UPDATE NEWS

...

Saturday, 15 February 2020 07:00

Janda Bingung Nikah Lagi | YDSF

Menjadi istri dan ibu adalah sebuah anugerah tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, status pernikahan pun juga bisa berubah. Mulai dari karena ditinggal meninggal lebih dulu oleh sang suami hingga terjadinya perpisahan. Maka, menjanda menjadi status yang tak bisa dipilih setelahnya.

Tidak ada yang salah memang dengan status janda. Sayangnya, status janda terkadang dipandang sebelah mata dan cenderung memiliki stigma negati di kalangan masyarakat kita. Bagi mereka, janda itu biasanya mudah sekali ‘menggoda’ para pria karena kepentingan tertentu.

Tetapi, sebagai seorang perempuan yang sudah menyandang status janda, terutama bila ia juga memiliki anak, tidaklah muda. Memerankan single parent, sebagai sosok ibu dan ayah sekaligus bagi anak-anaknya. Nafkah dan kasih sayang penuh harus didapatkan oleh anak-anak. Keadaan tersebut memang sulit, tetapi banyak kaum perempuan yang bisa melewatinya.

Selain hal diatas, tentu masih ada hal lain yang membuat keadaan menjanda menjadi ganjil. Apalagi saat harus berpergian jauh sendiri, sedang anak-anak masih harus menyelesaikan tugas di pendidikan masing-masing. Janda terkadang susah, karena tidak adanya seseorang (mahram) yang bisa menemaninya kemana saja tanpa perlu ada rasa was-was dan takut fitnah.

Menikah Lagi Bukan Sebuah Keharusan

Pernikahan kedua (atau setelah menyandang status janda) bukanlah satu-satunya jalan keluar yang bisa menyelesaikan segala perkara. Apalagi niatnya jika hanya karena ingin punya teman agar terhindar dari fitnah bila harus dan akan berpergian jauh (tugas luar kantor, misalnya). Bukan didasari memang pada sebuah ibadah.

Ibu yang single parent dan harus berkarir, hendaknya tak perlu resah dengan kondsi semacam ini. Misalnya, Ibu harus pergi ke luar kota bersama dengan rekan kantor, maka tak perlu risau. Karena kalau pun harus demikian, maka hal yang paling utama dan penting ditunjukkan adalah sikap profesiolnalitas terhadap pekerjaan yang sedang dijalankan. Karena memang itulah risiko dari sebuah pekerjaan yang melibatkan perempuan dan pria dalam waktu yang bersamaan.

Tetapi, apakah kondisi tersebut sering terjadi? Manusia hanya melihat apa yang nampak, mereka tidak pernah tahu bagaimana isi hati kita. Jangan sampai gosip membuat kita gegabah dalam mengambil keputusan.

Menikah lagi atau tidak memang sebuah pilihan. Tetapi, sebaiknya keputusan besar ini jangan diambil sendiri tanpa mendiskusikannya dengan anak-anak. Dalam kehidupan seorang perempuan yang telah menyandang status janda, bukan hanya berisi tentang dirinya sendiri dan apa yang ia mau. Ada anak-anak yang masih butuh kasih sayang penuh dan menjadi tanggung jawab.

Apalagi memasukkan anggota keluarga baru yang notabene akan menggantikan sosok ayah dari anak-anak juga perlu sebuah pemikiran matang dan diskusi yang cukup dengan anak-anak. Jangan sampai, keputusan gegabah karena ingin mengamankan diri justru membuat runyam kondisi keluarga bersama anak-anak.

Selain itu, juga ada hadits yang dishahihkan oleh Al-Albani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita manapun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” [HR. Ath-Thabarani, lihat Ash-Shahihah 3/275]

Selektif dan berserah diri juga menjadi pertimbangan. Jangan lupa untuk shalat istikharah, meminta apa yang terbaik bagi Ibu dari Allah, agar langkah yang diambil tidak memberikan efek buruk yang beruntun di kemudian hari.

Perlu diingat, bahwa menjadi janda adalah bukan sebuah keburukan. Tetaplah menjadi sosok ibu yang selalu sangat cinta dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Karena hal itulah yang menjadi tanggung jawab besar.

Pilihan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik dengan menikah lagi pasca menjadi janda, harus benar-benar dilihat dari kemaslahatan yang akan terjadi.

 

Disadur dari Majalah Al Falah Edisi Januari 2018

 

Baca juga:

JENIS CINTA DALAM ISLAM MENURUT IBNU QAYYIM|YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

PANDANGAN ISLAM TERHADAP ATURAN JAWA, ANAK PERTAMA DILARANG MENIKAH DENGAN ANAK KETIGA | YDSF

Zakat Profesi atau Penghasilan | YDSF

INGIN BERJAMAAH DENGAN SUAMI | YDSF

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Walimatul ’Ursy dalam Islam | YDSF

Share: