Kekeringan Zaman Nabi Yusuf, Kemarau Hingga 7 Tahun | YDSF

Kekeringan Zaman Nabi Yusuf, Kemarau Hingga 7 Tahun | YDSF

7 Oktober 2020

Memiliki dua musim saja dalam setahun, hendaknya tetap patut kita syukuri. Karena saat hujan saja bisa banjir, dan kemarau bisa kekeringan panjang. Belum lagi bila berharap ada musim salju, sudah siap akan disambut dengan hujan es, badai salju, hingga longsor salju? Kekeringan panjang nampaknya juga bukan hal yang baru terjadi di masa kini. Bahkan, sejak masa para nabi, kekeringan juga sudah ada. Contohnya, kekeringan pada zaman Nabi Yusuf a.s., yang bahkan menimbulkan kemarau hingga tujuh tahun dan fenomena alam el nino.

Kekeringan di Zaman Nabi Yusuf a.s. Berawal dari Mimpi Raja

Setelah sempat mengalami peristiwa tragis, yakni dimasukkannya Nabi Yusuf a.s. oleh para saudaranya karena iri dan cemburu, Nabi Yusuf a.s. akhirnya dijual kepada seorang laki-laki Mesir. Yang ternyata, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Mesir. Bersama keluarga itulah beliau tumbuh menjadi pria tampan dan memiliki kepribadian yang baik. Hingga kemudian muncul fitnah Zulaikha (istri dari lelaki Mesir yang telah membelinya).

Nabi Yusuf a.s. pun dipenjara karena fitnah tersebut. Dan selama masa dalam penjara, beliau banyak membantu teman satu selnya dengan menafsirkan mimpi. Ya, mukzijat yang Allah Swt. berikan kepadanya adalah mampu menafsirkan mimpi.

Hingga kemudian suatu hari Raja Mesir bermimpi tentang ujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Sang Raja pun bertanya pada setiap ahli tafsir mimpi yang tersohor di Mesir kala itu. Tapi, nihil hasilnya. (QS. Yusuf: 43)

Mimpi raja ini pun sampai ke telinga juru minuman kerajaan (yang mana pernah satu sel dengan Nabi Yusuf a.s.). Ia pun menghampiri Nabi Yusuf a.s. dan bertanya apa maksud dari mimpi Raja tersebut.

 Kemudian jawaban Nabi Yusu a.s. diabadikan dalam surah Yusuf ayat 47,

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ

“Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Saat mendengar jawaban Nabi Yusuf a.s. tersebut, Raja langsung meminta ia menemuinya dan keluar dari sel. Namun, Nabi Yusuf a.s. memiliki persyaratan, yakni Raja harus bertanya kembali kepada para wanita (termasuk Zulaikha) yang telah memfitnahnya. Masyaa Allah, jawaban yang sangat menenangkan pun keluar. Mereka bersaksi bahwa tidak ada keraguan dalam kebaikan diri dan kejujuran Nabi Yusuf a.s. Inilah kehendak Allah untuk bisa mengeluarkan Nabi Yusuf a.s.

Baca juga: KISAH ORANG YAHUDI DAN HARI SABTU | YDSF

Dengan adanya pembuktian tersebut, Raja semakin percaya bahwa Nabi Yusuf a.s. adalah orang yang jujur. Dan percaya dengan takwil mimpi yang diberikan Nabi Yusuf a.s. atas petunjuk Allah Swt.

Petunjuk Datangnya Kekeringan Tujuh Tahun di Masa Nabi Yusuf a.s.

Berawal dari mimpi Sang Raja, sebenarnya merupakan sebuah petunjuk pula dari Allah Swt. akan datangnya kekeringan panjang selama tujuh tahun. Dalam tafsir surah Yusuf ayat 47, Ibn Katsir menjelaskan bahwa Nabi Yusuf a.s. memberikan pengarahan bahwa akan ada tujuh tahun subur yang kemudian akan disusul oleh kemarau.

Singkat kisah, Nabi Yusuf a.s. dipercaya oleh Raja untuk mengemban tugas sebagai bendahara negara Mesir saat itu. Meski dipenuhi dengan kemewahan dan hidup yang serba berkecukupan, namun Nabi Yusuf a.s. tetap memiliki kepribadian yang baik dan Rabbani. Bahkan beliau menikahi perempuan Mesir, Asnat namanya.

Muslim kemarau panjang yang pernah ditafsirkan oleh Nabi Yusuf a.s. pun terjadi atas kehendak Allah. Namun, karena Yusuf sudah pernah mengingatkan penduduk Mesir sebelumnya, tentang akan datangnya kemarau panjang, sehingga mereka memiliki ketahanan pangan yang sangat baik. Tujuh tahun sebelumnya, Nabi Yusuf mengajak para penduduk Mesir untuk menimbun gandum dalam jumlah yang sangat banyak sebagai cadangan logistik selama kemarau panjang. Dan mengatur makan mereka agar tidak berlebihan. Sehingga terhindar dari kelaparan saat paceklik.

Kemarau panjang ini bukan hanya terjadi di Mesir. Paletina, yang saat itu menjadi tempat tinggal Nabi Yaqub a.s. (ayah Yusuf a.s.) dan saudara-saudaranya, juga mengalami kekeringan. Inilah sebab yang membuat Yusuf dapat bertemu kembali dengan keluarganya, terutama dengan sang ayah. (asm, berbagai sumber)

 

Baca juga:

Kisah Keluarga Teladan dalam Al Quran | YDSF

BELAJAR DERMAWAN DARI KISAH IMAM SYAFI’I | YDSF

Kisah Kaum Terdahulu yang Dibinasakan Allah | YDSF

Kisah Abu Dahdah, Si Pemilik Kebun Kurma di Surga | YDSF

 

Zakat Online

Tags:

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: