UPDATE NEWS

...

Friday, 19 July 2019 10:00

Cara Membentuk Karakter Baik pada Anak Menurut Islam | YDSF

Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama pembentuk kepribadian anak. Keberhasilan pendidikan di keluarga menjadi pondasi karakter anak.

Imam al Ghazali berkata, “Anak adalah amanat di tangan kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu.”

Menumbuhkan Karakter Anak

Keluarga memiliki peran untuk menumbuhkan karakter anak. Hal itu bisa dicapai ketika keluarga mampu melakukan hal-hal berikut ini.

  1. Menampilkan suri teladan yang baik

Apa yang dilakukan oleh anak adalah hasil dari meniru orang terdekatnya. Rasulullah saw. bersabda,

ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺼَﺒِﻲٍّ ﺗَﻌَﺎﻝَ ﻫَﺎﻙَ ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻄِﻪِ ﻓَﻬِﻲَ ﻛَﺬْﺑَﺔٌ

Siapa saja mengatakan kepada anak kecil, ‘Kemarilah aku beri sesuatu.’ Namun dia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan” (HR. Ahmad).

Jika anak-anak melihat orangtua dan keluarganya berlaku jujur, maka mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Begitu pula sebaliknya.

  1. Mencari waktu yang tepat untuk memberikan nasihat

Ketika orangtua mampu memilih waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepada anak, maka akan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil nasihat yang diberikan. Ada tiga waktu yang tepat untuk memberikan nasihat kepada anak, yaitu:

a. Dalam perjalanan

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Abdullah bin Abbas yang masih usia sekitar 8-10 tahun tahun bercerita, “Nabi saw. diberi hadiah seekor keledai oleh Kisra. Beliau menungganginya dan memboncengku. Beliau menoleh dan berkata, ‘Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu…’” (HR. Tirmidzi).

 b. Waktu makan

Mendampingi anak untuk makan dan memberikan pengarahan serta mengajarkan anak tentang adab. Umar bin Abi Salamah ra bercerita. Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah saw. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan makanan.

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Rasulullah berpesan kepadaku, ‘Nak, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.’ Sejak saat itu, begitulah cara makanku” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Waktu anak sakit

Sakit dapat melunakkan hati yang keras. Anas bin Malik menceritakan seorang anak Yahudi yang sakit. Nabi saw. menjenguknya. Beliau duduk dan berkata kepadanya, “Masuk Islamlah.” Dia melihat ke arah bapaknya. Si bapak berkata, “Turutilah Abul Qosim (panggilan lain Nabi saw, Red).” Maka, dia pun masuk Islam. Nabi saw. pun berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

  1. Bersikap adil  dan  menyamakan  pemberian untuk anak

Nu’man bin Basyir pernah bercerita saat masih kanak-kanak bahwa bapaknya membawanya menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Sesungguhnya aku akan memberikan hadiah kepada anakku ini.

Rasulullah saw. bertanya, “Apakah seluruh anakmu engkau beri pemberian yang sama dengannya?

Dia menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.” Maka bapakku menarik kembali pemberian itu” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Menunaikan hak anak

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam diri anak dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima.

Rasulullah saw. pernah diberi minuman. Beliau minum. Sementara, di samping kanan beliau duduklah seorang anak dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?” Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Maka Rasulullah saw. meletakkan cawan itu dari tangannya (HR. Bukhari -Muslim dari Sahl bin Sa’ad).

  1. Tidak suka marah dan mencela

Sering memarahi anak hanya akan menjadikan anak semakin sulit diatur, apalagi memarahinya tanpa sebab yang jelas. Mencelanya juga menjadikan anak menjadi penakut.

Semasa anak-anak, Anas bin Malik menjadi pelayan Nabi saw. selama sepuluh tahun. Anas berkata, “Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku”. Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya” (HR. Ahmad)

  1. Mendoakan anak

Mendoakan anak adalah bentuk kasih sayang dan ketulusan orangtua dalam mendidik anak. Para nabi dan rasul memberi teladan untuk berdoa kepada Allah agar dianugerahi keturunan yang shalih.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Nabi Ibrahim berdoa  “wahai Rabb-ku, berilah aku keturunan yang shalih”. (QS. Ash Shaffat 100).

Baca Juga:

5 Hajat Asasi Manusia Menurut Islam | YDSF 

Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF

Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF

Makna Qurban dalam Islam | YDSF

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF

Hakikat dan Keutamaan Silaturahim

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF

Amalan Ringan Berpahala Besar | YDSF

Share: