Hukum Menggabungkan Qadha Puasa dan Puasa Sunnah | YDSF

Hukum Menggabungkan Qadha Puasa dan Puasa Sunnah | YDSF

19 Des 2020

Pernah menggabungkan qadha puasa pengganti Ramadhan dan puasa sunnah? Kira-kira ketika melakukannya sudah tahu betul hukum menggabungkan qadha puasa dan puasa sunnah itu seperti apa? Ingat, kita tidak boleh asal melakukan amalan. Berilmu dulu sebelum beramal. Apalagi, puasa (Ramadhan) termasuk satu dari lima rukun Islam.

Puasa Qadha Ramadhan

Puasa qadha adalah puasa pengganti dari puasa Ramadhan yang dilakukan di hari lain (di luar Ramadhan) sesuai dengan jumlah yang ditinggalkan. Puasa qadha ini berlaku untuk mereka yang memiliki udzur syari ketika akan menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadhan dan menggantinya baik dengan qadha puasa ataupun fidyah, antara lain:

> Orang sakit;

> Orang bepergian;

> Perempuan hamil (bila mengkhawatirkan keadaan dirinya dan bayi yang dikandung);

> Perempuan menyusui (bila khawatir akan membahayakan dirinya atau bayi yang disusuinya);

> Orang yang tua dan lemah.

Allah Swt. berfirman,

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184).

Baca juga: Niat Melakukan Qadha Puasa Pengganti Ramadhan | YDSF

Niat qadha puasa dimulai pada malam hari ketika akan melakukan puasa pengganti Ramadhan di hari berikutnya. Jadi, tidak bisa berniat puasa qadha secara mendadak di pagi hari, ketika baru bangun tidur pagi misalnya.

Hal ini sesuai seperti apa yang disampaikan oleh Rasullah saw. Dari Hafshoh Ummul Mukminin r.a. bahwa Rasulullah saw. berkata, “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah. Sayangnya, menurut An Nasai dan Tirmidzi hadits ini mauquf, karena hanya sampai pada sahabat (perkataan sahabat). Sedangkan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibbah menshahihkan haditsnya jika marfu’ yaitu sampai pada Rasulullah saw.

Menggabungkan Qadha Puasa dan Puasa Sunnah

Beberapa orang terbiasa menggabungkan qadha puasa dengan puasa sunnah yang ingin mereka jalankan. Seperti qadha puasa digabung dengan puasa Senin – Kamis, atau qadha puasa digabungkan dengan puasa Daud. Padahal, untuk dapat melakukan dua puasa dengan hukum yang berbeda, satu sunnah dan satu lagi wajib (untuk qadha puasa), para ulama pun memiliki  pandangan yang berbeda.

Pendapat pertama dari Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap dalam Riset Ilmiyyah dan Fatwa) di Saudi Arabia pernah mengatakan,

لا يجوز صيام التطوع بنيتين، نية القضاء ونية السنة

“Tidak boleh melakukan puasa sunnah dengan dua niat sekaligus yaitu dengan niat qodho’ puasa dan niat puasa sunnah.”

Hal ini juga diperkuat dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

”Orang yang melaksanakan puasa wajib, baik qadha ramadhan, puasa kaffarah, atau puasa lainnya, tidak sah untuk digabungkan niatnya dengan puasa sunah. Karena masing-masing, baik puasa wajib maupun puasa sunah, keduanya adalah ibadah yang harus dikerjakan sendiri-sendiri. Dan puasa sunah bukan turunan dari puasa wajib. Sehingga tidak boleh digabungkan niatnya.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7273).

Baca juga: Mendahulukan Qadha Puasa, Lalu Puasa Syawal | YDSF

Sedangkan pendapat kedua yang menyatakan boleh menggabung qadha puasa pengganti Ramadhan dan puasa sunnah datang dari pendapat Imam Ibnu Utsaimin

من صام يوم عرفة ، أو يوم عاشوراء وعليه قضاء من رمضان فصيامه صحيح ، لكن لو نوى أن يصوم هذا اليوم عن قضاء رمضان حصل له الأجران : أجر يوم عرفة ، وأجر يوم عاشوراء مع أجر القضاء ، هذا بالنسبة لصوم التطوع المطلق الذي لا يرتبط برمضان

”Orang yang melakukan puasa hari arafah, atau puasa hari asyura, dan dia punya tanggungan qadha ramadhan, maka puasanya sah. Dan jika dia meniatkan puasa pada hari itu sekaligus qadha ramadhan, maka dia mendapatkan dua pahala: (1) Pahala puasa arafah, atau pahala puasa Asyura, dan (2) Pahala puasa qadha. Ini untuk puasa sunah mutlak, yang tidak ada hubungannya dengan ramadhan.” (Fatawa as-Shiyam, 438).

Pendapat Dewan Syariah YDSF

Sedangkan menurut Dewan Syariah YDSF mengatakan bahwa qadha puasa itu memiliki kedudukan yang sama wajibnya seperti puasa Ramadhan (yang memang dilakukan selama bulan Ramadhan). Berbeda bila membandingkan qadha puasa dengan puasa Senin – Kamis (misalnya), maka menjadi tidak selevel.

Sehingga, selama puasa sunnah masih bisa dilakukan di lain kesempatan, maka kerjalah terlebih dahulu qadha puasa. Namun, bila memang dirasa puasa sunnah tersebut hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu (misal puasa Syawal, Arafah, dsb.) maka tidak mengapa berpuasa sunnah dulu. Tapi, tetap ingat bahwa qadha puasa Ramadhan harus segera ditunaikan. (asm)

 

Artikel Terkait:

Sering Dilupakan, Ini Dia Keutamaan dan Cara Puasa Ayyamul Bidh | YDSF

Contoh Istiqomah dalam Beribadah | YDSF

Kisah Abu Dahdah, Si Pemilik Kebun Kurma di Surga | YDSF

Hukum Shalat dan Puasa Bagi Orang Koma | YDSF

 

Zakat YDSF

Share:


Baca Juga