UPDATE NEWS

...

Friday, 31 January 2020 08:00

Berita Online dengan Data Akurat Bersama Sapto Anggoro | YDSF

Saat ini media online (dalam jaringan/daring) menjadi media massa primadona. Betapa tidak, media daring menyuguhkan berita kekinian. Hanya dalam hitungan detik, peristiwa yang terjadi sudah bisa kita ketahui. Prosesnya pun sangat ringkas. Hanya memotret pascakejadian dan menuliskan hal-hal terkait kejadian.

Padahal dalam kaidah jurnalistik, sangat penting untuk menggali data dari pihakpihak yang terkait peristiwa. Misalnya data tentang dampak dari peristiwa. Kaidah inilah yang mulai hilang. Media daring sangat minim menyajikan data. Yang penting serbacepat dan serbakini. Jurnalisme media daring adalah jurnalisme yang asal mengundang klik, banyaknya halaman dibuka (page views), lepas dari konteks, dangkal, dan tidak enak dibaca. Bahkan tak jarang media daring menyebarkan kabar hoax (palsu).

Itulah yang mulai disadari A. Sapto Anggoro, pendiri dan pimpinan redaksi www.tirto.id. Sapto menyatakan banyak wartawan senior merisaukan hal ini. “Jika hanya mengandalkan kecepatan, maka bagaimana bisa menggali lebih dalam dan melihat lebih luas? Bagaimana bisa mendalami peristiwa jika hanya menulis berita hanya empat alinea? Nah, berangkat kekhawatiran inilah saya mendirikan tirto.id. Kami ingin menjawab keraguan ini. Kami mengusung jurnalisme berbasis data. Maka, jika Anda klik tirto.id tak hanya berisi berita saja, tapi berita berbasis fakta dan analisis data yang ditulis secara menarik dan dilengkapi infografik,” papar pria kelahiran Jombang, 4 Oktober 1966 ini.

Harus Langganan 360 Koran

Untuk menunjang keakuratan data, Sapto membeberkan bahwa timnya telah mengakses banyak data dari sejumlah lembaga riset. “Kami menjalin kerja sama dengan empat lembaga riset, ada yang dari dalam maupun luar negeri. Kami juga punya teknologi untu memantau grafik iklan dan berita dari televisi. Untuk media cetak, malah kami sampai harus berlangganan 360 koran dari seluruh Indonesia,” ungkapnya dalam sebuah diskusi di Surabaya Juni 2017 lalu.

Infografik dan videografik yang yang ditampilkan dalam tirto.id, sambung Sapto, sebagai bentuk jawaban terhadap kebutuhan gaya hidup generasi Z atau generasi yang disebut generasi Milenial. Generasi ini lahir sekitar 1981 sampai 1997. Generasi ini tidak bisa lepas dari ponsel pintar dan media sosial. Mereka ini lebih suka membaca berita dengan gambar (infografik) atau video. “Jadi, kami penuhi kebutuhan mereka dengan sajian kami. Jadi, generasi yang lebih tua pun bisa menikmati tapi generasi muda ini pun terjaring,” ujar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) ini.

Tak heran jika saat laporan ini ditulis, tirto.id termasuk tinggi tingkat pengunjungnya untuk ukuran situs yang baru setahun beroperasi. Menurut data, sekitar 273.649 pengunjung tiap harinya (per Mei 2017 dari visitordetective.com). Inilah salah satu hasil sentuhan Sapto.

Walau Sapto mengakui cukup banyak tantangan yang dihadapi. “Ketika ramai kasus Ahok, pihak kami mencoba menyeimbangkan data dari para pasangan calon (paslon) gubernur Jakarta. Kami mencatat sejumlah detil data masing-masing paslon. Pasti ada yang merasa tidak terima. Tapi kami hanya menampil data yang akurat. Semua sudah kami jelaskan sumbernya secara gamblang. Alhamdulillah, sampai hari ini kami tetap menjaga hubungan baik mereka semua yang terlibat pilkada Jakarta,” akunya.

“Kami juga berupaya bersikap ksatria. Kami pernah menampilkan data yang salah. Kami akui, lalu meminta maaf dan melakukan koreksi atas kesalahan itu. Sehingga semua selesai saat itu juga,” lanjut Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2012-2015 ini.

Bukan Orang Baru Di Media

Kiprah Sapto di tirto.id ini bukan hal baru. Sepertinya Sapto salah satu tokoh media yang komplit. Hampir semua jenis media massa telah ia geluti. Ia mengawali karirnya di Surabaya Post pada era 1980an. Kemudian dia melanjutkan karir sebagai wartawan olah raga di Berita Buana Jakarta. Itu hanya bertahan setahun sebelum media cetak itu gulung tikar.

Sapto pindah lagi ke harian Umum Republika namun tetap sebagai wartawan olah raga. Liputan langsung Piala Dunia 1994 dan Olimpiade Atlanta 1996 menjadi puncak prestasinya kala itu. Kemudian ia menerima tantangan untuk menjadi wartawan media daring di detik.com di awal berdirinya (1998).

“Saya merasa bahwa teknologi akan terus berkembang. Makanya saya terima tawaran di detik.com meski posisi di Republika sudah cukup bagus,” tuturnya.

Hampir semua posisi penting di detik.com telah dia isi. Jiwa petualangnya kembali muncul. Kemudian ia ikut mendirikan merdeka. com serta merintis PANDI, perusahaan jasa penyedia nama situs Indonesia (id registry). Di bidang sosial, Sapto mendirikan Padepokan ASA untuk anak muda di Gedongan Lor, Desa Wedomartani, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.

 

Sumber Majalah Al Falah Edisi Agustus 2017

 

Baca juga:

UMMAT ISLAM, UMAT YANG TERBAIK

Hikmah Terjadinya Bencana Dan Menolong Sesama | YDSF

Karakteristik Para Hamba yang Dicintai Allah  | YDSF

HUKUM BAYAR ZAKAT ONLINE DALAM ISLAM

Doa Minta Rezeki Halal dan Berlimpah Sesuai Sunnah | YDSF

Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah | YDSF

Zakat dalam Islam | YDSF

Share: