UPDATE NEWS

...

Wednesday, 11 March 2020 10:00

Menjadi Bulan Haram, Benarkah Rajab Adalah Bulan Allah? | YDSF

Menjadi satu dari empat bulan haram, Rajab juga menjadi bulan dimana setiap umat muslim harus menjaga perbuatan dan amalannya. Karena memiliki keutamaan yang lebih dibandingkan dengan bulan lain, ternyata memberikan dampak yang kurang baik pula yang kemudian menimbulkan banyak persepsi dan pola pikir serta kebiasaan yang salah di masyarakat. Banyak beredar hadits dhaif bahkan palsu tentang Rajab.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rajab Bulan Allah Hadis Palsu

Salah satu hadits yang sering kita dengar mungkin yakni menyebut Rajab dengan bulan Allah Swt. Begini kurang lebih redaksional yang sering beredar,

“Bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya’ban adalah bulan saya, dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Status hadits ini sudah dinyatakan sebagai hadits palsu oleh para ulama. Meski semua bulan baik dan ada beberapa bulan yang memang dinyatakan menjadi bulan haram, tetapi tidak ada yang bisa melebihi keutamaan dari bulan Ramadhan. Yang mana keutamaan bulan Ramadhan itu sudah dipahami oleh umat Islam secara dhahuri (dapat diketahui secara langsung).

Dan yang perlu diingat kembali dengan bulan haram sebenarnya adalah Allah menjadikan perbuatan dosa yang selama bulan tersebut menjadi lebih berlipatganda dosanya (dengan ganjaran pahala bila berbuat baik pun mengikuti, dilipatgandakan). Sehingga, selain hadits tentang penyebutan empat bulan haram yang sudah cukup masih disebarkan dan diketahui, maka kita juga perlu mengingat salah satu firman Allah Swt. berikut,

إن عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

 

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36).

Dengan adanya hadits palsu tersebut, maka membuat kedudukan bulan Ramadhan menjadi lebih rendah dibandingkan Sya’ban, dan Sya’ban lebih rendah derajatnya dibanding dengan bulan Rajab. Padahal, ketika bulan Rajab dinisbatkan milik Allah, tentunya bulan Rajab menjadi segala-gelanya, tidak sebanding dengan bulan-bulan lainnya. Justru lebih fatal lagi, mengalahkan bulan Ramadhan.

Pemahaman yang seperti kemudian membuat pola pikir dan kebiasaan masyarakat pun secara tidak langsung bergeser. Penyambutan bulan rajab secara masif dan berlebihan. Bahkan, disebutkan dalam beberapa kasus, saat Rajab justru banyak wanita yang lebih banyak mengonsumsi obat anti haid dibandingkan saat Ramadhan. Alasan mereka adalah berpuasa pada bulan Ramadhan bisa diqadha’, sedangkan Rajab tidak. Astaghfirullah.

Ternyata, setelah dilakukan penelusuran, maka para ulam amenemukan apa yang menjadi sebab adanya hadist palsu Rajab bulan Allah. Pada masa jahiliyah, Rajab ternyata sangat diagungkan oleh para Yahudi. Hal ini pun kemudian dibuat sebuah kesempatan oleh para orang muslim yang tidak ingin ketinggalan dengan hal itu. Akhirnya dibuatkanlah hadits tentang Rajab bulan Allah tersebut, dengan kemualiaan yang bahkan melebihi Ramadhan.

Hadits palsu semaca inilah yang akhirnya diprpagandakan sehingga umat Islam lebih akrab dengan hadits palsu ketimbang haidts yang shahih.

Ibn Abi Sytaibah dalam bukunya al-Mushannaf memapaparkan bahwa “Hampir Umar ibn Khattab memukul umat karena pemuliaan mereka terhadap bulan Rajab. Ketika umat mempuasai bulan Rajab, maka secara paksa Umar ibn Khattab memerintahkan untuk membatalkan seraya mengatakan: Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan masyarakat jahiliyah.”

 

Disadur dari Majalah Al Falah Edisi Juni 2014

 

Baca juga:

BERDOA JUGA ADA ADABNYA

Contoh Istiqomah dalam Beribadah | YDSF

Perbedaan Pahala Shalat di Masjid dan Mushola | YDSF

Jamak Shalat Karena Sakit | YDSF

Keutamaan Membaca Ayat Kursi Dan Anjuran Sedekah | YDSF

Share: