UPDATE NEWS

...

Thursday, 28 November 2019 09:00

Interaksi Anak dan Ponsel Warnai Kontes Kartun YDSF

Hingga batas terakhir pengiriman (24/11/2019), tak kurang dari 90 karya telah diterima oleh Panitia Kontes Kartun Opini 'Anak Indonesia : Generasi Kreatif dan Optimis' yang digelar Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) dan Komunitas Kartunis Indonesia (Kartunesia).

Karya dikirim peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Kediri, Lumajang, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, hingga Kepulauan Riau.

Dijelaskan Khoirul Anam, Humas YDSF Surabaya, kontes yang digelar dalam rangka Hari Anak Sedunia ini memang terbuka untuk siapa saja.

"Kami ingin mengajak masyarakat terlibat dalam hari istimewa ini. Jika kontes lebih fokus pada pegiat kartun, pameran yang akan digelar pada minggu kedua Desember 2019 nanti akan menjadi ruang perenungan bagi siapa saja," jelasnya.

Melihat respons yang ada, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) ini mengaku, YDSF mengucapkan terima kasih pada para peserta yang sudah berpartisipasi dalam kontes ini.

"Juga rekan-rekan media yang sudah membantu publikasi kegiatan, sehingga pelaksanaan kontes yang digelar dengan menggandeng Komunitas Kartunesia ini bisa berjalan sesuai harapan," jelas Anam.

Selaras dengan pernyataan ini, Hendro D. Laksono, pendiri Komunitas Kartunesia mengaku sangat berterima kasih pada semua pihak yang sudah mendukung pelaksanaan acara.

"Gelaran kontes dan pameran kartun tahun 2019 adalah kolaborasi Kartunesia dan YDSF yang kedua. Pertama tahun 2013, dan tahun ini kembali digelar," aku Hendro.

Untuk pelaksanaan tahun ini, lanjutnya, kontes masih didominasi sejumlah kartunis senior tanah air. Sebagian peserta, jelas Hendro, bahkan dikenal sebagai kartunis yang sudah pernah menjuarai berbagai kontes baik nasional maupun internasional.

"Tapi tahun ini nama-nama baru juga muncul. Gaya kartunnya beberapa menggunakan tradisi kartun Jepang atau manga. Tentu ini jadi sesuatu hal yang menarik. Karena regenerasi kartunis secara alamiah terus berjalan," jelasnya.

Meski di sisi lain, gaya kartun editorial klasik seperti yang banyak muncul di media massa juga terjaga. Bahkan diperkaya dengan sentuhan simbol kearifan lokal di beberapa karya.

"Penggunaan simbol sarung, kopiah, kardus bekas, kuda lumping, rasanya sangat khas Indonesia," jelasnya.

Setelah melewati proses penjurian yang cukup ketat, juri akhirnya bersepakat untuk memenangkan lima kartunis dengan karya terbaik. Masing-masing, Juara 1 Joko Luwarso, warga Jakarta Selatan, dan Juara 2, Agus Harsanta, warga Denpasar.

Juara 1 Lomba Kartun Opini YDSF ft. Kartunesia 2019

Juara 1 Lomba Kartun Opini Hari Anak YDSF ft. Kartunesia 2019

Sementara Juara Harapan untuk tiga pemenang masing-masing Agus Widodo, warga Kendal, Jawa Tengah, Dien Yodha, warga Banyumas, Jawa Tengah, dan Wahyu Siswanto, warga Lumajang, Jawa Timur.

"Kartun-kartun ini memiliki poin tertinggi. Baik dari sisi orisinalitas, ide kreatif, kesesuaian tema, hingga artistik," jelas Hendro. Pesan yang dibawa mulai dari interaksi anak dengan ponsel, teknologi, hingga kebudayaan.

 

Baca juga:

Tips Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak | YDSF

Hukum Mengajak Anak Kecil ke Masjid | YDSF

Mengasuh Anak Generasi Milenial | YDSF

Berdonasi untuk Yatim

Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF

Inilah 4 Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Secara Islami | YSDF

Segera Konsultasikan Zakat Anda di YDSF

Share: