UPDATE NEWS

...

Friday, 20 December 2019 10:00

Keutamaan Membaca Ayat Kursi dan Anjuran Sedekah | YDSF

Oleh: Abdullah al-Mustofa

Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kediri

 

Ayat Kursy adalah Ayat Al-A'dzom (ayat yang paling agung) di antara semua ayat Al-Qur'an (HR. Muslim). Disebut demikian karena dalam ayat ini terdapat nama Allah Ta'ala yang paling agung (HR. At-Turmudzi), yakni Al-Hayyu dan Al-Qoyyum.

Imam Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim menyebutkan, para ulama mengatakan bahwa ayat Kursy dipandang sebagai ayat yang paling agung karena mengandung tujuh nama dan sifat Allah Ta'ala yang penting yaitu sifat Ilahiyah, wahdaniyah (keesaan), sifat hidup, sifat ilmu, sifat kerajaan, sifat kekuasaan, dan sifat kehendak.

Ayat ini memuat perkara besar yakni aqidah Islamiyah yang meliputi tiga macam tauhid, yaitu rububiyah, uluhiyah dan tauhid asma wa sifaat yang menunjukkan kesempurnaan-Nya. Kesempurnaan zat-Nya, sifat-Nya, ilmu-Nya, kemuliaan-Nya, dan kehendak-Nya, serta keagungan kekuasaan-Nya. (Aysaar At-Tafasir, karya Al-Jazaairy, Tafsir As-Sa'diy)

 

Faedah Membaca & Men-tadabbur-i Ayat Kursy

Sebab keagungannya inilah maka banyak hadits yang mendorong kaum muslim untuk memperbanyak membaca ayat ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa faedahnya antara lain yang membaca akan dimudahkan masuk surga dan mendapatkan perlindungan Allah Ta'ala dari berbagai gangguan, termasuk gangguan jin dan setan.

Ada empat waktu utama untuk membacanya, yaitu setelah shalat lima waktu (HR. An-Nasa'i dan Ath-Thobroni), di pagi dan sore hari (HR. An-Nasa'i, Al-Hakim), dan ketika akan tidur malam (HR. Al-Bukhori). Ayat ini tentu bukan sekadar untuk dibaca, tapi mesti di-tadabbur-i (direnungkan) sehingga bertambahlah kualitas iman dan kuantitas amal shalih.

 

Iman dan Amal Shalih

Antara iman dan amal saling terintegrasi. Salah satu komponen iman adalah amal. Bukti dari iman adalah amal shalih. Iman adalah landasan dan pendorong amal shalih. Sebaliknya, amal shalih adalah faktor penambah iman. Al Quran menunjukkan bahwa iman dan amal shalih merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur'an yang mengandengkan kata "beramal shalih" dengan kata "beriman", di antaranya adalah QS. Al-Baqoroh [2]: 82.

Juga dibuktikan oleh ayat Al-Qur'an yang menggabungkan antara kata "infaq" dan kata "memberikan harta" dengan kata "beriman" dalam QS. Al-Baqoroh [2]: 3, 177 dan QS. Al-Anfaal [8]: 2-3.

Salah satu tanda keshalihan seorang Muslim adalah memberikan hartanya untuk agama dan umat Islam yang berhak mendapatkannya dalam bentuk zakat, infaq dan shodaqoh sebagaimana disebut QS. Al-Baqoroh [2]: 277, QS. At-Taubah [9]: 75, dan QS. Al-Munaafiquun [63]: 10. Ayat-ayat Al Quran di atas menunjukkan bahwa iman dan amal shalih -khususnya dalam hal ini keshalihan sosial- memiliki hubungan yang sangat erat.

 

Tadabbur dan Munasabah Ayat Kursy

Hubungan yang sangat erat antara iman dan keshalihan sosial juga dapat ditemukan pada ayat Kursy dan kumpulan ayat yang mengelilinginya, yakni ayat ke-254, ke-261 sampai ke-274. Ayat Kursy mengandung tema aqidah yang bisa menambah iman, sedangkan dalam kelompok ayat tersebut ada panggilan Allah Ta'ala kepada orang-orang beriman sebanyak tiga kali.

Panggilan pertama terdapat pada ayat ke-254. Pada ayat ini Allah Ta'ala memanggil dan memerintah orang-orang beriman untuk berinfaq sebelum datang hari Akhir. Allah Ta'ala kembali memanggil orang-orang beriman untuk berinfaq pada ayat ke-267.  Dalam ayat ini Allah Ta'ala menentukan kualitas harta yang diinfaqkan, yakni harta yang berkualitas baik.

Sedangkan pada ayat ke-264 Allah Ta'ala kembali memanggil orang-orang beriman, bedanya ayat ini tidak menyebut kata infaq tapi kata shodaqoh. Pada ayat ini Allah Ta'ala melarang untuk menghilangkan pahala shodaqoh dan infaq dengan menyebut-nyebutnya, menyakiti hati penerimanya dan riya' (pamer).

Ayat ke-254 telah menyinggung infaq, tapi belum menjelaskan secara detil hal-hal yang berkaitan dengan infaq dan shodaqoh. Penjelasan detil tentang infaq dan shodaqoh baru bisa dijumpai pada ayat-ayat setelah ayat Kursy, yakni ayat ke-261 hingga ke-274.

Kumpulan ayat yang berjumlah empat belas tersebut antara lain menyebutkan tiga hal berikut: Pertama, ganjaran di akhirat sebanyak 700 kali jumlah harta yang dinfaqkan/dishodaqohkan. Kedua, syarat untuk memperoleh ganjaran. Syaratnya adalah karena mengharap ridho Allah Ta'ala. Ketiga, faktor penyebab hilangnya ganjaran, yaitu menyebut-menyebut amal infaq/shodaqoh, menyakiti hati penerimanya dan riya’.

Ayat Kursy begitu agung, mulia dan penting dalam pandangan agama dan umat Islam. Jika dimanfaatkan secara baik dan benar sesuai petunjuk Al-Qur'an dan Al-Hadits maka ayat Kursy bisa mendatangkan berbagai manfaat positif dalam kehidupan, seperti perlindungan Allah Ta'ala dari segala gangguan.

Ayat Kursy juga bisa menambah iman, yang mana iman yang bertambah membuat diri semakin shalih, yang ditandai dengan semakin ringan dan senang mengerjakan amal shalih, baik dalam ranah pribadi maupun sosial, khususnya dalam hal ini zakat, infaq dan shodaqoh (ZIS). Wallahu a'lam.

 

 Baca juga:

HUKUM ARISAN DALAM ISLAM | YDSF

Bagaimana Cara Membedakan Bid’ah atau Bukan?

Hukum Aqiqah Bagi Bayi yang Meninggal

Perbedaan Pahala Shalat di Masjid dan Mushola | YDSF

Jamak Shalat Karena Sakit | YDSF

Share: