Peran Sentral Ayah dalam Keluarga | YDSF

Peran Sentral Ayah dalam Keluarga | YDSF

14 November 2022

Setiap tanggal 12 November, kita memperingati Hari Ayah Nasional. Pada peringatan itu hendaknya menjadi momen terbaik untuk menilik kembali peran sentral ayah dalam keluarga. Belakangan, banyak ayah yang sudah mulai meninggalkan peran ini, pasrah ‘bongkokan’ kepada ibu, guru, dan pihak lain. Nah, itu bertentangan dengan spirit Al-Qur’an, yang mana pendidikan itu berbasis keluarga dan sentral penanggung jawab utamanya adalah ayah.

Sosok ayah merupakan pahlawan, bukan hanya bagi anak, melainkan juga seluruh keluarga. Ayah dan Ibu mempunyai kedudukan yang sama-sama penting dan tak tergantikan dalam sebuah keluarga. Posisi wanita sangat istimewa dalam Islam, semua orang mengetahui bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Ayah bertanggung jawab atas semua yang terjadi dalam keluarga. Ayah juga menjadi partner luar biasa bagi ibu. Namun, tidak sedikit anak yang merasa takut kepada ayahnya. Apalagi peran pengasuhan lebih banyak dilakukan ibu. Terlebih lagi bila ibu juga bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Setelah pulang, masih banyak pekerjaan rumah tangga yang menunggu. Dalam melakukan banyak hal di keluarga, interaksi keseharian yang terbangun lebih banyak diwarnai antara ibu dan anak.

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dengan tegas dalam surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dalam ayat tersebut, terdapat nilai-nilai pendidikan tauhid serta tanggung jawab dan menyayangi keluarga, yang sebaiknya ditanamkan sejak anak usia dini. Nilai tauhid adalah dengan mengenalkan iman dan kewajiban untuk mengerjakan segala perintah Allah. Selain itu, juga terdapat perintah menjaga keluarga, dengan menjalankan tanggung jawab dan menyayangi keluarga.

Sementara dalam An-Nisa ayat 34, disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan laki-laki atas perempuan.

Menurut Ustadz Wijayanto, membangun sebuah keluarga dimulai dengan ijab kabul. Di dalam Islam, disebut sebagai perjanjian agung atau mitsaqan ghalidza. Bila dipahami dengan benar, ayat di atas juga mengajak untuk menguatkan ikatan keluarga sehingga menjadi kokoh. Kelak, kita semua akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Menikah itu menyenangkan. Dan dalam pernikahan diharapkan dapat membangun kekompakan.

“(Setelah pernikahan), ada tiga tanggung jawab yang harus diemban (suami). Yakni, tanggung jawab lahir, batin, dan keselamatan agama di dunia sampai akhirat,” ujar pendakwah nasional tersebut dalam Kajian Aktual al Falah YDSF.

Lebih lanjut, dai yang juga dosen di Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan, untuk menguatkan ikatan keluarga, selalu usahakan melakukan amal kebersamaan. Misalnya, makan bersama, tidur bersama, membeli suatu barang, bahkan mengecat rumah pun diputuskan dengan bersama-sama. Selain itu, juga bisa dengan, shalat bareng, puasa bareng, membaca koran bareng.

“Jagalah amal kebersamaan itu,” tegas pria yang telah berceramah sejak usia muda ini. Sebab, “Kebersamaan dapat membangun keberkahan.”

Baca juga: 
PERAN PENTING AYAH DI KELUARGA | YDSF
MENDIDIK ANAK KOMUNIKATIF DENGAN ORANG TUA | YDSF

Seorang suami pandai-pandailah menyenangkan istri. Sebaliknya, seorang istri pandai-pandailah menyenangkan suami. Bagi istri yang menyenangkan suami, pintu surga akan terbuka baginya.

Sementara itu, sebaik-baik suami adalah yang pandai menyenangkan istrinya. Tidak ada kemuliaan yang lebih mulia dibandingkan suami yang memuliakan istrinya. Dan tidak ada kehinaan yang lebih hina dibandingkan suami yang menghinakan istrinya.

“Rasulullah saw. sendiri sangat memuliakan istri,” lanjut Ustadz Wijayanto.

Keberhasilan Ayah Mendidik Anak

Keberhasilan mendidik anak tidak datang tanpa tujuan dan konsep yang jelas. Mendidik seorang anak datang dari visi atau niat ayah atau kedua orang tuanya. Visi mengarungi bahtera keluarga akan menentukan kualitas anak. Selain mampu mendidik anak dengan baik, visi keluarga yang bagus dan jelas juga akan melancarkan keharmonisan dan keutuhan keluarga.

Hendaklah berdoa sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim, seperti tertuang dalam Al-Furqan ayat 74, yang artinya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ustadz Ir. Misbahul Huda, M.B.A. menjelaskan bahwa indikator sukses seorang ayah dalam mendidik keluarga adalah yang mampu melahirkan anak-anak yang sukses. Terciptanya anak dan keluarga yang sukses pasti ada seorang laki-laki yang piawai menjadi seorang suami dan ayah. Serta ada juga wanita yang piawai sebagai istri dan ibu.

Psikolog kenamaan dan pakar pengasuhan anak, Elly Risman Musa, S.Psi., meneliti tentang Indonesia is Fatherless Country, atau Indonesia, sebagai negara tanpa ayah. Ayah hanya hadir secara fisik namun tidak hadir secara emosional dan spiritual. Rata-rata hanya 19 menit ayah berinteraksi dengan anaknya. Dapat dibayangkan bagaimana seorang ayah dapat mendidik anaknya dengan baik jika waktu berinteraksi ayah dan anak sangat minim.

Padahal, Al-Qur'an menyebutkan kisah teladan tentang peran penting ayah dalam mendidik dan mengasuh anak. Seperti, kisah Luqman yang menasihati anaknya, Nabi Ibrahim mendidik Nabi Ismail untuk patuh mengerjakan apapun perintah Allah. Juga terdapat kisah Nabi Zakariya serta Nabi Yahya yang mencontohkan peran sentral ayah dalam mengarahkan anak-anaknya.

Islam memberikan panduan dan tuntunan terkait kedudukan ayah dalam sebuah keluarga. Ayah mempunyai peran penting dalam pengasuhan anak. Bahkan, peran ayah berpengaruh besar dalam menentukan keutuhan karakter anak di masa depannya.

Sosok ayah yang ideal adalah yang menjalankan perannya secara utuh demi membangun keluarga kokoh. Bukan semata mencari dan memberikan rezeki yang halal dan baik untuk menafkahi keluarga, tapi juga memastikan pendidikan tauhid bagi istri dan anak-anaknya.

“Peran ayah selamanya tidak bisa digantikan oleh siapapun,” kata bapak dari enam anak ini.

Meskipun demikian, mari berkaca dari Rasulullah yang ditinggal ayahnya meninggal sejak beliau masih kecil. Rasulullah bertumpu dan bercermin pada sosok kakek dan pamannya, Abdul Muthalib dan Abu Thalib. Kakek dan paman beliau berperan sebagai ayah pengganti.

Begitu pula jika terdapat anak yatim yang ditinggal ayahnya meninggal dunia. Sang ibu hendaknya mencari sosok pengganti ayah dari lingkungan keluarga dekat. Pengganti sosok ayah dapat berupa paman, kakek, dan lainnya. Asalkan, dapat menjalankan peran sosok ayah yang memberikan pendidikan, pendampingan, dan teladan yang baik bagi anak.

“Bagaimanapun juga, harus ada sosok laki-laki pengganti ayah,” ujar pria yang pernah menjadi direktur utama maupun komisaris di berbagai perusahaan besar ini.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi November 2022

 

Raih Jariyah dengan Wakaf:


Artikel Terkait:

Teladan Kepemimpinan Ayah dalam Keluarga | YDSF
KONSULTASI ZAKAT DARI TABUNGAN GAJI DI BANK | YDSF
Jangan Terbiasa Berbohong pada Anak | YDSF
ZAKAT PENGHASILAN SUAMI-ISTRI BEKERJA | YDSF
Perbedaan Shalat Tahajud dan Shalat Lail | YDSF
HUKUM LELANG DAN JUAL BELI WAKAF DALAM ISLAM | YDSF
Wakaf Terbaik untuk Orang Tua Tercinta | YDSF
CARA MEMIMPIN GENERASI MILENIAL | YDSF

 

Peran Ayah dalam Al-Qur’an:



Tags: peran ayah dalam keluarga, peran sentral ayah, hari ayah

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: