Generasi Visioner Berbasis Pendidikan Keluarga | YDSF

Generasi Visioner Berbasis Pendidikan Keluarga | YDSF

17 Agustus 2020

Saat pandemi Corona adalah momen kebersamaan orangtua dan anak. Anehnya, banyak keluhan orangtua ketika harus mendampingi anaknya belajar secara online di rumah. Saya ingin mengingatkan keluarga dan guru, jangan sampai anak-anak belajar sesuatu yang tidak visioner.

Anak harus belajar visioner walaupun tidak bertatap muka dengan guru. Saat ini anak belajar bersama ibu, pengajar pertamanya, dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Pertanyaannya, bagaimana orangtua menyelenggarakan pendidikan di rumah walaupun tidak dipandu kurikulum sekolah?

Problem pendidikan kita saat ini adalah tidak visioner. Karena jangkuan pemikiran atau cita-citanya kurang jauh ke depan.

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." (HR Abu Daud 3179)

Syarat pendidikan yang visioner adalah mempelajari ilmu karena Allah. Kesalahan kita, mendorong anak untuk belajar hanya sebatas agar anak bisa meraih cita-citanya. Orientasinya masih orientasi duniawi.

Momen kebersamaan adalah saat yang tepat bagi orangtua untuk menata ulang visi belajar anak. Tanamkan pada anak, apapun yang kita pelajari bertujuan mencari ridho Allah.

“Tidaklah orangtua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih uatama selain dari pendidikan yang baik.” (HR Tirmidzi)

 

Indikator

Jika pendidikan menjadikan anak-anak takut, tunduk, dan patuh kepada Allah, dan menjauhi maksiat. berarti ilmu yang dipelajari anak itu baik. Jika anak mempelajari sesuatu, tapi tidak membuat takut kepada Allah, maka anak mempelajari ilmu yang bermasalah. Atau cara belajarnya yang bermasalah.

Mari kita pertanyaakan masalah itu kepada diri kita.

Karena itu para orangtua dan guru, pastikan tugas yang diberikan ada kaitannya dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah. Maka tidak pas jika ilmu-ilmu dipisah-pisah. Misalnya, jika belajar agama tidak perlu belajar IPA, atau sebaliknya. Harusnya dengan belajar IPA, belajar ciptaan Allah dalam tubuh dan alam sekitar, membuat anak mampu menambah ketaqwaan kepada Allah.

 

Baca juga: 12 Tips Menjadi Keluarga Sakinah | YDSF

 

Urutan Pendidikan

“Generasi ini tidak akan pernah bisa baik, kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.” (Imam Malik RA)

Generasi awal adalah para sahabat nabi. Karena tidak ada contoh yang lebih baik daripada pembelajaran yang diajarkan langsung oleh Rasul. Urutan pendidikan yang ditanamkan oleh Rasul adalah (1) Iman, (2) Adab, (3) Ilmu, dan (4) Amal.

Prosedur ini harus urut. Kalau pendidikan ini tidak urut maka akan bermasalah. Pendidikan juga harus tuntas, tidak boleh ada yang tertinggal. Misalnya, ilmunya tinggi tapi adabnya jelek, atau adabnya bagus tapi imannya jelek. Kembalilah ke-empat urutan ini.

Saat ini, tugas yang diberikan orangtua dan guru lebih banyak di aspek ilmu. Sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang menyangkut aspek iman dan adab.

Mumpung ada kesempatan perjumpaan yang intens antara orangtua dan anak, evaluasi apakah aspek iman dan adab sudah ada pada anak. Jika dirasa kurang, ayo segera tanamkan keimanan dan ajarkan adab yang baik. Agar kelak jika anak memiliki banyak ilmu, dia juga punya adab, dan tidak kehilangan iman.

Kehilangan iman, berarti hilang semuanya. Kehilangan adab, hilang pula penghormatan dari semua manusia. Kehilangan ilmu, semua amalnya tidak terpandu.

 

Baca juga: Inilah 4 Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Secara Islami | YSDF

 

Cara Menanam

Urutan menanamkan pendidikan yang mendasar dalam rumah, harus melalui tahapan berikut: Keteladanan, Pembiasaan, Nasihat, Kontrol, Sanksi, dan Penghargaan.

Pertama, keteladanan. Misalnya, walaupun shalat di rumah tetap harus tepat waktu. Ini perlu keteladanan dari orangtua. Keluar dari wabah ini anak-anak akan semakin mengidolakan orangtua karena keteladanannya. Anak melihat ayahnya hebat dan ibu yang luar biasa.

Kedua, pembiasaan. Lakukan pembiasaan yang baik. Biasanya anak-anak bangun sebelum subuh. Maka ketika belajar di rumah, yang kesannya seperti liburan ini, anak-anak tetap harus bangun sebelum subuh. Shalat harus tetap tepat waktu. Sebab, jika kehilangan kebiasaan yang baik, akan sulit menanamkan lagi. Karena pembiasaan ini mahal. 

Ketiga, berikan nasihat. Nasihat yang datang dari orangtua teladan dan punya pembiasaan yang baik, akan selalu terhunjam di dadanya.

Keempat, kontrol dari orangtua. Apakah tilawah anak sudah lancar, apakah punya minat membaca yang baik, apakah mampu menggunakan gawainya dengan baik, dan sebagainya. Momen di rumah saat ini adalah kesempatan orangtua untuk mengontrol anak.

Terakhir, sanksi dan penghargaan. Harus ada sanksi yang tegas jika anak melanggar aturan. Sebaliknya, jika shalatnya tepat waktu, tilawahnya tidak pernah bolong, maka orangtua harus memberikan apresiasi.

Jika kelima tahap ini sudah dijalankan dengan baik. Akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Juni 2020

 

Baca juga:

TIPS MENUMBUHKAN TANGGUNG JAWAB ANAK | YDSF

Tangguh Menghadapi Persoalan Hidup | YDSF

KISAH UMAT TERDAHULU YANG DIUJI ALLAH | YDSF

Mendidik Generasi Berdaya Juang Pahlawan | YDSF

BELAJAR DERMAWAN DARI KISAH IMAM SYAFI’I | YDSF

Tags:

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: