UPDATE NEWS

...

Friday, 13 January 2017 12:00

Bermain dan Main-Main

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke sebuah masjid di wilayah Sidoarjo untuk sebuah program masjid ramah anak. Masjid ini dikenal dengan banyaknya jamaah anak-anak. Saat kami melaksanakan shalat maghrib dengan khusyuk, tiba-tiba tiga remaja di depan kami saling dorong satu sama lain. Dalam hati saya bertanya, mengapa remaja sebesar ini masih suka main-main dalam suasana dan aktivitas yang seharusnya dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Kemudian saya bandingkan dengan kedua anak yang sedang bermain badminton di depan rumah. Betapa seriusnya mereka, bahkan saat ada orang melintas di tengah permainan, mereka tampak kesal dan terganggu. Pendek kata, mereka sangat serius walaupun mereka sadar bahwa aktivitas yang mereka lakukan sekadar permainan.

Masa anak-anak adalah masa bermain, namun bukan berarti kita dilarang mengajarkan bersikap serius kepada mereka. Jika dalam aktivitas bermain mereka bisa serius, mengapa dalam hal-hal penting yang memerlukan konsentrasi dan keseriusan mereka tidak bisa serius?

Nah, kunci dari semua itu ada pada pembelajaran. Sejauh mana kita sering mendidik mereka untuk serius, sejauh itu pula mereka belajar untuk serius, missal dalam belajar, membaca Al Qur’an, shalat berjamaah dan lain-lain. Tentu kita harus mempertimbangkan rentang waktu seberapa lama mereka bisa serius dalam suatua ktivitas. Inilah yang dinamakan rentang konsentrasi. Misalnya saat mengajak anak shalat berjamaah, perlu diperhatikan rentang waktu dia mulai duduk di masjid hingga selesai shalat berjamaah. Saya sering mendapati sebuah masjid yang jarak antara azan dan akhir shalat begitu panjangnya sehingga memaksa anak-anak lebih lama bertahan di masjid.

Sementara kepada para remaja yang tampak kurang bisa serius atau suka main-main mengerjakan aktivitas yang seharusnya dijalani dengan serius dan khidmad, perlu treatment khusus. Kepada mereka perlu kita berikan pengertian agar mereka bisa membedakan mana aktivitas yang harusnya dijalani dengan serius atau main-main.

Tentunya, teladan diri kita adalah pendidikan terbaik buat mereka. Sebagai orang yang lebih dewasa adalah kewajiban kita memberi contoh terbaik. Bangun lingkungan yang mendukung mereka untuk melakukan aktivitas dengan sungguh-sungguh, dan mengingatkan mereka dengan baik saat mereka lalai.

Oleh : Miftahul Jinan
Direktur Griya Parenting Indonesia
Lembaga Training dan Konsultasi Parenting

Share: