.

Dalam kasus seperti ini tentu anak akan merasa diperhatikan dan kepercayaan diri tumbuh dengan baik. Tidak masalah seberapa ukuran yang ada. Atau seberapa tinggi anak tersebut bisa mendapatkan pengaruh dari pendekatan yang diawali dengan senyuman ini.

Senyum seperti apa yang baik dan terasa manfaat bagi anak? Duchenne Smile, sebuah senyuman yang tidak hanya bibir saja yang ikut tersenyum. Mata, pipi dan alis pun ikut tersenyum. Dan hati anak yang lembut lagi bersih akan mudah menangkap senyuman seperti ini.

Seyogyanya, orangtua atau siapapun yang ingin mengembangkan pergaulannya dengan anak-anak ini perlu meniru cara senyum ini. Yang notabene sudah dipraktikkan oleh Rasul sendiri.

Khusus bagi guru yang berada di tingkat dasar, belajar untuk tersenyum merupakan kebutuhan akan kemampuan yang perlu dikembangkan dalam menghadapi anak-anak. Karena usia dasar adalah pengolahan karakter. Dan akan berhasil dengan adanya sebuah senyum yang tulus. Senyuman dan kata-kata dari hati menetaskan harapan untuk lebih hidup. Dan Rasulullah adalah sumber inspirasi.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Oktober 2017

 

Sedekah di YDSF


Artikel Terkait:

Kehidupan Ali bin Abi Thalib bersama Rasulullah | YDSF
BOLEHKAH SEDEKAH DARI HARTA HARAM? | YDSF
Adab Anak terhadap Orang Tua dalam Islam | YDSF
HUKUM LELANG DAN JUAL BELI WAKAF DALAM ISLAM | YDSF
Balasan Menolong dan Membantu Orang lain | YDSF
NIAT MENUNAIKAN ZAKAT | YDSF

Tags: psikologis bercanda

Share:


Baca Juga

Berinfaq/Bersedekah lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: