<p>Pada masa pandemi ini, ketergantungan orang terhadap gawai meningkat. Begitu pula dengan pemakaian media sosial. Kondisi tersebut memunculkan sebuah fenomena yang disebut <em>social climber </em>atau panjat sosial (pansos). Istilah ini digunakan untuk menyebut orang yang mencari pengakuan sosial lebih tinggi dari kondisi atau status yang sebenarnya.</p>
<p>Krisis identitas dan gaya hidup juga menjadi salah satu alasan <em>social climber</em> semakin banyak muncul. Media sosial pun banyak memberikan pengaruh. Walaupun bagi sebagian orang, menjadi populer dan dominan bisa saja menyenangkan, tapi tidak perlu menjadi “orang lain” demi sebuah eksistensi diri.</p>
<p>Kondisi ini membuat sebagian orang ingin eksis untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Meskipun terkadang, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.</p>
<p>Seperti dilansir <em>Psychology Today</em>, perilaku <em>social climber</em> biasanya berasal dari rasa kurang percaya diri dan tendensi ekstrem untuk membandingkan diri dengan orang lain.</p>
<p>Berusaha keras menaikkan status sosial dengan menjadi <em>social climber</em> bisa berimbas pada kesehatan, apalagi jika tidak disikapi dengan baik. Misalnya jadi stres karena keinginan tidak tercapai. Atau stres karena disingkirkan.</p>
<p>Berbahagialah karena pencapaian yang dilakukan dengan usaha dan kerja keras. Jadilah diri sendiri dan apa adanya. Pencapaian diri tidak diukur dari pandangan orang lain.</p>
<p> </p>
<h2>Penyebab Muncul Panjat Sosial</h2>
<p>Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa perilaku ini muncul dan bahkan menjadi marak?</p>
<p>Giancarlo De Luca, PhD., seorang penulis jurnal menyebutkan, sebenarnya tiap individu adalah <em>social climber</em>. Entah disadari atau tidak, seorang manusia pasti pernah berhubungan dengan seseorang untuk tujuan tertentu. Tapi, tentu bukan semata-mata demi meningkatkan status sosial.</p>
<p>Di sinilah kita sebenarnya sedang mempertaruhkan ketenangan diri. Bahkan, bukan tidak mungkin, bisa saja menjadi pemicu munculnya depresi, selain juga menyebabkan seorang menjadi sangat ambisius dan obsesif.</p>
<pre><strong>Baca juga:</strong> <a href="../../../berita/anjay-dilarang-begini-adab-berbicara-dalam-islam-ydsf-sXK0.html">Anjay Dilarang, Begini Adab Berbicara dalam Islam | YDSF</a></pre>
<p>Dorongan kuat dalam diri <em>social climber </em>bahkan bisa membuatnya tega melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Tujuannya, untuk mendapatkan dan mewujudkan keinginannya. Hal ini seiring juga dengan ramainya pemberitaan kasus penipuan di media sosial.</p>
<p>Beberapa ciri-ciri seorang <em>social climber</em>:</p>
<p>1. Terobsesi status dengan standar yang ditetapkan sendiri.</p>
<p><em>Social climber</em> akan berteman dengan orang lain berdasarkan status sosial.</p>
<p>2. Peduli dengan pencitraan atau <em>branding</em> diri.</p>
<p>Penampilan itu penting bagi <em>social climber</em>. Mereka mencitrakan dirinya dalam pergaulan dengan berbagai cara. Misal menggunakan barang-barang mewah atau mengikuti gaya hidup tertentu.</p>
<p>3. Selektif memilih teman.</p>
<p>Demi mendapatkan pengakuan sosial, <em>social climber</em> akan berusaha ikut masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang mereka inginkan.</p>
<p>4. Senang memanfaatkan teman.</p>
<p>Bukan hal yang aneh jika para <em>social climber</em> senang memanfaatkan orang lain. Tentunya mereka melakukan hal tersebut untuk keuntungan diri sendiri.</p>
<p>5. Kurang berempati.</p>
<p>Dari luar, teman-teman yang dimiliki oleh <em>social climber</em> terlihat banyak padahal sebetulnya tidak terlalu dekat secara personal.</p>
<p><em>Social climber</em> juga cenderung bersikap narsis, mementingkan diri sendiri, dan kurang berempati dengan orang lain.</p>
<p>6. Tidak dapat diandalkan.</p>
<p>Sering membatalkan janji di detik-detik terakhir jika mendapatkan 'tawaran' lain yang lebih menjanjikan adalah salah satu ciri <em>social climber</em>.</p>
<p>Mereka akan melakukan segala cara untuk selalu berada di puncak. Jika seseorang dianggap sebagai penghalang, mereka tak segan-segan meninggalkan.</p>
<p>7. Ingin menjadi <em>Point of Interest.</em></p>
<p>Salah satu hal yang diinginkan oleh <em>social climber</em> adalah rasa kagum dari orang lain. Jika orang lain memperhatikan mereka, ini akan memunculkan perasaan senang dan puas. Tidak ada yang lebih membanggakan selain mendapatkan pujian dari orang lain. <strong>***</strong></p>
<p> </p>
<p><strong><em>Sumber Majalah Al Falah Edisi September 2020</em></strong></p>
<p> </p>
<pre><strong>Baca juga:</strong><br /><br /><a href="../../../berita/karakteristik-para-hamba-yang-dicintai-allah-ydsf-QYan.html">Karakteristik Para Hamba yang Dicintai Allah | YDSF</a><br /><br /><a href="../../../berita/cara-mencari-berkah-tabarruk-allah-sesuai-syariat-islam-ydsf-Tjb0.html">CARA MENCARI BERKAH (TABARRUK) ALLAH SESUAI SYARIAT ISLAM | YDSF</a><br /><br /><a href="../../../berita/rela-lepas-hijab-untuk-pekerjaan-dalam-hukum-islam-ydsf-3HUW.html">Rela Lepas Hijab untuk Pekerjaan dalam Hukum Islam | YDSF</a><br /><br /><a href="../../../berita/batasan-air-untuk-wudhu-ydsf-81l4.html">Batasan Air untuk Wudhu | YDSF</a></pre>
<p> </p>
<h3>Sedekah dari Rumah</h3>
<p><a href="../../../ayodonasi"><img src="../../../assets/media/2020/03/31/1223/1-ayodonasi.png" width="164" height="58" /></a></p>
Program
Mengulik Fenomena Panjat Sosial | YDSF
14 September 2020•27 min baca•Admin
Dukung Program Ini
Mari bersama-sama membantu program ini untuk mencapai tujuannya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat