UPDATE NEWS

...

Monday, 9 March 2020 06:00

Cara Mencari Berkah (Tabarruk) Allah Sesuai Syariat Islam | YDSF

Hidup dalam naungan Islam yang penuh berkah merupakan sebuah anugerah. Namun, tetap jangan terlena dengan hidup seenaknya dan tidak mau mengikuti aturan Islam. Berkah bisa saja terkikis bahkan hilang.  Karena dalam perjalanan hidup, nyatanya tidak sedikit orang-orang yang justru mengambil jalan pintas dan justru menghilangkan berkah.

 

Kenapa berkah dan mencari berkah itu penting?

Berkah yang berasal dari kata  barakah (البركة), yang berarti karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia (Kamus Bahasa Arab Al-Munawwir). Sedangkan mencari berkah diistilahkan dengan tabarruk. Sehingga bila kita perjelas, maka tabarruk dapat memiliki makna mencari barokah berupa tambahan kebaikan, fadhilah (keutamaan), pahala, dan setiap yang ditbutuhkan hamba dalam urusan dunia dan agamanya.

Bila kita perhatikan dari artinya tersebut, maka berkah sebenarnya menjadi penting dalam setiap aspek kehidupan kita. Karena dalam berkah terdapat kebaikan-kebaikan yang telah disiapkan oleh Allah bagi setiap insan yang mau mencari berkah dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah.

 

Berikut kami rangkum langkah mencari berkah (ber-tabarruk) dalam Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah:

Dalam mencari berkah tidak bisa sembarangan. Bersemedi di kuburan atau melakukan hal-hal yang di luar nalar logika dan ajaran agama Islam. Sehingga kita perlu bertabarruk dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

 

  1. Bertabarruk dengan dzikrullah dan membaca Al-Qur’an

Mencari berkah bukan hanya dengan meletakkan Al-Qur’an di kamar, atau tempat-tempat yang sering ada aktivitas kita. Hanya agar diri kita terlindung dari hal-hal yang buruk. Namun, mencari berkah dengan Al-Qur’an harusnya dengan membaca, memahami, dan mengamalkan apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dan juga tak lupa untuk selalu berdzikir kepada Allah (dzikrullah).

Rasulullah saw. bersabda,

“Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca Al-Qur’an dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim).

 

  1. Bertabarruk dengan diri Rasulullah saw. ketika masih hidup

Ini dikarenakan diri (zat) Rasulullah saw. adalah mubarakah (memiliki berkah) dan termasuk juga hal-hal yang berkaitan dengan beliau. Sehingga, sebagaimana kita ketahui bahwa para sahabat Rasulullah bertabarruk kepada beliau seperti kulit tangan, wajah, perut, keringat serta bekas pakai beliau (seperti air wudhu, air minum, bejana, baju, sandal, dsb.).

Bertabarruk dengan diri Rasulullah saw. setelah beliau wafat adalah tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal, yaitu:

Pertama, dengan beriman, taat, dan ittiba’ (ikuti ajaran) beliau. Maka, barang siapa yang melakukan itu semua dia mendapatkan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kedua, bertabarruk dengan peninggalan beliau yang telah terpisah dari beliau seperti pakaian, bejana atau tempat minum dan lainnya yang masih terkait dengan diri beliau.

 

  1. Bertabarruk dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Aqsha

Rasulullah saw. bersabda,

ﻻ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣﺎﻝُ ﺇﻻ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔِ ﻣﺴﺎﺟﺪَ : ﺍﻟﻤﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺤَﺮﺍﻡِ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠَّﻢ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻷﻗﺼﻰ

“Tidak boleh mengadakan perjalanan/safar kecuali menuju ke ketiga masjid: Masjid al Haram, masjid ar Rasul shallallahu alaihi wasallam, dan masjid al Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

  1. Bertabarruk dengan meminum air zam-zam

Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain juga disebutkan,

وَشِفَاءُ سُقْمٍ

Air zam-zam adalah obat dari rasa sakit (obat penyakit).” (HR. Abu Daud).

 

  1. Mengambil berkah air hujan

Air hujan juga mubarak (diberkahi). Allah Swt. mendatangkan keberkahan dengan hujan. Karena dengannya, manusia dan binatang memperoleh minum, pepohonan tumbuh subur, menghasilkan buah-buahan. Mereka hidup dengan berkah air hujan dari Allah Swt.

Allah Swt. berfirman,

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً مُّبَٰرَكًا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّٰتٍ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam,” (Qs. Al-Qaaf: 9).

Bahkan saat hujan turun pun dianjurkan untuk berdoa,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari).

 

  1. Bertabarruk dengan waktu yang disyariatkan

Dibenarkan mencari berkah pada bulan Ramadhan, bulan-bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjan, Muharram, dan Rajab), Lailatul Qadr, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, Jumat, sepertiga malam akhir, dan sebagainya. Dan cara mencari berkahna pun harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan Al-Qur’an.

 

Disadur dari Majalah Al-Falah Edisi April 2009

 

Baca juga:

Doa Minta Rezeki Halal dan Berlimpah Sesuai Sunnah | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Definisi Rezeki Berkah dalam Islam | YDSF

Cara Menghitung Zakat Profesi | YDSF

Membuat Nafkah Menjadi Berkah | YDSF

ZAKAT PENGHASILAN SUAMI-ISTRI BEKERJA | YDSF

Share: