Cerdas Memilih Tayangan Penguat Iman | YDSF

Cerdas Memilih Tayangan Penguat Iman | YDSF

16 Juli 2022

Dalam menentukan tayangan yang dapat berdampak baik bagi tumbuh kembang anak, tentu sebagai orang tua ataupun pendamping harus cerdas dan selektif. Tidak setiap tayangan yang berkesan “menghibur” dapat langsung disajikan kepada buah hati. Harus ada penyaringan kelayakan dari berbagai aspek terlebih dahulu.

Dua tahun silam, negeri kita dimarakkan sebuah kejadian yang membuat miris. Banyak media mewartakannya. Betapa tidak. Seorang remaja 15 tahun membunuh seorang bocah 5 tahun. Karuan saja, peristiwa yang terjadi awal Maret 2020 tersebut mengundang keprihatinan. Pelaku tega menenggelamkan korban di bak mandi rumahnya di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat. Diduga, itu dilakukan lantaran terpengaruh film horor yang sering ditonton.

Mungkin, sebagian dari kita tidak menyangka kejadian seperti itu dapat terjadi di lingkungan kita. Bagaimana bisa sebuah tayangan menjadi musabab seorang remaja menghilangkan nyawa bocah yang seharusnya dijaga dan dikasihi.

Suatu tayangan dapat memberikan dampak dan pengaruh bagi penontonnya dengan cara yang berbeda-beda. Kemampuan dalam memilih tayangan pun berbeda. Belum lagi, faktor preferensi. Setiap orang merasa mempunyai hak untuk memilih dan menyukai tayangan tertentu. Namun, tidak semua menyadari, bahwa sedikit ataupun banyak, tontonan memengaruhi kehidupannya.

Menurut Motivator dan Konsultan Pendidikan, Ustadz Suhadi Fadjaray, perlu disadari oleh para orang tua untuk senantiasa menjaga anak-anaknya. Ada beberapa poin penting. Setiap anak mengalami fase menirukan apa yang dilihatnya. Meniru dapat menjadi jalan belajar bagi anak.

Pertama, kata Suhadi, jagalah apapun yang masuk ke mulut anak. Pastikan yang masuk ke mulut halal dan thoyyib. Insya Allah bila mengonsumsi makanan dan minuman halal dan thoyyib, anak-anak menjadi lebih terjaga. Sebab, bila yang haram masuk ke mulut dan perut anak, bisa ada peluang anak mengikuti hal-hal yang tidak baik.

Kedua, jagalah apapun yang masuk ke telinga anak-anak. Bila mereka mendengarkan kalimat-kalimat yang baik-baik, baik dari kedua orang tua, guru, maupun teman-temannya, maka anak-anak akan terprogram menjadi pribadi yang baik.

Dan ketiga, jagalah yang masuk melalui mata anak-anak. Misalnya, aneka tayangan dan tontonan, pilihlah yang baik. Bila yang dilihat buruk, bisa dikatakan itu memrogram anak-anak berbuat buruk.

Baca juga: Tips Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak | YDSF

Lebih lanjut, Suhadi menjelaskan, bila menonton tayangan yang bersifat kekerasan, anak-anak akan cenderung meniru berbuat kekerasan. Sebaliknya, bila menonton yang cenderung mellow, anak-anak dapat memiliki kecenderungan bersifat mellow.

“Contoh sederhana, dulu jaman saya kecil ada film Ari Hanggara. Ketika saya menonton tayangan itu, muncul persepsi di otak saya, bahwa ibu tiri itu jahat,” kenang penulis serial buku Harmoni Cinta Madrasah Keluarga. Maka, lanjutnya, “Hati-hati terhadap tiga hal tersebut di atas.”

