UPDATE NEWS

...

Thursday, 7 November 2019 08:00

Begini Cara Anak Memuliakan Orang Tua | YDSF

Berbakti dan memuliakan kepada orangtua merupakan bagian dari cara Allah mendidik kita menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas. Saya meyakini, Allah menakar apa yang paling dalam dari diri seseorang. Bukan apa yang tampak.

Orangtua kita berjasa sangat besar dalam membesarkan kita. Dan sebagai seorang anak, bila diberi kesempatan untuk menunjukkan bakti kepada orangtua selama beberapa tahun di usia senja mereka, rasanya masih kurang. Bahkan sangat kurang.

Padahal sewaktu masih kecil, saya juga sempat merasakan berontak dan tidak cocok dengan didikan ayah yang disiplin. Ayah memang dikenal sangat disiplin, tertib dan relijius. Tapi ketika sudah dewasa, dan saya melakukan flash back mengenang masa kecil, saya mengakui bahwa yang dilakukan itu adalah cara beliau menjaga saya.

Orangtua berperan menanamkan pondasi atau peletak dasar pertama sebagai pendidik anak. Kesan itu sangat melekat di ingatan saya. Dan itulah yang dilakukan ayah. Beliau melatih kami untuk berani bertemu orang lain, dan berani berbicara di depan umum.

Ayah kami sehari-harinya bekerja di bagian keuangan di sebuah sekolah di Bangkalan. Beliau juga sering diundang untuk berceramah. Saya dan ayah seperti paket two in one. Kalau yang ceramah ayah, saya bagian baca doa. Di rumah, kami juga dilatih ceramah, setiap anggota keluarga mendapatkan giliran. “Kalau tidak dari rumah, dari mana lagi?” Begitu selalu yang dikatakan ayah untuk menyemangati kami belajar.

Saya ingat sejak umur 6 tahun, selalu dibangunkan setiap malam dan diajak untuk sholat tahajjud bersama. “Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud. Apapun kesulitanmu, kalau shalat tahajjudmu bagus, Insya Allah akan ada kemudahan,” begitu pesan beliau.

Kebiasaan yang lain adalah tiga kakak laki-laki saya, selalu dibangunkan untuk diajak ke masjid dekat rumah untuk sholat subuh. Mereka dilatih untuk adzan. Masing-masing pasti mendapatkan giliran adzan. Jadi sambil mengantuk, mereka tetap berusaha adzan sebisanya.

Allah Maha Mencukupkan

Suatu hari pada 2007, ayah sakit stroke selama delapan tahun. Ayah yang terbiasa aktif dengan berbagai kegiatan, terlihat sangat tidak nyaman dengan kondisi sakitnya. Setiap hari, saya bersama ibu merawat ayah. Kami berusaha membuat ayah benar-benar nyaman dengan diri beliau. Kami selalu hadir untuk beliau. Kami selalu bercerita tentang apapun.

Perlahan, ayah bisa menerima sakit beliau. Saya belajar dari perawat, bagaimana cara yang benar untuk memperlakukan pasien stroke yang benarbenar harus stay on bed. Kami tidak ingin ayah merasa nelangsa dengan kondisi yang dialami. Kami berempati kepada beliau. Kami mengatur kamar menjadi senyaman mungkin. Kamar jangan sampai lembab dan berbau. Seperti di rumah sakit.

Alhamdulillah, saya mendapat nasihat dari seorang panutan saya. Beliau mengatakan, “Bila kita sudah berada di jalan yang benar, yakinlah Allah akan mempertemukan dengan orang yang akan mendukung dengan baktimu itu.” Mendengar nasihat tersebut, saya meyakinkan hati. Bahwa dengan merawat orangtua, Allah akan menghadirkan pasangan yang dengan rela hati mendampingi kita untuk merawat orangtua kita.

Sungguh, Allah Maha Besar telah mempertemukan saya dengan seseorang yang selalu ada dan mendukung untuk merawat orangtua saya. Sebelumnya, sempat ada kekhawatiran bila menikah, pihak suami akan mengharuskan saya untuk mengikuti beliau. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana bila itu terjadi dan ibu harus merawat ayah yang terkena stroke seorang diri. Setelah ketiga kakak menikah, hanya saya yang tinggal bersama kedua orangtua kami.

Apa yang kita tanam Insya Allah akan kita tuai. Bakti kepada orangtua merupakan bagian dari cara kita meraih surga Allah. Allah Maha Tahu kadar kemampuan kita, tidak akan membebani kita melebihi kemampuan kita.

Energi cinta harus selalu ditularkan kepada anak kita bahwa orangtua harus dicintai. Karena orangtua telah mencintai kita tanpa syarat. Itu harus kita kenalkan kepada anak-anak kita. Dan kelak, semoga menjadi inspirasi untuk keturunan saya bagaimana memberikan cinta yang terbaik kepada orangtua.

Bakti kepada orangtua adalah bagian dari perwujudan cinta kita. Sebagaimana kita ketika dicintai, diperjuangkan, diikhtiarkan membuat kita bahagia. Begitu pula dengan orangtua. Ketika melakukan kita memperjuangkan mereka juga membahagiakan mereka. Kurang lebihnya orangtua harus kita maafkan, kita terima dengan ikhlas. Tidak ada manusia sempurna. Karena, orangtua yang berpegang pada kitabullah pasti menginginkan dan merencanakan kebaikan untuk anaknya. Hanya saja caranya kadang tidak semua cocok. Pada kondisi demikian, yang harus kita lakukan adalah memaafkan. Karena sudah cukup niat mereka yang benar.

Dahulukan bukan Sisihkan

Bila sudah bekerja, kita harus memberikan sebagian penghasilan. Bukan menyisihkan, tapi mendahulukan untuk memberikannya kepada orangtua. Orangtua dulu tidak pernah merasa berat ketika membesarkan kita. Dengan rutin memberikan kepada orangtua merupakan cara melatih kita untuk tidak melupakan jasa baik orangtua. Yang perlu kita ingat, bukanlah perkara jumlah atau nominalnya. Yang penting adalah bentuk perhatian yang kita tunjukkan. Jangan khawatir, Allah yang akan mencukupkan kebutuhanmu. Allah yang akan mencarikan jalan keluar. Sungguh, tidak pernah habis kerinduan orangtua untuk anaknya.

*Kisah di atas adalah nyata, seperti dituturkan Fulanah kepada Al Falah (dina)

 

Baca juga:

Mengasuh Anak Generasi Milenial | YDSF

Bersedekah untuk Yatim

Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF

Televisi Bukan Teman Anak

Sedekah Online, Mudah di YDSF

Parenting Islami: Cara Mendidik Anak Agar Bahagia | YDSF

Inilah 4 Cara Mendidik Anak Menjadi Pahlawan Secara Islami | YSDF

Share: