UPDATE NEWS

...

Saturday, 7 September 2019 12:00

Mendidik Generasi Berdaya Juang Pahlawan | YDSF

Setiap  perjuangan melahirkan  sosok pahlawan.  Sejarah selalu  mencatat bahwa  pekerjaan  besar  hanya dapat  diselesaikan  oleh mereka yang mempunyai spirit  kepahlawanan.  Itulah sebabnya  nama  para pahlawan menyejarah  sebagai  orang-orang besar.

Pertanyaannya, bagaimana mendidik generasi agar mereka punya  spirit/naluri/karakter kepahlawanan? Kamus  Besar  Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan pahlawan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan  pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Ada dua kata kunci yang bisa dijadikan rujukan dalam makna kata pahlawan yakni:

(1) Bernyali dan berkorban,

(2) Di atas jalan kebenaran.

Jika seseorang begitu bernyali dan rela berkorban, namun bukan di atas jalan kebenaran, tak pantas disebut  pahlawan.  Sebaliknya, jika seseorang berada di atas jalan kebenaran, namun tak bernyali, tak  bervisi, enggan berkorban, maka sejarah tak akan memberi sematan gelar pahlawan.

Berpijak  pada  konsepsi  di atas, untuk melahirkan generasi dengan  etos  kepahlawanan, kita pun akan dipandu oleh dua narasi  besar.

Pertama,  sebagai pendidik,  fokus  kita  adalah mengajarkan peta kebenaran sampai  terhampar  nyata, diyakini sebagai sebuah visi yang akan  menjadi  suluh  kehidupan. Tak ada cara lain, dekatkan anak didik kepada rujukan kebenaran utama, Al-Qur’an.

Generasi  beretos kepahlawanan  adalah  generasi penggerak,  berprinsip  dan setia  di  atas  jalan  kebenaran. Al-Qur’an  menyebut  generasi seperti  ini  adalah  generasi terbaik.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Ali-Imron [3]: 110).

Itulah  generasi  yang  punya kejelasan  prinsip  dan  aksi:  beramar  ma’ruf  nahi  mungkar dan  beriman  kepada  Allah. Generasi  yang  kokoh  tak mudah  diombang-ambingkan oleh  lingkungan.  Bukan generasi  ikut-ikutan,  generasi buih yang dipermainkan arah gelombang. Kita diingatkan oleh manusia terbaik sepanjang sejarah  kemanusiaan, Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Janganlah kalian menjadi Imma’ah; kalian berkata: jika orang-orang baik, kami pun ikut baik. Dan jika mereka dzalim kami pun ikut dzalim. Tetapi siapkan diri kalian (untuk menerima kebenaran dan kebaikan); Jika orang-orang baik, kalian harus baik dan jika mereka rusak kalian jangan menjadi orang dzalim.” (HR. Tirmidzi)

Narasi kedua yang perlu dikerjakan  pendidik  adalah menyalakan nyali (rela berkorban,  pantang  menyerah). Tentang  nyali  ini, Ustadz Anies Matta dalam Serial Kepahlawanan memberi nasihat bahwa tak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab  kesabaran  adalah nafas yang menentukan lama tidaknya  sebuah  keberanian bertahan  dalam  diri seorang pahlawan.

Jika risiko adalah pajak keberanian, maka  hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak  itu  terus-menerus.  Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam  firman-Nya:

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”(QS. Al Anfal: 65).

Ada banyak pemberani yang tidak mengakhiri hidup sebagai pemberani. Karena mereka gagal  menahan  beban  risiko. Jadi  keberanian  adalah  aspek ekspansif  dari  kepahlawanan.

Tapi  kesabaran  adalah  aspek defensifnya.  Kesabaran  adalah daya tahan psikologis yang menentukan  sejauh  apa  kita mampu  membawa  beban idealisme  kepahlawanan,  dan sekuat apa kita mampu survive dalam  menghadapi  tekanan hidup.

Mereka yang memiliki sifat ini  pastilah  berbakat  menjadi pemimpin  besar.  Coba  simak firman-Nya:

“Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan  perintah  Kami  ketika mereka bersabar dan mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah: 24).

Demikianlah  ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Al Qur’an dan dijelaskan dengan detil beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi  yang paling terhormat:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (QS. 2: 45 )

Mereka yang memiliki naluri kepahlawan  harus  mengambil saham  terbesar  dari  kesabaran. Mereka  harus  sabar  dalam segala  hal, yakni  dalam  ketaatan, meninggalkan maksiat atau menghadapi cobaan.

Berpijak  pada korelasi pahlawan dengan  nilai kesabaran,  perlulah  pendidik merancang tumbuhnya karakter sabar  melalui  tiga  cara:

(1)  terciptanya  situasi  dan kondisi  ketaatan  kepada  Allah,

(2)  semangat  kuat  menjauhi maksiat,

(3)  memberinya situasi  cobaan/tantangan sebagai  “latihan  beban” psikologis.

Saya menyebut cobaan  atau  tantangan  yang terukur itu sebagai kurikulum kesengsaraan. Yang sedemikian itu insya Allah  membuat  anak-anak kita  melangit  karena  jiwanya terpandu  oleh  Al-Qur’an, mentalnya  punya  daya  lenting yang  tangguh  karena  terbiasa memanggul  beban  idealisme, raganya membumi karena melakukan  kerja-kerja  yang menguras tenaga.

Sebagaimana para petani yang berdoa di  tengah  sawah,  mereka mempunyai harapan besar akan panen  raya,  tetapi  pikiran  dan tenaga mereka juga tercurahkan pada kerja berpeluh keringat. Semangat  mendekat taat dan menjauhi  maksiat,  semangat melipatgandakan kekuatan otot-otot  mental  kesabaran. Semoga Allah ridha.

 

Sumber: Majalah Al Falah Edisi November 2018

Editor: Ayu SM

 

Baca juga:

6 Prinsip untuk Menyiapkan Anak Sebagai Pejuang Kehidupan | YDSF

Inilah 4 Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Secara Islami | YSDF

Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF

Hukum Mengajak Anak Kecil ke Masjid | YDSF

 

Millennial Pembentuk Khoiru Ummah | YDSF

 

 

Share: