UPDATE NEWS

...

Monday, 6 May 2019 10:00

Keistimewaan Puasa Ramadhan | YDSF

Ramadhan memiliki arti tersendiri bagi umat Islam, tak terkecuali para sahabat Nabi. Ada aktivitas luar biasa yang mereka lakukan.

Puasa dan peperangan adalah dua hal yang sulit dipertemukan dalam sekali aktivitas. Perang menguras tenaga, pikiran, bahkan seluruh potensi fisik. Butuh asupan gizi yang tidak sedikit agar badan kuat. Namun, perang badar berkecamuk di bulan Ramadhan.

Kewajiban berpuasa Ramadhan dan perang Badar terjadi berurutan pada tahun kedua hijriyah. Tepatnya, 17 Ramadhan. Namun, kondisi berpuasa tidak mematahan semangat para sahabat.

“Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya lautan membentang, lalu engkau menyelam, kami akan mengikutimu,” kata Sa`ad bin Mu`adz.

Perang pada bulan Ramadhan inilah yang menjadi titik awal kebangkitan Islam, hingga Allah menyebutkan sebagai Hari Pembeda; “yaum al-Furqan” (al-Anfal: 41). Puasa bagi sahabat menjadi dentuman jiwa untuk berbuat apa saja yang diridhai Allah ta`ala.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Anfal: 41)

Bekerja keras juga tidak ditinggalkan. Sahabat dari kalangan umum seperti Sharmah RA, bekerja di bawah terik matahari. Karena kelelahan ia tidak sempat berbuka dan santap sahur, namun esoknya tetap berpuasa.

Nabi pun memujinya: “Kamu benar-benar luar biasa. Ma ly araka qad jahadta juhdan syadida.” (Tafsir Ibn Katsir, 301).

Bulan Al-Qur’an

Puasa bukanlah penghalang untuk melakukan kegiatan di siang hari. Justru menjadi penyemangat untuk meningkatkan kebaikan. Sahabat juga meningkatkan hubungan dengan al-Qur`an. Semua kitab suci turun pada bulan Ramadhan, tak terkecuali al-Qur`an.

Maka, bulan ini juga disebut ‘bulan al-Qur`an’, bisa juga disebut “bulan kitab suci”. Maka hari-hari Rasul dan sahabatnya tidak pernah melewatkan untuk berinteraksi dengan kitab suci ini. Secara khusus, Jibril ‘bertaddarus; saling menyimak bacaan al-Qur`an dengan Rasulullah saw setiap bulan Ramadhan. Waktunya malam hari karena ternyata bacaan malam lebih kuat menancap di hati “aqwam qila” (Muzammil; 6).

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (QS. Al-Muzzammil: 6).

Kegiatan ‘khatmil qur`an’ juga mendapatkan perhatian lebih para sahabat Nabi. Sesuai kemampuan dan ‘illat’nya. Sahabat mulia Utsman bin Affan terkenal menghatamkan al-Qur`an dalam satu hari. Ini artinya, beliau menghatamkan al-Qur`an tiga puluh kali dalam Ramadhan.

Sedangkan, sahabat Abdul Mujliz setiap tujuh hari sekali dalam salat tarawih yang dia pimpin. Sedangkan Al-Aswad dua hari sekali.

Qatadah tujuh hari sekali di luar Ramadhan, namun pada Ramadhan khatam tiga hari sekali, spesial sepuluh terakhir, beliau khatam setiap malam. Aktivitas ini diteruskan generasi selanjutnya dari kalangan tabi`in. Sebut saja Imam Malik.

Imam Syafi`i menghatamkan al-Qur`an dua kali sehari. Enam puluh kali hataman di bulan ramadhan.

Buka dan Sahur saat Puasa

Testimoni Syaikh Ramadhan al-Buthy: “Tiada ibadah yang lebih nikmat di bulan Ramadhan selain membaca al-Qur`an”. Selain al-Qur`an, berbuka dan sahur bersama juga menjadi kegiatan utama. Beberapa sahabat ‘memilah-milih’ dengan siapa mereka berbuka.

Sebuah hadits dari Nabi menyatakan: Siapapun yang memberikan makanan atau minuman untuk berbuka, ia akan diberi pahala orang yang diberinya.

Pertanyaanya, puasa siapakah yang pahalanya paling sempurna? Rasululullah tentunya.

أَنَّ النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَاءَ إِلَى سَعْدِ بنِ عُبَادَةَ، فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ، ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْكُمُ الْمَلائِكَةُ

Sa`ad Bin Ubadah pernah dikunjungi Rasulullah untuk melaksakan buka bersama. Roti dan minyak zaitun dihidangkan, dan Rasulullah menikmatinya. Nabi mendoakannya: “Semoga orang-orang yang puasa berbuka di tempatmu, orang-orang baik yang makan hidanganmu dan para Malaikat bershalawat untukmu” (HR. Abu Daud).

Maka, dengan adanya sunnah ini, kita juga bisa memilih berbuka dengan orang shalih yang tentu puasa mereka berkualitas. Pun, disunnahkan juga untuk saling mendoakan.

Lain halnya dengan sahabat Abdullah Bin Umar, seorang pakar Fiqh dari kalangan sahabat, beliau memilih berbuka dengan para faqir, miskin, dan anak yatim. Ada kenikmatan yang sulit diungkapkan bisa berbagi dengan kelompok yang untuk makan esok belum pasti. Sudah menjadi Sunnah Rasulullah Saw meningkatkan kedermawanya di bulan Ramadhan.

Keistimewan Ramadhan

Masih banyak lagi amalan istimewa Ramadhan, seperti shalat tarawih, varian shalat malam, dan i`tikaf. Namun, nilai yang perlu diambil dari mereka adalah puasa para sahabat tidak sebatas meninggalkan makan dan minum atau hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Tetapi, benar-benar menahan dari dosa sekecil apapun. Meraka menahan diri untuk tidak bereaksi jika ada yang berkata tidak baik.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائمٌ، مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah tameng. Maka janganlah dia berkata kotor (porno -pen) atau melakukan tindakan bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya untuk berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan, ‘Saya sedang puasa’ sebanyak 2 kali”.

Bahkan, benar-benar meninggalkan memikirkan hal-hal duniawi dan yang bisa melalaikan dari mengingat Allah Swt. Setiap hembusan nafas dibarengi mengingat Allah Swt. Inilah usaha yang dilakukan kelompok ‘ashab shuffah’ yang meningkatkan i`tikaf mereka di masjid.

Puasa bagi mereka adalah nikmat sekaligus amanat. Nikmat dengan turunnya rahmat, amanat untuk tidak menyia-nyiakannya dengan perbuatan sia-sia. Kata Nabi:

 “Puasa adalah amanat, jagalah amanat itu” (HR. Khartah`i).

 Sumber: Majalah Al-Falah

Share: