Empat Cara Menjemput Rezeki | YDSF

Empat Cara Menjemput Rezeki | YDSF

6 September 2022

Sesungguhnya rahmat Allah seperti curahan air hujan. Yang hidup di atas permukaan bumi pasti kebagian rahmatNya. Demikian juga dengan rezeki dari Allah. Sesungguhnya ada di dekat kita. Bahkan rezeki yang dimakan sehari-hari itu lebih sering menghampiri kita. Bukan kita yang mendatanginya.

Misalnya kita minum secangkir kopi di pagi hari. Umumnya, kita membeli kopi dan gula di warung terdekat. Paling jauh 200 atau 300 meter dari rumah. Padahal kopi itu berasal dari pabrik pengolahan kopi yang jauh. Asal biji kopi itu pun diambil dari perkebunan kopi di pegunungan atau perbukitan yang jauh. Belum lagi gulanya. Pabrik dan kebun tebunya sama jauhnya dengan buah kopi.

Kesimpulannya adalah: kopi dan gula itulah yang menghampiri kita. Perjalanan kopi dan gula menghampiri kita lebih jauh daripada perjalanan kita untuk mendapatkannya di warung sebelah. Maka, sejatinya Allah telah mendekatkan rezeki dariNya kepada hamba-hambaNya.

Bukan Mencari

Maka tugas hamba hanyalah berusaha menjemput rezeki itu. Lebih tepat menggunakan kata menjemput. Karena Allah telah mendekatkan kepada hamba-Nya, maka hanya butuh usaha yang sungguh-sungguh untuk menyongsongnya.

Jadi, pada hakikatnya, upaya hamba lebih kecil daripada pertolongan Allah. Usaha hamba lebih pendek daripada maunah-Nya. Perjuangan hamba lebih ringan ketimbang perjuangan rezeki-Nya menghampiri hamba-hambaNya.

Karena itu, jangan sampai ada sikap lemah semangat dalam menjemput karunia-Nya. Jangan pula merasa suudzon (buruk sangka) kepada Allah bahwa adanya kesulitan-kesulitan hidup ini untuk mempersulit manusia. Sesungguhnya kesukaran-kesukaran itu hanyalah sebagai ujian atas hamba yang yang sabar dan berjuang.

Baca Juga: AMALAN IBADAH PEMBUKA PINTU REZEKI | YDSF

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al Baqarah 214).

Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Bahkan lebih dekat ketimbang usaha manusia. Perjalanan rezeki Allah itu lebih dekat daripada perjalanan manusia menjemput rezekinya. Allah dan Rasulullah Muhammad saw telah membeberkan jalan-jalan menjemput rezeki-Nya. Berikut ini sekelumit di antaranya.

1.    Bertaqwa

Apa itu taqwa? Penjelasan Ubay bin Ka’ab ini sangat jelas dan padat. “Taqwa itu ibarat engkau berjalan di jalanan yang penuh duri.” Berhati-hati terhadap apa yang diusahakan. Cermati halal atau haram atau tidak jelas. Berhati-hati apakah yang diucapkan lisan bisa menjauhkan diri dari Allah dan menyakiti manusia.

Dengan sikap taqwa itu, Allah memberi jalan keluar dan menujukkan rezeki yang tidak disangka-sangka. “Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq 2-3).

2.    Membiasakan Istighfar

Kelemahan manusia adalah berbuat salah. Namun, keunggulan manusia dibandingkan semua makhluk lainnya adalah belajar dari kesalahan. Begitu menyadari kesalahannya, Islam mengajarkan segera memohon ampunan Allah. Istilah agamanya: istighfar.

Istighfar menunjukkan betapa manusia sangat lemah dan sangat membutuhkan kasih sayang Allah. Istighfar mengundang ampunan Allah. Tak hanya ampunan, namun mengetuk pintu-pintu rezeki-Nya. Hal ini jadi pesan dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya.

Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh 10-12).

Baca Juga: Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

3.    Gemar bersilaturahim

Para pakar manajemen selalu menekankan komunikasi dan hubungan antarindividu merupakan faktor utama dalam kesuksesan karir/bisnis. Komunikasi yang efektif adalah kunci produktivitas, kesuksesan karier dan keuntungan untuk bisnis.

Jauh sebelum teori manajemen modern tercetus, 14 abad yang lalu Rasulullah telah memberi wejangan ini. “Siapa saja yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.” (HR. Bukhari).

4.    Membiayai para penuntut ilmu

Ada dua orang bersaudara di zaman Rasulullah saw. Yang satu rajin belajar di majelis Nabi, sedangkan satunya bekerja (menanggung nafkah saudaranya itu). Kemudian yang bekerja ini curhat kepada Nabi tentang saudaranya.

Nabi pun bersabda, “Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya (ia menuntut ilmu agama)” (HR. Tirmidzi no. 2345).

 

Sumber: Majalah Al Falah Edisi 398 Bulan Mei 2021

Featured Image by unsplash

 

Sedekah Mudah:

<p><a href="../../../ayodonasi"><img src="../../../assets/media/2020/03/31/1223/1-ayodonasi.png" width="164" height="58"></a></p>

 

Artikel Terkait:

Rezeki Yang Allah Berkahi |YDSF
Definisi Rezeki Berkah dalam Islam | YDSF
Doa Minta Rezeki Halal dan Berlimpah Sesuai Sunnah | YDSF
Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF
Menumbuhkan Kebiasaan Berbagi Menjadi Sebuah Kebutuhan Hidup | YDSF

Tags: Rezeki, Menjemput Rezeki, Cara Menjemput Rezeki

Share:


Baca Juga

Berinfaq/Bersedekah lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: