Istiqamah dalam Kebaikan | YDSF

Istiqamah dalam Kebaikan | YDSF

26 April 2022

Dalam terminologi su­fi, sikap sabar itu ada tiga macam. Pertama, sabar dalam menerima musibah. Kedua, sabar dalam menerima kenikmatan. Dan ketiga, sabar dalam ketaatan.

Untuk sabar dalam menerima musibah apapun, dianggap peringkat yang paling ringan. Walaupun terkena Covid, seorang mukmin menyadari bahwa wabah yang lebih parah dari itu telah menimpa para Nabi dan Rasul. Dengan demikian ia menyadari ujian yang diberikan kepadanya tidak seberapa berat dibanding ujian yang ditimpakan kepada para Nabi dan Rasul. Akhirnya ia tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi musibah tersebut. Bahkan ujian seperti itulah yang diyakini dapat menghapus dosa-dosa dan lebih dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Itulah ­ trah manusia. Saat dia terhimpit, biasanya segera kontak kepada Sang Khaliq, beristighfar dan memohon kesembuhan kepada-Nya. Maka tidak salah jika ada nasihat, semoga musibah ini berdampak rahmat.

Ungkapan “hampir-hampir kefakiran mendekatkan manusia pada kekufuran” bukanlah hadits Nabi, atau lazim diistilahkan hadits maudhu’ (palsu). Semestinya dengan kondisi fakir seseorang akan lebih dekat dengan Tuhan. Dalam hadits shahih disebutkan, kepada Nabi saw. ditampakkan surga, ternyata kebanyakanpenghuninya adalah dari golongan orang[1]orang fakir. Dalam hadits lain, orang-orang fakir mendahului orang-orang kaya dalam memasuki surga.

Untuk sabar dalam menerima kenikmatan dinilai lebih berat daripada sabar dalam menghadapi musibah. Karena ada kecenderungan manusia jika telah merasa cukup bahkan lebih, dia menjadi congkak. Perhatikan kisah Fir’aun, Namrut dan lainnya, mereka justru menjadi thagut yang ingkar kepada Allah Swt. Faktanya, hanya segelintir orang yang diberi kenikmatan, namun dengan kenikmatan itu justru dapat meningkatkan ketaatannya kepada Allah Swt.

Ilustrasinya, ketika seseorang diberi berbagai kenikmatan dunia, dia jarang mengingat Allah. Namun ketika ia berhasil diselamatkan dari kecelaan tragis dalam mobilnya, saat mulai sadarkan diri di Instalasi Gawat Darurat, sikapnya berubah total. Lisannya selalu terbasahi dengan kalimah thayibah, tidak henti-hentinya berzikir kepada Allah. Bukankah ini pembenar nasihat tesebut. Kini musibah justru mendatangkan rahmat, insyaa Allah.



Akhirnya orang ini memahami pesan[1]pesan spiritual bahwa kondisi setiap muslim selalu dalam kebaikan. Jika ia menerima nikmat, ia adalah manusia yang pandai bersyukur, dan apabila ia mendapat musibah, maka ia manusia yang sabar.

Baca juga: TANDA-TANDA ALLAH MEMBERI HIDAYAH | YDSF

Kesabaran ketiga, adalah sabar dalam ketaatan. Jenis kesabaran inilah yang dinilai paling berat, baik bagi orang kaya maupun miskin. Tidak henti-hentinya setan membisiki telinga kita untuk menghentikan kebaikan[1]kebaikan yang sudah pernah kita jalani. Misalnya selama bulan Ramadhan kita mampu menjalani berbagai ketaatan. Kita semua mengeluarkan zakat ­ trah. Bahkan sampai orang miskin (jika ada kelebihan) merasa berdosa jika tidak mengeluarkan zakat. Ketaatan ini bukan hanya berfungsi untuk penyucian kita, melainkan juga mendidik kita agar memiliki kepedulian sosial, khususnya terhadap mereka yang masih membutuhkan.

Semuanya menyadari bahwa dalam harta kita ada sedikit ujian (titipan Allah) yang sebenarnya itu bukan milik kita, melainkan milik Allah yang semestinya didistribusikan kepada yang berhak menerimanya. Namun dengan berlalunya bulan, semangat peduli tengok tetangga barangsur-angsur surut, bahkan sampai tidak teramalkan. Setan selalu membius manusia: bukankah semua harta itu hasil jerih payahmu? Kenapa Anda sedekahkan? Dan kini kita kembali pelit alias medit dan lupa bahwa rizki itu adalah fadhilah (keutamaan) dari Allah. Bukanlah semata-mata hasil jerih payah kita.

Namun ada kabar yang menggembirakan, bagi seseorang yang tetap istiqamah dalam kebajikan, bahkan menginginkan kebajikan itu terus bertambah dan kontinyu. Abdullah bin Amr misalnya, yang biasanya sudah istiqamah menghatamkan Al-Qur’an dalam setiap bulannya, lalu istiqamah untuk menghatamkannya dalam setiap minggunya. Namun ketika ingin menghatamkan dalam setiap harinya, maka Rasulullah saw. melarangnya, dan membatasinya agar tidak kurang dalam tiga hari. Itulah asbab wurud nasihat Nabi, Allah Swt. tidak akan bosan bosannya terus mengganjar pahala buat Anda, sampai Anda sendiri yang bosan istiqamah dalam menjalani kebajikan.

Akhirnya kita dapati tip dari Nabi saw. agar kita dapat istiqamah dalam menjalani ketaatan. Sabdanya, sebaik-baik amal adalah yang terus istiqamah walaupun amalan yang sedikit. Bersyukurlah di antara kita yang infaknya banyak dan tetap istiqamah. Semoga infak ini merupakan wujud mensyukuri anugrah Ilahi, sehingga rezeki kita akan terus ditambah oleh Allah Swt.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi April 2021

 

Featured Image by Pexels.

 

Tunaikan Zakat Maal:

 

Artikel Terkait:
Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir | YDSF
PERBANYAK SEDEKAH SAAT RAMADHAN | YDSF
Batas Penghasilan Wajib Zakat | YDSF
APA SAJA YANG HARUS DISIAPKAN SEBELUM MENUNAIKAN WAKAF? | YDSF
Siapa yang Harus Membayar Fidyah Istri? | YDSF
WAKTU MEMBAYAR ZAKAT MAAL | YDSF

Tags: istiqamah, istiqamah kebaikan

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: