UPDATE NEWS

...

Wednesday, 7 August 2019 10:00

Berdakwah di Pinggiran Jombang melalui Qurban YDSF

“Setahun sekali Pak, bisa makan daging,” ucap  jamaah taklim Ustadz Arifin. Ia harus menempuh perjalanan puluhan kilometer, hingga melewati jalanan tandus di tengah hutan untuk mendapat pembagian daging hewan Qurban dari YDSF. Maklum, jamaah taklim Ustadz Arifin di daerah pedalaman.

Ustadz Arifin tinggal di Kecamatan Jombang. Ia harus menempuh jarak sekitar 30—50 kilometer untuk mencapai lokasi dakwahnya. “Akses jalan sulit, apalagi kalo hujan,” tuturnya. Bahkan ada desa yang tidak bisa diakses dengan sepeda motor. Jika mau menyalurkan Qurban sepeda motor harus digotong.

Ustadz Arifin adalah Dai YDSF yang ditugaskan untuk Kabupaten Jombang. Tepatnya di sebelah timur-utara sungai Brantas. Ada lima kecamatan yang bisa dibilang tertinggal. Kecamatan  Kudu,  Kabuh, Ngusikan, Ploso, dan Plandaan.

Kelima kecamatan tersebut berada di pinggiran Kabupaten Jombang. Mayoritas warga di Kecamatan Kudu dan Ngusian berprofesi sebagai perajin tikar dari anyaman daun pandan. Sehari mereka bisa membuat satu atau dua unit tikar. Satu tikar dijual ke pengepul.

Sedangkan masyarakat Kecaman Kudu membuat gerabah. Tidak semua masyarakat punya sawah, kebanyakan mereka buruh tani. Dengan kondisi seperti itu, tidak banyak masyarakat yang mampu berQurban.

“Orang sana jarang sekali Qurban, kadang satu kambing untuk satu desa, dapetnya ya tidak seberapa. Kami bisa membagi lebih banyak jika mendapat Qurban dari YDSF,” kata Ustadz Arifin.

Demi memastikan hewan Qurban disembelih dengan baik dan benar, Ustadz Arifin menyembelih sendiri. Baru para jamaah mengambil. Biasanya penyembelihan mengambil lokasi di tengah-tengah desa sasaran. Warga menyambut baik pemberian Qurban dari YDSF, walaupun harus menempuh jarak puluhan kilometer  untuk mengambil Qurban. Bahkan ketika mendekati Idul Adha warga sudah mulai menanyakan pembagian daging Qurban dari YDSF.

Karena wilayah dakwahnya yang luas, maka tidak semua jamaah “Tidak setiap tahun mereka dapat Qurban. Ada desa-desa yang tidak ada Qurban sama sekali,” terang bapak tiga anak ini yang mendapat bagian setiap tahun.

 Jika sudah ada yang berQurban, maka akan dialihkan ke jamaah yang belum ada Qurban. Ustadz Arifin sudah memberikan penjelasan kepada jamaahnya terkait hal ini.

Selain dari YDSF, Ustadz Arifin juga mencari tambahan Qurban kepada sanak famili dan koleganya untuk dibagikan ke desa-desa di wilayah dakwahnya yang tidak ada Qurban.

 

Hal senada juga dialami oleh Dai YDSF lainnya, seperti Ustadz Dhofar. Ia juga bertugas di daerah yang mayoritas menengah kebawah. Mayoritas warga Kecamatan Ploso dan Kecamatan Plandaan buruh tani atau petani.

Gerakan kristenisasi gencar digalakkan di sana. Merespon itu, maka salah satu strategi dakwahnya adalah dengan membeli tanah di samping gereja untuk dijadikan pusat kajian Islam.

Sering kali Ustadz Dhofar mendatangi jamaahnya yang dirasa mampu untuk berQurban. Ia juga mengajak jamaahnya untuk menabung dalam arisan Qurban, tetapi tidak berhasil ia terapkan. Malah arisan Qurban ini berhasil ia terapkan di lingkungan rumahnya.

Ustadz Dhofar tinggal di Desa Badas, Kecamatan Sumobito, Jombang. Sebagai Dai YDSF ia telah banyak menerapkan program YDSF di lingkungan rumah dan desa binaannya. Masjid dekat rumahnya telah mendapat bantuan karpet dari YDSF.

Guru-guru ngaji di desa binaannya juga diikutkan program THR Guru Ngaji YDSF. “Jamaah saya ada beberapa yang punya TPQ, tetapi tidak digaji” terangnya. (Habibi)

 

Baca Juga :

Tingkatkan Semangat dan Nilai Berqurban | YDSF

Makna Qurban dalam Islam | YDSF

Bahagia dengan Gemar Berbagi | YDSF

Hikmah Pendidikan Dibalik Keyatiman Rasulullah | YDSF

5 Hajat Asasi Manusia Menurut Islam | YDSF 

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim | YDSF

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur | YDSF

Menyambung Silahturahmi yang Terputus | YDSF

Hakikat dan Keutamaan Silaturahim

Membangun Kebersamaan dengan Silaturrahim | YDSF

Amalan Ringan Berpahala Besar | YDSF

Share: