UPDATE NEWS

...

Wednesday, 12 April 2017 12:00

PEDULI BENCANA LONGSOR NGANJUK

Kejadian tanah longsor di desa Kepel Kecamata Ngentos Kabupaten Nganjuk terjadi pada hari Minggu pukul 14:00 tanggal 9 April 2017.

Sebenarnya hal ini sudah lama terdeteksi oleh pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sejak tahun 2015 sudah ada gejala retakan tanah.

Seminggu sebelum terjadi longsor, retakan tanah ini bertambah lebar dan panjang.

 

Peringatan-peringatan sudah dipasang namun pada tanggal 9 tersebut ada 4 orang anak muda sedang mengabadikan pergerakan tanah tersebut dengan tujuan tidak

jelas, pada saat itu pula terjadi longsoran sehingga 4 anak muda tersebut menjadi korban, ditambah pria berusia 55 tahun yang sedang bekerja di ladang. Sehingga

total korban yang sampai saat ini belum ditemukan berjumlah 5 orang.

 

Dari data yang didapat berikut data korban longsor desa Kepel Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk, 4 warga dsn Sumber Bendo Desa Ngentos,

Kodri (15 th), Doni (23 th), Dwi (17 th), Bayu (14 th), dan 1 warga Dsn Jati Ds. Blongko Kec. Ngentos, Paidi (55 th).

Perlu diketahui lokasi tanah longsor ini merupakan wilayah pegunungan yang dijadikan area perkebunan dan sawah,

jadi jauh dari lokasi pemukiman warga. Sehingga korban jiwa saat ini (yang ditemukan) belum ada, selain rusaknya lahan pertanian dan perkebunan

di lokasi longsor. Akibat longsoran tersebut juga mengakibatkan sungai dibawahnya menjadi terbendung.

 

Hal ini dikhawatirkan air akan meluap karena terbendung, dan juga bila ada hujan deras, maka rumah-rumah yang berada

di aliran sungai terancam luapan sungai. “Penduduk wilayah aliran sungai dihimbau untuk mengungsi, namun himbauan

ke warga sebagian hanya ditanggapi untuk sekedar mengungsi ke rumah saudaranya. Bahkan 3 sampai 4 Kepala Keluarga (KK) kembali

lagi ke rumah dan tidak sepenuhnya mengungsi.

 

Hal ini butuh pendekatan khusus, serta pendataan ulang semua rumah 2 dusun yang berada di aliran sungai

” Ungkap Drs. Nugroho, Kepala Bidang Pencegahan, Investigasi dan Kesiap-siagaan BPBD Kab. Nganjuk.

Tanggal 10 April dibentuk tim Tanggap Darurat yang terdiri dari beberapa elemen antara lain Kepolisian, TNI, BASARNAS

langsung bekerja di lokasi melakukan pencarian korban tersebut selama 4 jam.

 

Pencarian sempat dihentikan karena ada pergerakan tanah lagi, siangnya jam 13 pencarian dilanjutkan sampai jam 16.30.

Sesuai prosedur pukul 17.00 pencarian wajib dihentikan. Namun sampai hari ini masih proses pencarian belum menemukan 

korban yang hilang tertimbung tanah longsor tersebut. Relawan lain yang terlibat mencapai 557 orang, tampak terlihat

terbentuk posko-posko berbagai elemen masyarakat, LAZ, LSM, yang didata oleh tim tanggap bencana di lokasi masuk.

Serta 1 buah dapur umum.

 

Tim UAC Yayasan Dana Sosial al Falah turun ke lokasi pencarian korban untuk mensupport para relawan dengan

membagi-bagikan 100 nasi bungkus. Karena alat berat tidak memungkinkan masuk ke lokasi, maka pencarian

korban dilakukan secara manual yaitu dengan menggali dan menyemprot tanah longsoran.

"Semoga upaya pencarian korban yang terus menerus di lakukan para tim relawan ini membuahkan hasil,

dan para korban egera ditemukan", kata Iksanuddin selaku tim Unit Aksi Cepat (UAC) YDSF.

 

 
 
 

Share: