UPDATE NEWS

...

Wednesday, 8 January 2020 01:00

Kisah Sapi Betina (Baqarah) - Umat Yang Mempermainkan Perintah Nabi | YDSF

Bani Israil adalah kaum yang banyak mendapat keistimewaan di masa lampau. Allah telah memuliakan mereka dengan banyaknya nabi dan rasul di kalangan mereka. Para utusan Allah itu lahir dan berdakwah di tengah mereka. Para rasul itu juga telah menunjukkan bukti-bukti nyata dari Allah berupa banyak mukjizat yang luar biasa. Namun keistimewaan ini lebih sering diremehkan oleh mereka. Bahkan Bani Israil berani mengolok-olok mukjizat para nabinya sendiri. Kisah sapi betina (Al Baqarah) ini salah satunya.

Nabi Musa telah meminta kaumnya untuk menyembelih seekor sapi betina. Permintaan Musa itu sebenarnya perintah Allah Swt, bukan perintahnya sendiri. Dan perintah Allah itu tentunya harus diterima dan dilaksanakan tanpa kompromi.            

Al Quran menjelaskan, “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata, ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil’" (QS. Al Baqarah 67).

Tampaknya, Musa mengetahui tabiat dasar kaumnya, yaitu suka terlambat dalam pelaksanaan tugas dan suka berkilah dalam menunaikan perintah. Sementara Musa menginginkan agar kaumnya bersegera melaksanakan perintah. Karena itu, ia menisbatkan perintah itu kepada Allah. Sebab jika ia menyandarkan perintah itu kepada dirinya sendiri kemungkinan besar mereka akan mendebatnya dan menolak perintah itu. Padahal melaksanakan perintah rasul adalah wajib.                 

Musa sebenarnya telah memberitahukan kepada mereka bahwa perintah Allah itu jelas dan pengertiannya pasti, yaitu untuk menyembelih sapi betina. Baqarah ‘sapi betina‘ dengan sengaja memakai bentuk kata benda tidak tentu (indefinite noun) memberikan pengertian umum. Ini berarti jika mereka menyembelih sapi betina apapun. Tidak penting warna, ukuran, usia, penggunaan, dan harganya, yaitu sapi betina mana saja.              

Perintah itu tidak mungkin membingungkan orang yang benar-benar ingin melakukan kewajiban dan melaksanakannya karena begitu jelasnya ungkapkan perintah tersebut. Jadi, sebenarnya tidak perlu bertanya-tanya lagi.

Orang-orang Yahudi itu tidak segera melaksanakan perintah serta tidak mematuhi Allah dan rasul. Mereka berlaku seperti itu karena tidak memiliki hati yang patuh dan loyal. Mereka itu yang semestinya menghormati nabi mereka dan melaksanakan perintahnya, justru berbuat jahat dan kurang ajar kepadanya serta membantahnya seraya mengatakan, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” 

Sepertinya mereka mengatakan, “Apakah kamu hendak menghina dan mengejek kami dengan memerintahkan ini kepada kami? Apa hubungannya antara menyembelih sapi betina dan menyingkap kasus pembunuhan? Kami mendatangimu untk memecahkan masalah kami.kami hanya ingin mengetahui si pembunuh. Lantaran kamu adalah seorang nabi yang mengetahui hal gaib dengan izin Allah maka seharusnya kamu memberitahukan kepada kami tentang si pembunuh itu. Kamu justru malah meminta kami untuk menyembelih sapi betina daripada menyingkap misteri pembunuh. Ini adalah suatu perintah aneh yang menunjukkan bahwa kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan.”

Bantahan mereka ini justru menyingkap tabiat dasar Bani Israil, hubungan mereka dengan para nabi mereka, dan sikap mereka terhadap perintah Tuhan” (Kisah-kisah dalam Al Quran, Shalah Al Khalidy, jilid I).

Hal ini mengingatkan kita kepada ucapan kaum Nabi Ibrahim ketika beliau meminta mereka untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan praktik penyembahan kepada berhala-berhala.

“Dan kami sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah kami mengetahui ( keadaannya). (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya kepadanya?’’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapati  bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka menjawab, ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang- orang yang bermain-main?’

“Ibrahim berkata, ‘Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu’”(QS. Al Anbiya’ 51-56).          

Hampir tidak ada bedanya antara dua bantahan tersebut. Meskipun terdapat perbedaan predikat orang-orang yang mengatakan itu (kaum Nabi Ibrahim adalah orang-orang kafir dan penyembah berhala sedangkan kaum Nabi Musa adalah orang-orang beriman kepadanya). Tetapi predikat apakah yang dapat kita sematkan kepada kaum yang mengaku beriman kepada nabi mereka tetapi terbetik di benaknya bahwa Nabi Musa yang mereka percayai dan ikuti itu dianggap mengejek dan menghina mereka?

Musa menjawab, ”Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Musa menjawab bantahan kaumnya dengan menafikan dirinya dari melakukan ejekan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap menghina merupakan suatu kebodohan, khususnya dalam persoalan agama dan hukum-hukum syariat.

Orang-orang bodoh adalah orang-orang yang memakai agama mereka sebagai permainan dan ejekan, dan yang membuat segala sesuatu sebagai permainan dan gurauan, hingga terhadap agama mereka, keislaman mereka, dan hokum-hukum mereka. Orang-orang yang bodoh adalah orang-orang yang tidak pernah merasa nyaman kecuali dengan mendiskreditkan dan menghujat nilai-nilai agama, ajaran-ajaran syariat, dan bimbingan-bimbingan keislaman.

 

Sumber: Majalah Al Falah Edisi April 2018

 

Baca juga:

Kisah Kaum Terdahulu yang Dibinasakan Allah | YDSF

Kisah Mualaf: Islam Agama Tanpa Celah | YDSF

WAKTU TERBAIK TERKABULNYA DOA | YDSF

Keutamaan Membaca Ayat Kursi Dan Anjuran Sedekah | YDSF

Kisah Mualaf dari Ausi, Terlahir Tak Kenal Tuhan | YDSF

Share: