Program

Kisah Inspiratif : Jemput Jodoh dengan Islam | YDSF

27 Februari 2019•36 min baca•Admin
featured
<p><em>&ldquo;Dari kisahku ini aku belajar, Allah selalu memiliki cerita indah</em>.&rdquo;</p> <p>Namaku Indra Yanuar. Lebih mudah, panggil saja aku Indra. Di usiaku yang sudah menginjak 33 tahun ini, masih membujang. Maklum, aku terlalu fokus memenuhi pundi-pundi uang. Aku dibesarkan dalam naungan ajaran Katolik. Meski keluarga besar papaku Protestan, beliau memilih mengikuti keyakinan mamaku.</p> <p>Namun&nbsp; aku&nbsp; bukanlah&nbsp; sosok&nbsp; yang&nbsp; rajin&nbsp; beribadah.&nbsp; Dalam&nbsp; sebulan hanya beberapa kali aku ke gereja. Dalam&nbsp; perjalanan&nbsp; kesendirianku,&nbsp; aku&nbsp; menemukan&nbsp; sosok perempuan yang begitu anggun dan lembut. Aku pun bertekad memiliki&nbsp; hubungan&nbsp; lebih&nbsp; dari sekadar teman.</p> <p>Dua&nbsp; bulan&nbsp; yang&nbsp; lalu, rekan kerjaku mengenalkanku dengannya.&nbsp; Seorang&nbsp; wanita muslim&nbsp; berhijab.&nbsp; Namanya&nbsp; Iis. Aku pun mengutarakan padanya bahwa&nbsp; aku&nbsp; mencari&nbsp; sosok&nbsp; istri.</p> <p>Tawaranku diterimanya dengan hangat.&nbsp; Perbedaan&nbsp; keyakinan membuat kami tak langsung berani melangkah. Sebelum&nbsp; melangkah&nbsp; jauh, kami pun berdiskusi tentang langkah ke depannya. Aku menghargai keputusannya untuk tidak masuk ke agamaku.</p> <p>Gejolak&nbsp; di&nbsp; awal&nbsp; pasti&nbsp; ada. Aku&nbsp; berusaha&nbsp; membulatkan tekad.&nbsp; Aku&nbsp; ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kuputuskan untuk menjadi seorang mualaf.</p> <p>Dalam&nbsp; obrolan&nbsp; hangat bersama mama dan papaku kala&nbsp; itu, aku mengutarakan niatku menjadi seorang muslim. Cerita menyedihkan bahkan mengerikan dari teman-teman mualaf, ternyata tak&nbsp; terjadi padaku. Mama dengan lapang dada&nbsp; mengizinkan&nbsp; aku&nbsp; masuk Islam.&nbsp; Betapa&nbsp; bahagianya&nbsp; hati ini.&nbsp; Lalu&nbsp; papa?&nbsp; Papaku sih apa kata mama saja.</p> <p>Biar pun masuknya mudah, ternyata belajarnya&nbsp; cukup susah. Aku yang tak pernah sekali pun tahu&nbsp; dan&nbsp; membaca tulisan&nbsp; Arab,&nbsp; kini&nbsp; harus&nbsp; mulai membiasakan diri untuk bisa bahkan menghafal bacaan-bacaan shalat. Hari aku ikrar pun datang.</p> <p>Rekan kerjaku lah yang menjadi saksi saat aku memulai babak baru dalam perjalanan hidupku. Hidup dalam naungan Islam. Di saat itu pula untuk pertama kalinya aku berwudhu.</p> <p>Setiap tetesan air yang mengalir di kulit tubuhku memberikan kesegaran tersendiri. Beda sekali dengan mandi.&nbsp; Seusai wudhu pun batinku menjadi lebih&nbsp; tenang.&nbsp; Nikmat&nbsp; yang&nbsp; tak bisa&nbsp; kuliskan&nbsp; hingga&nbsp; saat&nbsp; ini setelah&nbsp; aku&nbsp; menjadi&nbsp; seorang muslim.</p> <p>Hari-hari&nbsp; sebagai&nbsp; seorang muslim&nbsp; ku lalui &nbsp;dengan&nbsp; indah. Tak&nbsp; ada&nbsp; hinaan,&nbsp; tak&nbsp; dikucilkan, bahkan&nbsp; tak&nbsp; ada&nbsp; teror.&nbsp; Masyaa Allah.&nbsp; Aku&nbsp; merasakan&nbsp; betul bagaimana Allah menyayangiku.</p> <p>Memiliki pekerjaan di sebuah&nbsp; restoran&nbsp; fast food asing yang sangat terkemuka namanya,&nbsp; tak&nbsp; membuatku kesusahan&nbsp; menjalankan&nbsp; shalat tepat&nbsp; waktu.&nbsp; Justru,&nbsp; selalu ada rekan kerja yang juga mengajakku untuk beribadah.</p> <p>Belajarku&nbsp; tak berhenti. Sampai detik ini pun aku masih harus belajar banyak tentang Islam.&nbsp; Mengubah&nbsp; diriku. Lebih dekat dengan Allah. Dan&nbsp; juga bersiap menjadi imam yang baik untuk Iis.</p> <p>Buku-buku panduan shalat masih kubaca.&nbsp; Kupelajari&nbsp; agar aku&nbsp; benar-benar memahami. Tak&nbsp; berhenti di satu&nbsp; buku, aku pun membeli&nbsp; buku-buku lain agar&nbsp; aku bisa lebih mudah belajar Islam. Datang ke kajian-kajian agar imanku semakin dikokohkan.</p> <p>Biasanya, aku belajar saat menjelang tidur. Waktu kondisi rumah&nbsp; tenang.&nbsp; Tak&nbsp; hanya soal ibadah.&nbsp; Keseharianku&nbsp; pun berubah. Setelah menginjakkan diri di garis start Islam, aku mulai bisa menjaga diri. Membatasi dari pergaulan yang tidak bermanfaat dan menimbulkan mudharat.</p> <p>Bisa dibilang, aku dulunya anak gaul. Tidak afdol rasanya kalau&nbsp; tidak nongkrong&nbsp; hingga ayam jantan berkokok di waktu subuh. Tetapi&nbsp; kini, rasanya ada pagar yang membuatku sadar. Seolah tubuh dan jiwa ini sudah tergerak sendiri untuk menolak.</p> <p>Alhamdulillah, bisa dibilang aku adalah mualaf&nbsp; yang beruntung. Aku mendapat teman-teman&nbsp; muslim&nbsp; baru, tetapi aku tidak dikucilkan oleh teman-teman&nbsp; lama.&nbsp; Silaturahim dengan&nbsp; teman-teman&nbsp; lama tetap ku jaga baik. Dengan batasan-batasan&nbsp; sesuai&nbsp; syari tentunya.&nbsp; Sebagai bentuk edukasi tak langsung&nbsp; bahwa muslim itu baik. Tak seburuk apa yang media selalu beritakan.</p> <p>Aku&nbsp; sadar,&nbsp; aku&nbsp; masih&nbsp; jauh dari kata sempurna sebagai seorang&nbsp; muslim.&nbsp; Tapi,&nbsp; aku percaya, aku bisa dan Allah akan selalu ada. Jika dulu aku pecandu kerja hingga&nbsp; lupa&nbsp; ibadah,&nbsp; kini&nbsp; aku berusaha&nbsp; menjadi&nbsp; orang&nbsp; yang mendahulukan&nbsp; ibadah.&nbsp; Aku berusaha menjaga betul waktu-waktu ibadahku. Agar Allah selalu menjagaku.</p> <p>Benar. Islam itu damai. Itulah yang&nbsp; aku&nbsp; rasakan&nbsp; hingga&nbsp; detik ini. Alhamdulillah, semakin&nbsp; aku banyak belajar tentang Islam dan&nbsp; mendekati&nbsp; Allah,&nbsp; semakin mudah&nbsp; pula&nbsp; segala&nbsp; urusan duniaku.</p> <p>Tak&nbsp; terasa,&nbsp; bulan-bulan&nbsp; menjelang&nbsp; rencana pernikahan&nbsp; kami&nbsp; akan&nbsp; segera terlewati.&nbsp; Semoga&nbsp; aku&nbsp; terus bisa menjadi mualaf yang yakin&nbsp; dengan kepidahanku karena Allah. Aamiin.</p> <p>Dari&nbsp; kisahku&nbsp; ini&nbsp; aku belajar,&nbsp; Allah&nbsp; selalu&nbsp; memiliki cerita indah. Ada banyak cara yang akan Dia berikan pada kita untuk selalu tersadar dan mendekatkan&nbsp; diri&nbsp; kepada-Nya.&nbsp; Semuanya&nbsp; telah&nbsp; diatur, tinggal&nbsp; bagaimana&nbsp; kita meresponnya.&nbsp;</p> <p><em>Penulis: ayusm<br /></em><em>Sumber: Majalah Al Falah</em></p> <p style="text-align: center;">&nbsp;<img src="../../../../assets/media/2019/02/28/797/1-jemput-jodoh-dengan-islam.png" alt="jemput-jodoh-dengan-islam" width="443" height="439" /></p> <h4 style="text-align: left;">Baca Juga :&nbsp;</h4> <p><a title="3 TIPS AMPUH MENJEMPUT JODOH IMPIAN" href="../../../../berita/3-tips-ampuh-menjemput-jodoh-impian-HSrW.html">3 TIPS AMPUH MENJEMPUT JODOH IMPIAN</a></p> <p><a title="WANITA MULIA, YANG MAKAMNYA HARUM SEMERBAK" href="../../../../berita/wanita-mulia-yang-makamnya-harum-semerbak-EPxd.html">WANITA MULIA, YANG MAKAMNYA HARUM SEMERBAK</a></p> <p><a title="HUBUNGAN YANG DIBERKAHI ALLAH" href="../../../../berita/hubungan-yang-diberkahi-allah-MSh0.html">HUBUNGAN YANG DIBERKAHI ALLAH</a></p> <p><a title="DO'A YANG MULIA" href="../../../../berita/doa-yang-mulia-JJvY.html">DO'A YANG MULIA</a></p> <p><a title="12 TIPS MENJADI KELUARGA SAKINAH" href="../../../../berita/12-tips-menjadi-keluarga-sakinah-zRN5.html">12 TIPS MENJADI KELUARGA SAKINAH</a></p>

Dukung Program Ini

Mari bersama-sama membantu program ini untuk mencapai tujuannya dan memberikan dampak positif bagi masyarakat