Padahal, dalam kehidupan nyata belum tentu demikian. Banyak ibu tiri yang mempunyai karakter baik hati dan mulia, serta mendidik dan merawat dengan penuh ketulusan kasih sayang. Mengingatkan lagi, ketiga hal yang dimaksud, yakni, segala yang masuk lewat mulut, mata, dan telinga. Bila ketiga hal di atas dijaga, insya Allah karakter anak-anak akan menjadi baik.

Referensi Hidup dan Perilaku

Orang tua perlu lebih selektif dalam memilih. Apapun yang ditontonnya, anak-anak akan cenderung menjadikannya sebagai referensi bagi perilaku mereka. Demi kebaikan masa depan anak-anak, tentu lebih bijak bila memilih tayangan yang mencerdaskan, menumbuhkan sisi positif, dan menguatkan iman dalam diri anak. Bila anak-anak menonton tayangan yang horor, tentang pocong, ataupun tentang pembunuhan, misalnya, mereka pun akan cenderung menjadikan itu sebagai referensi perilakunya.

Maka, langkah utama untuk menjadikan anak-anak lebih baik, haruslah mendidik dengan baik. Suhadi mengutip nasihat Imam Malik r.a., yang menjelaskan, bahwa generasi ini tidak akan pernah menjadi baik. Kecuali dididik dengan cara-cara yang lebih baik dari generasi awwalun. Nah, untuk itu, para ulama mendeskripsikan yang pertama ditanamkan adalah iman atau tauhid, kedua adab, ketiga ilmu, dan keempat amal.

“Jadi, harus berurutan. Amal dipandu oleh ilmu. Ilmu didahului oleh keluhuran adab. Keluhuran adab didahului dengan ketauhidan,” ucap Suhadi.

Baca juga: Pemberian Nama Anak dalam Islam | YDSF

Mendidik anak dengan ketauhidan, berarti mengenalkan sifat keesaan Allah. Insya Allah bila anak-anak telah dididik dan mengenal tauhid, mereka tidak akan menyukai tayangan-tayangan yang buruk. Mengapa? “Karena tidak cocok dengan hatinya,” tegasnya.

Yang menjadi masalah, banyak di antara orang tua ataupun pihak pendidik, belum menanamkan tauhid, belum menanamkan keimanan, akan tetapi terburu-buru menanamkan ilmu.

Akibatnya, ketika anak-anak mengalami peristiwa-peristiwa yang mengguncang jiwanya, mereka akan menjadikan tayangan-tayangan yang ditontonnya sebagai referensi. Sebaliknya, bagi anak-anak yang telah bertauhid, mereka akan menjadikan Al-Qur’an, hadits, dan Rasulullah sebagai referensi hidupnya.

Suhadi pun berharap, YDSF juga perlu berperan bagaimana supaya masyarakat menjadikan Al-Qur’an dan Rasulullah, melalui hadits dan perilaku beliau sebagai referensi kehidupan masyarakat. Bila itu terjadi, Masya Allah. Negeri ini akan menjadi negeri yang  baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur. Istilah tersebut sebagaimana firman Allah dalam Surat Saba ayat 15, seperti berikut ini:

“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Semoga, Allah memudahkan setiap niat baik dalam ikhtiar kita, untuk menghadirkan dan menyebarkan kebaikan bagi anak-anak dan lingkungan di sekitar kita. Aamiin.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Juni 2022


Artikel Terkait:

WAKTU TERBAIK TERKABULNYA DOA | YDSF
Bolehkah Sedekah dari Harta Haram? | YDSF
PELAKSANAAN SHALAT SUNNAH RAWATIB | YDSF
Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF
AMALAN IBADAH PEMBUKA PINTU REZEKI | YDSF
Setelah Menjual Tanah, Apakah Wajib Zakat? | YDSF
MENDAHULUKAN JAMAK-QASHAR DALAM SHALAT FARDHU | YDSF


Zakat di YDSF


Tags: memilih tayangan, memilih tayangan anak

Share:


Baca Juga

Berbagi kebaikan lebih mudah dengan SCAN QRIS Menggunakan Aplikasi berikut: